
Ketika Ayah Damar masih mencari kunci cadangan, rupanya Damar mendengar kegaduhan dari orang tua nya.
Cklek!
Pintu Kamar pun terbuka, "Iya Bu!" Akhirnya Damar keluar dari kamar nya.
"Alhamdulillah! syukurlah, kamu baik-baik saja! Ibu khawatir, karena kamu diam saja!" ujar kelegaan dari sang Ibu.
"Damar sudah keluar kamar Pak!" Ibunya Damar memberi tahu Ayah Damar.
"Ya sudah Bu! bilang sama dia, jangan mengurung diri lagi di dalam kamar, membuat orang khawatir saja." Ayah Damar berkata sembari ngeloyor ke arah dapur.
"Iya Pak! Damar tidak akan berdiam diri lagi di kamar." ucap Damar yang mendengar perkataan Ayahnya.
"Nih obat nya," Ibu nya Damar menyodorkan obat dan segelas air putih. Damar pun meraihnya, lalu meminum obat tersebut.
"Sudah ada kabar dari Arwan Bu?" tanya Damar.
"Sudah! Lana sudah sampai di rumah kalian, saat ini Arwan sedang di jalan arah pulang."
"Damar sengaja Bu, mematikan ponsel Damar! agar Allana tidak dapat menghubungi Damar." ucap Damar.
"Nak! kenapa kamu sakejam itu? Ibu tidak tega, membiarkan Allana di sana seorang diri." Ujar Ibu nya Damar.
"Hem! Damar pun berat Bu, melakukan hal ini. Damar juga sedih Bu! hati Damar, tidak ingin berpisah dengan Allana. Namun ini Damar lakukan demi kebaikan Allana! Damar tidak mau Allana kehilangan masa depannya, dengan hanya mengurusi Damar yang sudah tidak berdaya ini." tutur Damar.
"Tapi .... Nak!"
"Tolong lah Bu, jangan ganggu gugat keputusan Damar. Aku tahu siapa Allana! di balik manja nya, Allana adalah wanita yang kuat. Ia seorang yang tegar."
"Untuk saat ini, Memang aku tidak dapat melindungi dia layak nya payung yang meneduhkan dari hujan, bagai topi yang menghalau panas mentari, namun doa-doa ku, yang akan selalu melindunginya dari kejauhan."
Ucap Damar dengan tegas. Ibu nya Damar hanya menatap iba putranya.
**
Malam hari di Jakarta,
Allana baru saja terbangun dari tidurnya. "Astaghfirullah."
Allana menggeliat. Ia beristighfar. Kesadaran nya belum sepenuhnya terkumpul. Ia merasa Damar berada di rumah tersebut.
"A! ini koq gelap? pukul berapa sekarang? maaf Sayang, Lana ketiduran," ucap Allana dengan suara keras. Ketika ia meraba kasur terasa dingin dan sudah pasti ia tertidur seorang diri.
Bayangan Allana, Damar sedang ada di kamar mandi.
"A'a sayang!" tidak ada jawaban. Kamar itu sepi.
"A'a kemana sih! atau belum pulang kerja?" gumam Allana. Lalu ia meraih ponselnya yang tergeletak di dekat nya. Allana bermaksud menghubungi Damar, namun ia harus menyalakan lampu terlebih dahulu.
Allana membawa tubuh nya duduk di atas tempat tidur, lalu ia beranjak dari tempat tidur untuk menghidupkan lampu, karena kamar tersebut tampak gelap. Allana sudah menghidupkan lampu.
"Pukul enam. Ya Allah!" Allana melihat jam dinding di kamar itu. Sudah pukul enam sore. Perut Allana terasa keroncongan. Namun ia belum tahu Damar ada di mana, itu benak Allana.
"A'a Da ...., Heeuuummm, Aku lupa! saat ini ia di Bandung dan Aku .... sendiri di sini. Sayang! kamu jahat! kamu kejam! kamu keterlaluan." Gumam Allana mengingat kejadian hari ini. Ia bersimpuh di atas lantai dan kembali menangis.
Hampir lima belas menit, Allana menangis. Suara Adzan Maghrib sudah terdengar dari beberapa waktu lalu. Tangis pilu Allana di barengi lantunan merdu Adzan Maghrib. Tentu saja makin menambah kepiluan Allana, yang saat ini betul-betul sebatang kara.
"Astaghfirullah'aladzim."
"Aku tidak boleh berputus asa!Aku kuat! Aku bisa! Aku memang sedang kecewa saat ini. Namun Aku harus memiliki pengalihan dari rasa kecewa ini."
