
Allana sedang bersiap-siap hendak menghadiri acara prom night
"Sudah siap sayang?" Suara keras Damar dari luar kamar rias sebuah salon kecantikan.
"Sebentar lagi Pah!" sahut keras Allana pula dari dalam. "Baik! Papa menunggu di depan."
"Iya Pah!"
Detik berganti menit, jam pun berlalu meninggalkan putaran nya. Kini Allana sudah siap.
"Kak, tolong panggilkan Papa ku, agar menjemput ku di depan pintu." Pinta Allana pada Asisten perias.
"Oke! Eikye panggil sebentar yah! ih gak nyangka, lekong ganteng gitu sudah punya anak perawan." ucap orang yang di panggil Kakak oleh Allana dengan nada bicara mengayun dan gerakan tubuh gemulai seperti tertebak angin.
"Ma'e Ences udeh sana! panggil Papa nya nih Anak." Usir si Tante perias.
"Ok lah madam!" si Ences pun berlalu dari ruangan tersebut dengan langkah yang gemulai.
"Maaf yah! Ences orangnya memang suka kepo!" ujar Tante perias.
"Oh gak apa apa koq Tante." ucap Allana dan tersenyum manis.
Tak berapa lama Ences pun kembali dengan Damar. "Sudah selesai sayang?" tanya Damar sembari masuk ke dalam ruangan make-up.
Damar yang sudah rapi pun, tertegun melihat penampilan Allana. Ia hanya mampu tersenyum kagum.
"Sudah Pah!" jawab Allana.
"Mari!" ajak Damar. Allana pun mengiyakan. Setelah berucap terima kasih kepada Ences dan Tante perias. Damar dan Allana pun menuju mobil sembari bergandengan tangan.
"Silakan princess nya, papa!" ucap Damar setelah membukakan pintu mobil untuk Alana.
"Terima kasih Papa sayang!" ucap Allana sembari tersenyum dengan anggun. kemudian ia masuk ke dalam mobil. setelah pintu mobil tertutup, Damar pun masuk dan duduk pada posisi kemudi.
"Cantik sekali kamu Neng!" puji Damar Setelah duduk di samping Allana, pujian Damar membuat Allana tersipu malu.
"Papa juga tampan. Kelihatan tambah muda lagi ." Balas Allana.
"Hehe! mungkin karena gaul nya sama ABG." Damar menyeringai dengan percaya diri. "Rasanya malas bergerak nih! ingin nya memandang kamu terus Neng! apalagi hidung kamu tuh, pengen main perosotan di sana rasanya." Damar mengekeh.
"Ikh Papa apa sih! koq jadi pintar ngegombal. Di fikir hidung Lana wahana permainan anak TK!" ucap Allana dengan tertawa.
"Hihi! habis nya kelihatan tambah mancung. Ujar Damar. Baiklah! berangkat saja." Ujar Damar. "Iya Pah!" balas Allana.
***
Hampir satu jam, kini mereka sudah sampai di salah satu hotel. Di mana acara Prom Night di adakan.
"Lana!" pekik Yusra dan Kinanti.
"Ikh cantik banget!" puji Yusra.
"Ia Lana cantik banget sih kamu." Kagum nya Kinanti.
"Hai kalian!" sapa Allana. "Apa sih! kalian juga tambah cantik koq." Namun Allana terbelalak, ketika ia melihat siapa yang menjadi pendamping Prom night Yusra dan Kinanti.
"Kak Heru! Kak Irfan!" seru Allana. "Pah! lihat, Kak Heru dan Kak Irfan yang menjadi pasangan Yusra dan kinan," Ucap Allana kepada Damar.
"Iya sayang!" ucap Damar.
"Hai Om!" sapa Heru. "Apa kabar Om?" tanya Irfan.
"Halo! Alhamdulillah kabar baik!" balas Damar untuk Heru dan Irfan.
"Kin! Yus! koq bisa?" tanya Allana.
