Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
13. Film Blue?


__ADS_3

Damar sedang di dalam mobil dan mengemudikan nya menuju kantor yang berada di dalam sebuah pusat perbelanjaan ternama.


"Haduh, nih rambut belum juga kering, mau di hair drayer dulu tadi kelamaan, mana sudah mau sampai kantor. Kalau ketemu Linggar dan dia sadar. Habis lah aku di ledekin."


Damar tertawa kecil sembari mengusap-ngusap rambut nya yang masih klimis, Damar terpaksa mandi janabah terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor nya kembali, setelah sukses di bekali kenang- kenangan bahagia oleh Allana.


"Lana!" gumam Damar. Ia Ingat saat belum lama ini Allana memaksa untuk membuat nya pipis( kata Allana).


Damar menolak mentah-mentah pada awalnya. Ia merasa jijik dengan kelakuan Allana. Namun tetap saja pada akhirnya ia menyerah hingga di dapat lah sebuah kepuasan akhir main panas-panasan dengan Allana siang itu.


Namun setelah nya, Damar di buat merasa bersalah pada Allana, seakan Damar memperdaya anak kecil demi kepentingan nya. Padahal Allana yang memaksa nya.


Satu hal lagi, yang Damar tidak mengerti, mengapa Allana yang polos bisa berfikir ke arah situ dan sepertinya sudah lihai sekali dalam adegan dewasa. Padahal Jelas-jelas Allana mengaku, bahwa baru dirinya lah yang menyentuh nya.


"Neng! Papa hendak bertanya, jangan marah dan Papa mohon jawab yang jujur yah!" ujar Damar, setelah meredam tubuh nya yang memanas akibat di buat panas oleh Allana.


"Baik Pah, silakan!" tukas Allana dengan berbaring bertelungkup di atas tubuh Damar dengan pakaian Damar yang sudah tak rapi dan acak-acakan karena di rampok Allana.


Rampok? yah rampok! rampok Allana. Damar telah kehilangan kesucian nya, Allana telah merampok keperjakaan Damar secara paksa siang itu.


Sebelum bicara, Damar bangkit dan duduk di sisi tempat tidur dengan Allana tidak lepas menempel pada tubuh nya.


"Neng! kamu koq bisa selihai dan pandai sekali melakukan hal menjijikkan itu, belajar dari mana? atau ....?" tanya Damar.


"Atau? Lana pernah melakukan hal itu sebelum nya? Papa! apakah Papa masih sangsi, terhadap Lana?" tanya balik Allana bernada kesal dan bangun dari tubuh Damar.


"Tunggu Neng sayang! jangan marah. Maka nya Neng jawab dong, belajar hal menjijikkan itu dari mana?" tanya Damar lagi.


"Dari Video yang para pemain nya gak pakai baju Pah, Lana hanya mempraktekkan nya pada Papa! Lana ingin membuat Papa senang! pemain cowok yang di film itu juga seperti nya senang pas akhir nya dia pipis. Sama itu Pah, cewek nya lucu deh Pah, dia teriak-teriak terus, padahal cowok nya baik kayak Papa.Tapi cowok itu sun cewek nya di itu nya." Jawaban jujur nan polos Allana.


"Koq menjijikan? bukan kah Papa menyukai nya?" sambung Allana dengan bertanya.


"Astagfirullah! kamu nonton video begituan di mana dan dengan siapa?" tanya Damar seolah tidak percaya. "Entahlah, Papa juga bingung, tidak munafik !Papa terbuai, walaupun tetap menjijikkan!"


"Tuh Papa suka kan?" tanya Allana. Damar tidak menjawab nya.


"Dari mana Neng?" tanya Damar kembali.


"Dari ponsel Papa!"


"What? Neng. Papa tidak pernah menyimpan film begituan apalagi di ponsel. Lihat dari gif kiriman di grup saja Papa jijik." Ucap Damar dengan nada terkejut.


"Tapi, semalam Lana nonton film itu di ponsel Papa." Akunya Allana dengan jujur.