"Baik! Pengalihan rasa kecewaku adalah, dengan menyibukkan diri. Maka dari itu, menyibukkan diri kepada Allah, adalah salah satu hal terbaik untuk mengobati rasa kecewa ini." Ujar Allana dengan tegar.
__ADS_1
Kemudian Allana beranjak ke kamar mandi, membersihkan diri dan berwudhu. Setelah nya ia berganti pakaian dan langsung melaksanakan Shalat Magrib. Selesai Shalat Magrib, Allana membaca Alqur'an.
Setelah selesai membaca Alqur'an, Allana merasa amat lapar, ia pun pergi ke dapur hendak membuat makanan. Namun ia baru menyadari, di rumah itu ia hanya sendiri.
Allana berfikir, lebih baik pergi dari rumah itu,"Aku bisa gila, lama-lama di sini! seorang diri dan di perdaya oleh bayangan kemesraan bersama A Damar. Mungkin untuk malam ini, lebih baik menginap di rumah Kinanti saja." Gumam Allana.
Allana bergegas kembali ke kamar nya untuk berbenah. Menyiapkan keperluan nya yang perlu ia bawa. Allana sudah bertekad hendak ke rumah Kinanti. Setelah berbenah dan mengunci pintu, Allana segera mengeluarkan mobil nya dan meluncur ke rumah Kinanti.
Dulu mereka tetanggaan, namun beberapa bulan lalu, Orang tua Kinanti berpindah rumah. Jarak dari rumah Allana ke rumah Kinanti menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit.
Allana sudah sampai di rumah Kinanti, ia di sambut hangat oleh Kinanti dan juga Mamanya.
"Lana!"
Pekik kegirangan Kinanti, begitu melihat Allana sudah berada di ruang keluarga rumahnya.
"Kinan!" hiks hiks
Allana memeluk Kinanti sembari menangis. Kinanti beserta Mama nya saling pandang.
"Ada apa sayang? koq Lana menangis?" tanya Mama Kinanti dengan raut wajah khawatir.
"Hiks! Papa Damar jahat Tante! ia mengusir Lana dari Bandung dan menyuruh Arwan mengantarkan Lana pulang ke rumah. Maka dari itu, Lana putuskan untuk ke sini, karena di rumah, Lana hanya seorang diri." jawab Allana.
"Coba, Lana ceritakan pelan-pelan, apa yang sebetul nya terjadi?" pinta Mama Kinanti dengan memapah Allana duduk di sofa.
"Sayang, tolong ambilkan air minum untuk Lana." Pinta Mama Kinanti, kepada Kinanti.
"Baik Mah!" Kinanti pun bergegas ke arah dapur untuk mengambil air minum. kinanti kembali ke ruang keluarga dengan gelas air minum di tangan nya.
Setelah Allana minum, ia sedikit lebih lega dan kini keadaannya sudah lebih tenang. Allana pun menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Damar.
"Ya ampun Lana, Sabar yah! kamu tidak perlu takut Lan, ada kami yang akan selalu bersamamu." ucap Kinanti sembari memeluk Allana.
"Tenanglah Sayang, Tante akan membantu menjaga kandungan mu. ingat! bahwa kamu tidak sendiri saat ini." Ujar Mamanya Kinanti sembari ikut memeluk Allana.
"sama-sama sayang. Namun ... sebaiknya, carilah waktu yang tepat, untuk memberitahukan kehamilan mu kepada Nak Damar. Bagaimanapun ia berhak tahu, karena Nak Damar adalah Ayahnya." pinta Mama Kinanti dengan lemah lembut.
"InsyaAllah Tante, Lana akan memberitahukan Papa Damar cepatnya. Mungkin untuk saat ini, lebih baik kita memang berjauhan. sepertinya Papa Damar butuh untuk memenangkan diri." ujar Allana.
"Ya sepertinya. Nak Damar memang butuh untuk menenangkan dirinya. Begitu pun dengan kamu sayang, kamu butuh untuk menenangkan diri. Rumah ini terbuka untukmu jangan pernah sungkan." Ucap Mama Kinanti, hingga bunyi perut Allana mengganggu, momen mengharukan tersebut.
"Maaf!" Allana menyeringai.
"Pasti kamu belum makan?" tebak Kinanti.
"Heee! iya." jawab Allana.
"Ya ampun sayang, makan yuk! kamu tidak boleh telat makan ada janin di dalam perut mu yang butuh nutrisi."
"Iya tante." Mama Kinanti, mengajak Alana, untuk makan. Akhirnya mereka pun makan bersama.
**
Dua hari kemudian,
Allana mencoba bangkit, itu semua tidak terlepas dari dorongan Kinanti Yusra dan Mama nya Kinanti.
Hari ini Allana, kembali memulai perkuliahan nya. sebetulnya Allana ingin bermalam di kedai nasi gorengnya. Namun Mamanya Kinanti melarang.