"Hehe! tanya saja tuh langsung kepada mereka! mengapa kita bisa bersama mereka saat ini." Pinta Yusra.
"Ia Lan! Kak jelaskan kepada Lana. Mengapa kita bisa jadi double Pair." Pinta Kinanti.
"Jadi, kami sedang mulai mencoba untuk move on dari kamu Lan. Hehe! Kami baru pedekate juga sih dengan Kinan dan Yusra. Ma'af yah kalau kami sempat bersaing untuk mendapatkan kamu." Aku nya Heru.
__ADS_1
"Ya ampun! jadi betul, kalian pernah bersaing untuk mendapatkan Aku?" tanya Allana, walaupun ia sudah tahu, namun ia ingin lebih jelas lagi.
"Betul Lan! tolong di Ma'afkan Yah!" pinta Irfan.
"Tidak ada yang salah koq! justru Aku yang harus minta ma'af kepada kalian lokh! karena bersaing untuk mendapatkan Aku. Kalian malah jomblo bertahun-tahun. Padahal yang suka dengan kalian itu tidak sedikit!" Ujar Allana merasa tidak enak hati.
"Tidak mengapa Lan! kami juga suka koq melakukan nya. Lagi pula kami juga tidak mau lah gonta-ganti cewek dan memanfaatkan mereka yang suka terhadap kami, tapi kami sendiri tidak menyukai mereka." Ucap Heru.
"Baiklah! tapi bagus juga sih, kalau kalian sekarang sudah move on dan lebih milih jalan dengan Yusra dan Kinan. Kalian baik-baik yah dengan mereka! awas saja, kalau sampai kalian menyakiti mereka." Ancam Allana dengan tertawa pada akhirnya.
"Pada awalnya kami sempat patah hati. Namun kami sadar. Kami juga tidak mau bertepuk sebelah tangan dengan mengharapkan istri orang! yang jomblo aja masih ada. Makanya Setelah tanding basket itu, kami janjian makan dengan Yusra dan Kinanti. Eh gak nyangka kita di sambut baik. Insya Allah kami gak akan menyakiti mereka." Tutur Irfan.
"Hooh! ternyata selama ini mata kita hanya lurus pada kamu Lan! sedangkan yang berdua ini jarang kami lirik!" timpal Heru dengan merangkul Yusra.
"Eh tunggu! koq Kalian tahu Lana sudah menikah?" tanya Allana.
"Ammm! secara tidak sengaja! setelah pertandingan basket itu, kami mendengar tim basket Om Damar ini, meledek kalian di parkiran. Akhirnya kami tahu bahwa kalian suami istri dan kita memperjelasnya dengan menanyakan kepada Yusra serta Kinanti. Maaf ya Lan Om!" ucap Irfan.
"Ouh begitu!" tukas Allana.
"Hehe .... tidak apa-apa! kalau bisa jangan panggil saya Om lah! berasa paling tua," kelakar Damar yang dari setadi hanya menyimak.
"Lalu apa dong?" tanya Hetu.
"A'a lah boleh! wah malah kemudaan yah! hihi." Ucap Damar dengan menyeringai.
"A'a! hmm boleh juga. A'a Damar gitu ya?" tukas Irfan.
"Berasa muda!" ucap Damar.
"Memang masih muda juga! apalagi kumpul nya sama ABG!" timpal Heru.
"Ia yah! lupa usia!" ucap Damar. Akhirnya mereka tertawa bersama.
"Ngomong-ngomong! jika kalian memutuskan pedekate dengan Yusra dan Kinanti. Lalu Kak Jovan?" tanya Alana. Ia tahu!Heru dan Irfan itu tidak dapat dipisahkan dengan Jovan juga.
"Jovan? tuuuuh! lihat saja!" tunjuk Irfan dan Heru.
"Hah! Miss Anna?" mata Allana terbelalak. Karena Jovan sedang duduk bertautan tangan dengan Guru bahasa Inggris mereka yang usianya terpaut lebih tua empat tahun dari Jovan.
"Yups!" jawab Heru.