"Papa tidak mengerti. Koq bisa, kamu nonton film blue di ponsel Papa. Memang nya ada di file yang mana?" tanya Damar lebih teliti lagi. Pasal nya ia tidak pernah menyimpan film seperti yang Allana katakan.


"Film blue? tapi film nya berwarna Pah, tidak biru dan kira-kira, kalau Papa sun Lana sampai sini? (menunjuk inti syahwat nya) apa Lana akan berteriak juga ya Pah?" tanya polos nya lagi.


"Astaghfirullah'aladzim, Neenng!" Damar tepuk jidat dan beristighfar berkali-kali.


"Walaupun gambar nya berwarna. Namun sebagian orang menyebutnya film blue. Sudah! coba jelaskan pada Papa, bagaimana, Lana bisa nonton film itu di ponsel Papa?" tanya Damar kembali.


"Semalam, ketika Papa sudah terlelap, tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk di telegram. Lana penasaran itu dari siapa? maka Lana buka, awalnya Lana fikir ponsel nya di kunci, ternyata tidak! Lalu ...." Allana berhenti bicara.


"Lalu, apa sayang?" tanya Damar dengan menyelidik.

__ADS_1


"Ketika Lana buka, ternyata seseorang mengirimkan video. Awal nya Lana juga hanya ngintip, tapi penasaran. Apalagi Lana baru melihat film yang artis nya gak pakai baju. Ya sudah Lana lihat saja hingga selesai dan Lana putar berulang kali. Lana ingin faham bagaimana cara menyenangkan Papa saat Papa pipis seperti aktor cowok nya." jawab jujur Allana


"Astagfirullah! maafkan Papa sayang." Damar memeluk erat Allana. Sedih, kesal, sesak itu yang Damar rasakan, ia menyesali mengapa Allana harus menonton video menjijikan itu.


Damar membuka ponsel nya, ia hanya ingin memastikan siapa yang mengirimkan Video tersebut. Namun tidak ada kontak yang mengirimkan Video tersebut.


"Neng, apa video nya kamu hapus?" tanya Damar. Allana hanya mengangguk cepat.


"Heeemmm .... Coba kamu tunjukkan, Kontak mana yang telah mengirimkan video tersebut." Pinta Damar.


"Papa marah yah?"


"Tidak sayang, tidak! namun Papa harus tahu, orang yang mana, yang telah mengirimkan video tersebut." Ucap Damar.


Allana pun mencoba mengingat, kontak yang mana, lalu ia men scroll layar ponsel Damar.


"Ini Pah!"


"Erlan? koq bisa?" dahi Damar mengkerut, tanda ia berfikir keras. Lalu ia mendial kontak tersebut.


"Siapa Pah?" tanya Allana.


"Orang gudang."


Tidak berapa lama, ia bicara dengan kontak tersebut.


"Lan, maaf! apa semalam kamu kirim Video ke akun saya?"/ Damar.


"Maaf Pak Damar, semalam ponsel saya di pinjam teman, dia salah kirim katanya. Saya hendak meminta maaf, tapi Pas saya sampai tadi, Pak Damar tidak ada di ruangan." / Erlan.


"Sama-sama Pak Damar! mohon maafkan keteledoran teman saya Pak!" /Erlan.


"Aaarrggghh!" Damar melempar ponsel itu dengan sembarang setelah memutuskan sambungan telepon.


Damar menjambak rambut nya sendiri, nafas nya mulai tidak beraturan. Ia amat menyesali atas video tersebut. Ia merasa berdosa pada Vianny. Karena telah teledor menjaga Allana. Damar terisak. perasaan nya amat sesak saat ini.


"Papa, Papa, maafkan Lana! Papa jangan nangis. Lana hanya ingin Papa senang." Pinta Allana dengan memohon. Allana faham apa yang sedang terjadi dengan Damar saat ini. Allana memeluk Damar dan mengusap lembut bahu nya.


"Terima kasih. Ingat yah, Lana tidak boleh melihat video yang seperti itu lagi. Neng, Video yang begitu itu bahaya! salah satu nya dapat merusak sel otak, itu juga salah satu penggugur Iman. Ponsel Papa memang tidak akan Papa kunci Kalau di rumah, agar Lana dapat mengakses nya dengan mudah. Namun tolong, jika ada hal ganjil masuk ke ponsel Papa, baik pesan atau telepon. Lebih baik Neng abaikan." Ujar Damar.