Siang ini di kampus Allana.
"Kinan, Yusra! nanti sepulang kuliah, antar Aku ke minimarket sebentar yah."
__ADS_1
"Oke Lan!" jawab Yusra.
"Memang nya, kamu mau belanja apa Lan?" tanya Kinanti.
"Hanya membeli susu hamil dan beberapa camilan," jawab Allana.
"Baiklah! sekarang saja yuk, kita sudah tidak ada pelajaran kan?" tanya Yusra.
"Sudah tidak ada! baiklah, mari," ajak Allana. Mereka pun meninggalkan kampus dan berniat pulang, namun sebelum pulang, mereka mampir ke minimarket sebentar, untuk membeli susu hamil.
Beberapa saat kemudian, Allana, Yusra dan Kinanti sedang mengantri di kasir.
Namun Allana, di kagetkan dengan teguran seorang Anak.
"Ante Lana! Papa Ante Lana." ucap Anak tersebut.
"Hai Cozy! sedang apa di sini?" Allana begitu sumringah, ketika melihat Cozy dalam gendongan Linggar.
"Beyi ec Kim." jawab Cozy.
"Lokh! Lana, bukannya di Bandung!" tanya Linggar, karena Linggar tahunya Allana ikut ke Bandung bersama Damar.
"Lana di usir A Damar Kak!" Allana meletakkan tiga dus susu hamil di atas meja kasir. Linggar sempat melihat apa yang Allana beli.
"Susu hamil? untuk siapa?" Linggar bertanya-tanya dalam hatinya.
"Bagaimana ceritanya, Koq bisa, kamu diusir Damar?" tanya Linggar.
"Duduk sebentar Kak di depan, nanti Aku ceritakan. Oh yah, ini teman-teman kuliahku, Kinan dan Yusra." Allana memperkenalkan Yusra dan Kinanti. Mereka pun akhirnya berkenalan.
Setelah membayar belanjaan. Mereka duduk sebentar di depan minimarket tersebut. Alana menceritakan kejadian lusa kemarin. Linggar nampak geram mendengarnya. Ia tidak menyangka, sahabatnya akan melakukan hal itu kepada istri kecilnya yang yang selalu dipuja nya.
Setelah menceritakan semuanya, akhirnya mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.
***
Satu minggu kemudian,
Terdengar sebuah keributan di dalam rumah, tepatnya rumah orang tua Damar.
"Gila lo Mar! bisa-bisanya mengusir Istri lo sendiri." Bentak Linggar.
"Sudahlah Ling! ini bukan urusan lo, ini urusan rumah tangga gue!" jawab Damar.
"Gimana bukan urusan gue, Allana sudah seperti adik bagi gue! lo tahu? satu minggu yang lalu, gue bertemu dengan Allana, dan hal yang paling mencengangkan, gue bertemu dia di minimarket sedang membeli susu hamil." ujar Linggar.
"Apa?" tanya Damar dengan nada terkejut.
"Iya Men! susu hamil, gua pastikan Allana sedang hamil. Itu terbukti dari kotak kecil yang ditemukan Hana, yang terjatuh dari tas Allana. ketika ia histeris menangisi elo dalam keadaan antara hidup dan mati." Ungkap Linggar.
Linggar pun memberikan kotak kecil berisi hasil USG sebagai kejutan untuk Damar, yang Allana gagal berikan.
Damar mengambil kotak tersebut, ia membukanya secara perlahan dengan tangan bergetar.
"Lana hamil? sayang, jadi .... apa kotak ini, yang kamu maksud sebuah kejutan untuk ku! Aku bodoh, telah menyuruh mu pergi dari sini! Ya, betul kamu hamil."
Damar mengingat kembali akan Allana yang muntah dan pusing hampir setiap pagi, Allana yang memintanya untuk lebih pelan dalam melakukan hubungan intim. ketika mereka pulang ke Bandung, Allana menginginkan rujak di pinggir jalan yang tidak sengaja mereka lewati.
"Alhamdulillah sayang! Akhirnya kamu hamil dan Aku akan menjadi seorang Ayah." lonjak kegirangan Damar, sembari mengelus pelan hasil USG di tangannya. Ia pun menangis dengan tersedu karena bahagia.
Damar pun segera memanggil Ayah dan Ibunya untuk memberitahukan kabar gembira ini. "Thank you Men! Lo jauh-jauh ke mari, untuk memberitahukan kabar gembira ini,"
"Santai aja Men!"
__ADS_1
"Lana maafkan Aku, kera telah menyakitimu. Aku akan berjuang untuk sembuh, demi kamu dan Anak kita sayang!"
Bersambung ....