Menikah Dengan Suami Mama

Menikah Dengan Suami Mama
47. Darla Aira Khanza.


__ADS_3

Setelah melewati lima jam masa persalinan dengan jalan operasi, akhirnya Allana sudah resmi menjadi Ibu.


Damar di persilakan masuk untuk melantunkan Adzan dan juga Iqomah . "Selamat Pak. Anak nya Perempuan."


Ujar dokter dan juga suster yang menangani Allana.


"Terima kasih!" Damar begitu sumringah. Ia langsung menghampiri Allana, mengecup mesra kening Allana dan satu tetes air mata kebahagiaan meluncur begitu saja, jatuh tepat di kening Allana.


"Sayang! terima kasih banyak, kamu sudah mau berkorban di antara hidup dan mati demi melahirkan Anak kita." Ucap Damar dengan menggenggam tangan Allana.


"Terima kasih kembali A! Selamat, menjadi Papa sungguhan," ujar Allana dengan senyuman lemahnya.


"Kamu juga, selamat menjadi Ibu, sayang!" Damar tersenyum senang.


"A! seperti nya A'a berjalan tanpa tongkat?" tanya Allana saat ia menyadari Damar berjalan tanpa tongkat.


"Alhamdulillah sayang! seperti nya karena terkejut, ketika melihat kamu jatuh tadi siang. Tanpa sadar, Aku langsung loncat dari tempat tidur. Dan Aku juga baru sadar Kalau sudah dapat berjalan normal kembali."


"Masya Allah." Allana memeluk Damar dengan menangis. Tangisan rasa syukur dan bahagia.


"Sudah sayang! Aku harus mengadzankan Putri kita." Ucap Damar sembari mengelus kepala Allana.


"Putri A?"


"Iya. Anak kita perempuan." Balas Damar.


"Aku yang akan memberikan Nama, boleh?" tanya Allana


"Tentu, sayang! Silakan," jawab Damar. Allana pun mengangguk senang.


"Darla Aira Khanza." Ucap Allana. "Boleh Pah?" tanya Allana kemudian.


"Darla Aira Khanza. Waaah Nama yang cantik sayang. Boleh koq!" tukas Damar langsung setuju.


"Jadi, Papa setuju?" tanya Allana untuk meyakinkan.


"Tentu setuju dong, Mama sayang!" ucap Damar dengan tersenyum dan mengecup kening Allana dengan mendalam.


"Aira Panggilan nya Pah! Darla itu singkatan dari Damar dan Lana." Tandas Allana.


"Papa sudah menebak nya. Memangnya Nama ini, sudah di persiapkan sejak lama, yah?" tanya Damar penuh selidik.


"Iya, sudah Aku persiapkan sejak lama. Namun ada versi laki-laki dan perempuan, karena setiap di USG, Putri Papa ini ngumpet melulu. Jadi sampai lahir, aku pun tidak memiliki gambaran jenis kelamin anak kita Pah." Tutur Allana.


"Hehe! bagus lah, itu mengecoh kita sebagai orang tua nya. Jadi kejutan saat lahir." Ujar Damar.


"Maaf Pak! Baby nya sudah rapi, silakan di Adzani." Suster memberitahukan Damar, bahwa putri mereka siap di Adzani.


"Oh ya Sus! terima kasih. Sayang! Aku mengadzani putri kita dulu yah!" Pamit Damar pada Allana.


"Silakan A!"


Akhirnya Damar pun mengadzani Putri nya. Begitu pun dengan Allana, ia kembali di tangani dokter untuk proses pembersihan.


Setelah proses pembersihan dan penutupan luka nya sudah selesai. Maka Allana pun di pindah ke ruang perawatan.


Kehadiran Baby Aira di antara mereka menambah kebahagiaan untuk Damar dan juga keluarga nya. Terlebih kini Damar sudah dapat berjalan secara normal, seperti sedia kala.


"Alhamdulillah! Lana sudah melahirkan dengan selamat. Damar sudah dapat berjalan kembali. Maka kita akan mengadakan tasyakuran secara bersamaan. Tasyakuran untuk kelahiran Baby Aira, juga tasyakuran kesembuhan untuk Damar." Ujar Ibunya Damar.

__ADS_1


"Tentu Bu! ini sebuah kegembiraan besar, sebagai Anugerah untuk keluarga kita," balas Ayah Damar.


Damar dan Allana hanya saling melempar senyum sebagai tanda persetujuan dari rencana orang tua mereka.


***


Dua bulan kemudian.


Allana sudah kembali sehat, pasca melahirkan. Bahkan Damar sudah kembali mendaftarkan Allana kuliah di sebuah universitas terkemuka di Bandung.


"Sayang! Aku pulang." panggil Damar kepada Allana, Setelah pulang dari meninjau usaha nya siang itu.


Damar sudah kembali aktif bekerja, yaitu meninjau usaha minimarket, stand oleh-oleh. Bahkan kini ia sudah mulai merambah membangun minimarket di pedesaan, daerah-daerah yang jauh dari perkotaan namun cukup padat penduduk.


"Di kamar A! sedang memimikan Aira!" sahut Allana.


Damar segera menghampiri Allana di kamar. Nampak Allana sedang memberikan Asi kepada putri mereka yang sudah berusia dua bulan itu.


"Hai putri Papa! sedang Mimi yah? Mimi yang banyak agar cepat besar." Celoteh Damar sembari duduk di sisi Allana.


"Tentu Papa. Aku kan ingin cepat main dengan Papa." Balas Allana juga dengan celotehan kecil nan manja.