"Cari tempat duduk yuk! sepertinya acara sudah mau mulai." Ajak Yusra dan Kinanti.
"Mari!"
Akhirnya mereka pun berbaur dengan Yang lain, duduk dan menyaksikan suguhan acara demi acara yang di rangkai apik oleh pihak panitia prom night.
Hampir satu jam acara berlangsung, Allana pamit kepada Damar hendak ke toilet.
"Mau di antar?" tanya Damar.
"Lana sendiri saja Pah! tidak takut koq! toilet nya dekat," jawab Allana.
"Baiklah. hati-hati! cepat kembali." ucap Damar, dengan rasa sedikit khawatir dalam hatinya.
"Baik Pah!" Allana pun berlalu tanpa lepas dari tatapan Damar hingga ia menghilang di balik pintu keluar.
Di luar ruangan acara, di koridor menuju toilet. Allana bertemu seseorang.
"Hai! Lana," sapa seorang laki-laki, usianya tidak jauh dari Allan.
"Eh Leo! Hai, apa kabar?" tanya Allana kepada orang yang dipanggil nya Leo.
Ternyata itu Leo. Mantan pacarnya Allana, yang direbut sahabatnya sendiri.
"Baik! Wah, kamu tambah cantik yah! sampai pangling Aku." Puji Leo.
"Ah, biasa saja koq!" balas Allana.
"Andai kita masih jadian ya Lan!" ucap Leo.
"Hem, sudah Leo! itu sudah berlalu." Tanggapan Allana dengan tenang.
Di ujung koridor, sepasang mata dari seorang perempuan, sedang mengamati mereka dengan tatapan tidak suka. Dia adalah pacar Leo, mantan sahabat nya Allana yang merebut Leo dari tangan Allana.
__ADS_1
"Ma'afkan Aku Lana!" ucapan Leo.
"Aku sudah mema'afkan mu!" ucap pelan Allana. "Maaf Leo. Aku harus segera ke toilet karena harus kembali ke dalam secepatnya." Pamit Allana dengan sopan.
"Silakan!" ucap Leo dengan tatapan menyesal. Akhirnya Allana pun pergi ke toilet.
Selang dua puluh menit, Allana tidak juga kembali. Damar gusar dan merasa khawatir. Tanpa pamit kepada para sahabat Allana, Damar pun diam-diam keluar menyusul Allana.
Namun Yusra dan Kinanti ternyata melihat gelagat kekhawatiran Damar. Akhirnya mereka pun mengajak Heru beserta Irfan untuk mengikuti Damar.
Damar sedang berusaha mencari keberadaan Allana di toilet yang mana, karena ada empat buah toilet di lobby hotel tersebut.
"Sayang! kamu di toilet yang mana sih? koq perasaan Papa tidak enak begini." Gumam Damar.
Sedangkan di toilet yang Allana masuki.
"Berani lo yah! mendekati pacar gue! bukan nya lo sudah menjadi simpanan Om_Om! ngapain deketin lagi pacar gue?" teriak seorang perempuan.
"Maaf Mir! Aku enggak sengaja ketemu Leo! bukannya Aku deketin dia! sudahlah, untuk apa sih kamu mempermasalahkan hal ini dan ingat yah, Aku bukan simpanan Om_Om!" Allana berbicara selembut mungkin.
Saat Allana masuk ke dalam toilet. Ia tidak menyadari, mantan sahabat nya itu, ikut masuk dengan penuh emosi. Sepertinya emosi yang sudah ia tahan dari beberapa waktu lalu.
"Ahahahah! Pakai gak ngaku lagi lo! kasihan yah! Emak nya mati! Anak nya jual diri. Cuih!" ucap Miranti.
"Cukup Mir, jangan keterlaluan deh! kamu boleh berbuat apapun terhadap Aku! tapi please, untuk tidak bawa-bawa nama Mama ku!" Ujar Allana dengan tegas.
