
Pukul delapan malam.
"Ya ampun, sudah satu jam. A Damar koq belum muncul juga." Gumam Allana sembari menatap jam pada ponsel nya.
Allana kini sudah berada di sebuah restoran yang Damar pesan. Kotak kecil berpita yang berisikan photo hasil USG dan dua buah testpack bukti bahwa Allana hamil. Sudah Allana persiapkan sebagai kejutan untuk Damar.
Senyum kebahagiaan Allana tidak juga luntur dari sejak ia tiba dan duduk di bangku restoran. Allana sedang membayangkan tingkah lucu Damar ketika melihat hasil USG dan tahu ia akan segera menjadi seorang Ayah.
**
"Haduh telat satu jam," gerutu Damar pelan, ketika melihat arloji nya yang melingkar pada pergelangan tangan kiri nya.
Damar harus menyelesaikan dulu urusan di bagian gudang. Kesalahan orang gudang menempel price pada brand tertentu yang berbeda, dengan harga berbeda pula.
Maka dari itu Damar harus memastikan brand tersebut sudah di ganti kembali dengan harga yang aman sesuai dengan harga yang di ajukan, sebelum di pajang pada bagian etalase Mall, agar tidak ada kesalahan fatal untuk kedepannya.
"Sayang! maafkan A'a, semoga kamu masih sabar menunggu," gumam Damar sembari melajukan motornya, di bawah gerimis.
Jakarta memang di guyur hujan dari pagi hingga sore pada hari itu dan malam ini, masih menyisakan gerimis yang berkepanjangan dan sepertinya enggan berhenti.
Damar masih mengendarai motor nya. Ia melaju dengan kecepatan di atas rata-rata karena jalan lengang. Namun Damar tetap hati-hati. Bucket bunga ia persiapkan untuk Allana yang ia ikat rapi pada jok belakang di dalam plastik.
Namun di persimpangan jalan. Kecelakaan rupanya harus terjadi. Sebuah truk melaju kencang sedangkan dari arah persimpangan sebuah mobil juga sedang melaju kencang, seperti nya mereka telat nge rem, tabrakan tidak terelakan.
Dugh!
Duar!
Suara nyaring, mobil mini bus menabrak samping truk dan Damar yang melihat kejadian kecelakaan di depan matanya, ia sigap membelokkan motornya ke arah kanan.
Tujuan nya agar ia tidak terlibat tabrakan dengan mobil truk dan minibus. Namun naas sebuah mobil yang awal nya tidak nampak, kini sedang melaju kencang dan secara tidak sengaja menabrak motor Damar.
Dug.
Sreeettt!
Damar oleng dan motor pun menyeret dirinya sebelum terhantam sebuah taxi yang melintas di perempatan jalan.
Tubuh Damar terpelanting ke arah trotoar Jalan. Dug! pinggang Damar menghantam sisi trotoar.
"AllahuAkbar!
__ADS_1
kejadian tersebut begitu cepat. Setelah mengucapkan kalimah Allah, Damar merasa gelap lalu tubuhnya ambruk di sisi trotoar.
Motor yang dikendarai Damar terpelanting jauh dan kini tergeletak di tengah jalan. Keadaan Motor itu tidak begitu parah. Namun bucket bunga yang di persiapkan untuk Allana berhamburan dan memenuhi sepanjang jalan simpangan tersebut. Membuat siapa saja yang melihat nya akan merasa pilu.
Mendengar ada kejadian kecelakaan, warga yang tinggal di dekat persimpangan pun mulai berhamburan untuk melihat kejadian tersebut. Begitu pun para pengendara yang lain, mulai turun untuk melihat kejadian. Setelahnya Mereka pun ada yang menelepon polisi dan Ambulans.
***
Pukul sepuluh malam.
Allana masih menunggu Damar, keadaan restoran sudah sangat sepi. Namun yang di tunggu belum juga datang. Jarak dari restoran dan kantor Damar hanya dua puluh menit sebetulnya.
Allana sudah berkali-kali menelepon Damar, namun tidak ada jawaban. Hingga seorang pelayan restoran pun datang menghampiri Allana yang meminta maaf karena restoran harus tutup.
"Maaf Kak! restoran akan segera tutup." Ujar nya.
"Oh begitu! tidak bisakah saya menunggu sebentar lagi, saya sedang menunggu suami saya." Pinta Allana.
"Baik! sepuluh menit, Kakak dapat menunggu sembari kami berbenah." Ucap si pelayan restoran. Ia masih memiliki hati nurani rupanya.
**
"Heeem! kamu kemana sayang? tidak ada kabar, selain tadi sore Ketika A'a bilang masih ada kerjaan." Allana menghela nafas nya pelan.