Damar menempel kan dahi Allana dengan dahinya. "Maafkan Papa telah lengah menjaga Lana." penyesalan mendalam dari Damar.


"Lana pun mohon maaf Pah! Lana sudah lancang." ucap Alana


"Sudahlah sayang. Izinkan Papa merampungkan masa berkabung dengan Mama, setelah nya kita akan mulai menjalani pernikahan kita. Papa Ingin segala nya terjadi dengan alami dan tidak terburu-buru. Neng faham kan?" Damar berbicara dengan berbagai pengertian.


"Baik Pah! tapi bagaimana perasaan Papa setelah pipis?" tanya polos Allana.


"Astaghfirullah ABG! rasanya aneh, hihi tapi bahagia.Terima kasih Neng sayang!" jawab Damar salah tingkah.


"Kalau Papa ingin lagi, Lana bersedia koq!"


"Neng! ih menjijikkan! sudah Papa hendak mandi, Papa harus segera di kantor, masih banyak pekerjaan." tukas Damar.


"Cieee Papa malu-malu mau!" ledek Allana. Namun Damar yang merasa malu ia segera masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Huuff.... Lana .... Lana! akibat kepolosan dan niat baiknya. koq aku malah merasa jadi orang bodoh begini, hihi." Gumam Damar.


Setelah beberapa waktu, Damar pun sampai di kantor nya.


"Mar, Mar tunggu!"


"Hai Ling."


"Lo kemana sih? gue nyariin lo tadi, pergi gitu aja lagi," tanya Linggar, sahabat nya dari SMP hingga sama-sama kuliah di Jakarta dan kebetulan mendapatkan pekerjaan di tempat yang sama. Damar sebagai manager umum dan Linggar sebagai Supervisor.


"Sorry men! gue terburu-buru jemput anak gue!" jawab jujur Damar.


"Anak, yang sekarang jadi Istri lo?" tanya Linggar mengikuti langkah Damar yang masuk ke dalam kantor nya. Kantor Damar berada di lantai paling atas pusat perbelanjaan itu, begitu pun dengan kantor Linggar, hanya berbeda ruangan saja.


"Ya begitulah men!" Damar senyum-senyum sendiri.


Linggar yang memperhatikan Damar pun faham apa yang Damar alami. Karena Linggar sudah menikah dan memiliki dua anak.


"Basah nih! ke hujanan di mana men? padahal cuaca cerah lokh!" ledek Linggar.


"Hujan lokal Men! ahahahah."


"Lo udeh gak virgin dong?"


"Apa sih Lo. Sana balik ke ruangan Lo!" usir Damar.


"Mar .... Mar! kawin ama ABG rasanya bagaimana sih?" tanya Linggar tanpa tedeng aling-aling.


"Wah parah Lo! Sana, lama-lama Lo jadi netizen!"


"Ahahaha.. ok gue balik ke ruangan! eh jangan lupa, dua Minggu lagi, kita akan tanding di SMA 113!" ucap Linggar sembari berjalan ke arah pintu.


"Ling, SMA 113 simpangan?" tanya Damar.


"Iya, mana lagi di sini. kita tanding gabungan persahabatan antar alumni dan Siswa situ." jawab Linggar.


"Lokh kita kan bukan alumni mereka!" Ujar Damar.


"Random pemain berbakat, sebagai bintang tamu."


"Ouh ok .... itu tempat Allana sekolah," ucap Damar.


"Wah Anak lo keren juga bisa sekolah di situ."


"Iyalah, Anak gue pintar, makanya juara terus doi tuh!" puji Damar.


"Pantes aja Lo udah senyam senyum terus, Anak Lo juga pintar di ranjang ya?"


"Linggar! sekali lagi ngomong jorok, gue pecat lo!" ancam Damar.


"Ampun Bos! kalau aye gak kerja, Anak, Bini aye mau makan apa?"


"Urusan Lo!" Damar mengekeh.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2