"Ahahahaha! anak yatim piatu, sekarang kerjaannya jual diri." Miranti bukan nya berhenti, namun makin menjadi. Entah dendam apa terhadap Allana.
"Cukup Mir! cukup! apa yang kamu tuduhkan itu sama sekali tidak benar." Pekik Allana.
Allana pun berusaha keluar dari dalam toilet tersebut. Namun Miranti dengan cepat menjegal nya.
"Lepas!" ucap Allana dengan meringis, karena rambut nya di jambak oleh Miranti.
"Lo fikir, akan semudah itu pergi dari gue! setelah lo renggut kebahagiaan gue. Saat ini tidak akan ada yang bisa menolong lo! mana dua sahabat kebanggaan lo itu?" tanya Miranti dengan wajah iblis nya.
"Apa maksud kamu? Aku tidak pernah merenggut apa pun dari kamu!" tanya Allana.
"Semua! orang yang gue suka, nolak gue, karena dia suka ya sama lo!" ucap Miranti.
"Siapa? Aku tidak paham! bukan kah kamu sudah berhasil merebut Leo dariku?" tanya Allana dengan masih mendongak karena rambutnya ditarik Miranti.
"Pradipta Adipati! Anak kepala sekolah! karena ditolak sama lo dia lebih memilih pindah sekolah, saat gue menyatakan suka. Gue di tolak mentah-mentah, karena dia sukanya sama Lo!" teriak Miranti.
"Ya Allah Mir! hanya karena cowok. Kamu merusak persahabatan kita." Ujar Allana.
"Bukan hanya itu. Lo, sudah merebut piala juara umum dari gue! hingga beasiswa gue, di cabut pihak sekolah! akibat ulah Lo! nyokap gue harus jatuh sakit karena banting tulang demi membiayai sekolah gue!" teriak Miranti kembali.
"Ma'af Mir! Aku tidak tahu." Ucap Allana.
"Terlambat! nyokap gue udah meninggal! dan penyebab nya Elo." Ucap Miranti dengan menarik rambut Allana tambah kencang, hingga Allana terpelanting dan jatuh di lantai dengan bersimpuh.
"Aws!" pekik Allana. "Mir! tolong, tenanglah!" Pinta Allana.
"Gak bisa! lo harus merasakan penderitaan gue!" pekik Miranti.
"Byurr!" Allana di siram air satu ember yang ada di tempat itu.
"Mir!" Allana tidak sempat bangun. Kini Allana basah kuyup.
Allana bukan nya tidak mau melawan Miranti. awalnya Alana fikir Miranti dapat diajak bicara dengan baik. Ternyata tidak!
"Ahahaha! itu baru air biasa! bukan air keras yang gue siram ke wajah lo." Miranti tertawa puas.
"Mir sadarlah! bahwa yang Kamu lakukan ini salah! aku masih menganggap kamu sebagai sahabatku Mir, kita bicara baik-baik. Mari selesaikan dengan baik-baik juga." Pinta Allana.
"Gak! gak semudah itu! lo harus habis malam ini juga!" ancam Miranti dengan sudah gelap mata.
Allana berusaha berdiri namun gagal, karena Miranti kembali menyiram nya. Kali ini dengan air dari selang, entah selang dari mana, karena Miranti seperti sempat menyiapkan nya.
"Mir Please!" Seeerrr. Air dari selang pun terus mengguyur tubuh Allana. Namun dengan susah payah Allana berdiri, hingga akhirnya Allana pun dapat berdiri. Miranti pun kesal melihat Allana dapat berdiri. Miranti melemparkan selang tersebut.
Allana sudah berdiri tegak. Namun Allana terkejut. Betapa tidak, Miranti sedang memegang pisau lipat yang ia keluarkan dari tas nya, pisau itu mengarah tepat di wajah Allana.
"Mir! jangan lakukan itu," teriak Allana.
__ADS_1
Bersambung ....
Bolehlah komentar krisan nya, tap Like, pavorit, rate, vote. Ya anggaplah memberi semangat lebih untuk Author. Terima kasih.