Setelah sampai rumah, keadaan rumah nampak sepi dan lampu rumah pun masih gelap, tadi Allana berangkat ke restoran dari rumah Kinanti.
"Huff! seperti nya, A'a belum pulang," Allana turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah.
"Apa lembur lagi seperti tempo hari, karena ada barang yang baru datang dan harus melalui pengecekan hingga pagi. Tapi A Damar akan menjemput ku untuk ikut ke kantor nya." Allana berbicara sendiri. Setelah meletakkan tas nya di atas meja, Allana pun bergegas ke dapur untuk mengambil air minum.
Setelah minum, Allana pun hendak masuk ke kamar nya untuk bersih-bersih dirinya. Namun gelas yang ia letakkan di atas meja makan itu tersenggol lalu jatuh.
Prang!
"Astaghfirullah'aladzim." Allana pun terkejut. "Maaf ya sayang, Mama terkejut." Allana mengelus perut nya.
"Perasaan apa ini?" tanya Allana kepada dirinya. Karena hatinya merasa bergetar ngilu, tidak seperti biasanya, normal.
Hingga pukul satu malam, tidak ada kabar dari Damar. Allana makin khawatir di tambah hujan deras kembali mengguyur pemukiman perumahan tempat tinggal Allana.
Allana mondar mandir di ruang keluarga. Ia mencoba menelpon ke kantor Damar, tidak ada yang menerima.
__ADS_1
"Kak Linggar!" ucap Allana, ia hendak menelpon Linggar, namun sebelum sempat menelpon, suara bel terdengar berbunyi nyaring. "A'a!" pekik bahagia Allana.
"Ma-maaf Anda bertiga siapa?" tanya Allana kepada ketiga orang pria di depannya. Setelah ia membuka pintu hanya sebagian kecil, karena Allana tetap harus waspada. Namun bukan Damar yang ia lihat.
"Kami dari pihak kepolisian. Apa betul ini rumah saudara Damar Alfian?" tanya salah seorang pria itu. Sebelum nya ia mengeluarkan sebuah lencana kepolisian, karena mereka tidak menggunakan seragam.
"Be-betul Pak! Damar itu suami saya! apa yang terjadi dengan suami saya Pak?" tanya Allana dengan perasaan sudah tidak keruan.
Ketiga Polisi pun saling pandang. Seperti nya mereka tidak yakin akan apa yang mereka hendak katakan.
"Pak! tolong katakan, apa yang terjadi dengan suami saya?" desak Allana kembali.
"Suami Anda, mengalami kecelakaan!" ucap polisi lain nya.
"Ke-kecelakaan?" Allana mundur dengan pintu terbuka lebar. "Tidak Pak! tidak! Sayang?!"
"Katakan ini bohong Pak?" ucap Allana. Bayangan akan kecelakaan yang terjadi pada Vianny muncul begitu saja.
"Kami tidak bohong. Ini betul adanya, suami Anda sudah berada di rumah sakit," jawab polisi satunya.
"Bagaimana keadaan nya Pak?" tanya Allana kembali, hanya ingin memastikan.
Para polisi kembali saling pandang. Satu orang polisi segera angkat bicara. "Tadi, sempat di nyatakan meniggal."
"Astaghfirullah'aladzim!"
"Inalillahi. Ini bohong kan? tidak mungkin! A'aaaaaa! lalu bagaimana dengan anak kita?" Allana histeris. "Mengapa aku harus kembali kehilangan orang yang berarti dalam hidup, orang yang aku cintai."
Allana menangis histeris. Tubuh nya terasa tidak memiliki daya apapun lagi. Kini ia bersimpuh di lantai dengan tangisan. Tangan kanan nya memegangi perut dan mengusap nya dengan perlahan dan bergetar.
"Sayang! Mama harus kuat demi kamu. Mama tidak sediri. Masih ada kamu, buah cintanya Papa dan Mama. Tumbuhlah Nak! lahirlah ke dunia dan temani Mama." gumam Allana dengan getar tubuh yang terkejut dan juga getar tangisan pilu.
"Aku yang hendak memberikan kejutan, mengapa malah terkejut. A Damar! kemana lagi Lana mencari perlindungan dan dekapan kasih sayang, seandainya kau betul-betul pergi?"
Para polisi masih berdiri di ambang pintu, mereka tidak tahu harus berbuat apa, ketika melihat Allana histeris dan nampak begitu terpukul.
"Saudari sebaik nya membawa pendamping, mari ikut kami ke rumah sakit." Pinta polisi.
"Saya sebatang kara Pak! hanya suami saya pendamping yang saya miliki." ucap lemah Allana.
Ketiga polisi pun tertegun dan merasa iba mendengar pernyataan Allana.
__ADS_1
Bersambung ....