"Sudah Mimi nya, sayang? mari Papa gendong. Mama makan dulu gih, Papa bawakan bakso tuh." ucap Damar.


"Seperti nya sudah Pah! lokh beli bakso di mana?" tanya Allana.


"Di dekat gedung sate. Tadi Aku sudah makan dengan Linggar di sana. Lalu ingat kamu. Makanya aku bawakan untuk mu. Oh yah, ba'da Ashar siap-siap yah! aku mau mengajak kamu ke suatu tempat." Ujar Damar sambil meraih Aira dari gendongan Allana.


"Mau ke mana?" tanya Allana.


"Ada deh! nanti juga kamu tahu koq, sayang!" Damar tersenyum dan mengecup pipi Allana.


"Isya Allah, pasti hal menyenangkan." Tukas Damar. Ia berdiri dan menimang Aira.


"Ok! aku makan bakso nya dulu ya A!" Allana berdiri bertujuan untuk memakan bakso yang di bawa oleh Damar.


"Iya sayang! Aku bawa Aira ke depan yah!"


"Silakan."


Mereka berpisah di depan kamar. Damar menimang Aira ke halaman depan, sedangkan Allana memakan bakso di meja makan.


Ketika Allana sedang asyik memakan bakso. Terdengar orang berucap salam dari arah depan.


Allana pun tidak tahu siapa yang datang. Hingga suara Damar memanggil nya.


"Sayang! ini ada tamu." Panggil Damar dari arah luar.


"Iya A, sebentar!" sahut Allana.


"Tamu?" Allana mengerutkan dahi nya. Tamu untuk nya? maksu Damar? Allana bermonolog di dalam hati nya.


Setelah menyelesaikan makan nya. Allana pun bergegas ke arah depan.


"Kak Sasti!" Pekik Allana ketika melihat siapa yang sudah duduk di kursi ruang tamu. Ternyata Sasti yang datang.


"Lana! selamat yah! kamu sudah melahirkan," ucap Sasti sembari memeluk Allana.


"Terima kasih Kak! Kakak dengan siapa?" tanya Allana dengan mengajak Sasti kembali duduk.

__ADS_1


"Sendiri dek! maaf yah, Kak Sasti sibuk, baru bisa mengunjungi kalian nih," ucap Sasti.


"Iya kak! tidak apa-apa. Tapi bisa dong, untuk saat ini, Kak Sasti menginap di sini?" tanya Allana.


"Ya harus menginap dong, ya kan?" Damar yang baru masuk dari arah depan, menyelak pembicaraan mereka.


Sasti akhirnya mengangguk dengan tersenyum. " Masya Allah, keponakan ku cantik sekali."


"Iya dong! mau gendong?" tanya Damar.


"Terima kasih. Takut akh, aku gak bisa gendong bayi." Jawab Sasti.


"Kan belajar Kak! Aku pun awalnya takut, namun lama kelamaan terbiasa." tukas Allana.


"Ya, kamu kan Ibu nya, memang harus bisa gendong." Jawab Sasti.


"Hihi iya sih," mereka pun tertawa bersama.


"Rumah nya sepi Lan? pada kemana?" tanya Sasti.


"Ouh, Ibu dan Bapak sedang menghadiri acara pernikahan saudara nya di kampung sebelah, sebentar lagi juga pulang." jawab Allana.


"Oh begitu."


Saat mereka asik bercengkrama. Terdengar ucap salam dari luar. Rupanya itu Arwan, yang baru saja pulang dari pekerjaan nya.


Arwan dan Sasti saling pandang dengan rasa takjub. Tatapan mereka bertemu tanpa terencana.


Arwan yang baru saja masuk ke dalam rumah di suguhkan pemandangan perempuan yang terbilang cantik. Begitu pun Sasti, ia terkesima melihat Arwan yang berbadan tegap, berkulit putih dan berwajah tampan baru saja masuk dari arah luar.


"Ekhem!"


Deheman Damar dan Allana membuyarkan aksi tatap tatapan nya Arwan dan Sasti.


"Wan! perkenalkan, ini Sasti. Kakak Sepupu nya Allana!" seru Damar.


"Kak Sasti. Ini Arwan, adik nya A Damar." Kali ini Allana yang memperkenalkan Sasti dengan Arwan.


Akhirnya Arwan dan Sasti berjabat tangan saling berkenalan, menyebutkan nama masing-masing. Sikap Arwan dan Saati seperti nya salah tingkah. Apakah mereka memiliki rasa pada pandangan pertama?


Mereka pun larut dalam obrolan. Sesekali Arwan dan Sasti saling mencuri pandang dan melempar senyuman. Allana dan Damar yang melihat itu hanya saling menggoda mereka berdua.


**


Hingga sore hari.


Setelah menitipkan Aira kepada Ibunya Damar dengan di temani Sasti juga Arwan di rumah, maka Damar pun mengajak Allana ke suatu tempat yang sudah ia janjikan.


"Kita pakai motor A?" tanya Allana, ketika Damar mengeluarkan motor bukan mobil.


"Ia sayang! tempat nya tidak begitu jauh dari sini, sambil kencan sore." Goda Damar dengan mengedipkan sebelah mata.


"Hehe! ide bagus, sudah lama kita tidak kencan berdua." Ujar Allana.


"Maka dari itu. Kita manfaatkan sore ini dengan kencan berdua. Mari!" Damar pun menaiki motor matic milik Ayah nya.


"Mari A!" Allana pun menaiki motor, Damar melajukan motornya dengan perlahan. Allana memeluk tubuh Damar dari belakang.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2