
"Hmmm .... Mengapa juga, aku harus secengeng ini? Aku kan istrinya A'a Damar. Di hadapan keluarga dan umum, Aku adalah Istri Sah nya." Gumam Allana.
"Aku gak boleh kalah hanya karena pandangan mata. Aku harus menemui mereka. Akan ku pastikan bahwa hanya aku Istri nya. Egois untuk kebaikan mungkin gak salah!" ujar Allana dengan tekad yang bulat. Ia segera mengusap air matanya sedikit kasar menggunakan punggung tangan.
Allana bergegas keluar dari mobil dan berjalan cepat dengan tetap hati-hati. Tujuan nya segera sampai di kantor Damar.
Setelah berada di balik pintu kantor Damar. Allana menarik nafas untuk menyetabilkan detak jantung nya yang tidak keruan. Darah nya terasa naik dan berkumpul di ubun-ubun, ingin segera meledak karena di kuasai emosi.
Allana bersiap dengan kemungkinan terburuk sekalipun. Baku hantam! tidak mengapa bila sekiranya perlu, itu yang ada di dalam pikiran Allana. Kata pelakor harus musnah, itu juga yang memberikan kekuatan lebih untuk Allana.
"Bismillah!"
"Brak!!"
Pintu kantor Damar, Allana buka dengan kasar. Hingga menimbulkan benturan keras pada dinding.
"Astaghfirullah!"
Tiga orang yang berada di dalam nya beristighfar secara bersamaan. Anak laki-laki tadi yang kini Allana lihat sedang bermain dengan mainan nya duduk di lantai, ia berdiri dan berlari karena ketakutan.
Allana tertegun. Emosi nya sedikit mereda karena terkejut. Anak laki-laki tadi berlari namun bukan berlari ke arah Damar, melainkan kepada seorang pria yang duduk bersebelahan dengan ibunya si Anak dan ia langsung memeluk nya.
"Papa! Zy takut!" pekik nya.
"What? Kak Linggar?" Allana nampak terkejut. Pria itu Linggar. Orang yang Allana sudah kenal. "Loh Koq?"
Allana mengernyit. Anak laki-laki itu memanggil Linggar dengan sebutan Papa!
"Sayang!" Damar segera menekan rasa terkejut nya, ketika ia melihat Allana sedang berdiri dan bergeming di ambang pintu.
"Ma-ma'af!" ucap Allana singkat.
"Sayang! kebetulan kamu datang. Perkenalkan ini Istri nya Linggar, Nama nya Hana dan itu putranya Cozy. Panggil saja Zy." Damar menghampiri Allana. Merangkul dan berjalan, membawa nya ke arah sofa.
Damar memperkenalkan dua orang Ibu dan Anak itu. Orang yang ia lihat tadi. Hingga ia bergumam di dalam hati. "Astaghfirullah, ja-jadi aku sudah salah!"
"Hai, saya Hana! ini pasti Teh Allana ya? saya Istrinya A Linggar sekaligus Adik sepupu nya A Damar.
"Hai, i-iya saya Allana." Ucap Allana gugup sambil menyeringai salah tingkah.
"Saya sudah sering mendengar nama Teh Allana di bahas oleh mereka berdua. Namun maaf, asli nya baru bertemu hari ini. Masya Allah cantik!" ucap Hana.
"Hehe. Bisa saja kak Hana."
"Zy! Salim dengan .... Tante Lana. Ini Istrinya Ayah Damar, Sayang!" Linggar meminta Putranya untuk menyalami Allana.
__ADS_1
"Ateu Lana. Aku Zy!" Cozy memperkenalkan diri dengan menyalami Allana.
"Hai Zy. Kamu tampan sekali!" Allana berjongkok dan mengelus kepala Cozy serta memujinya.
"Teliama acih! Ateu Lana juga tantik," celoteh Cozy sembari mengelus lembut pipi Allana.
Allana hanya tersenyum. Kini ia merasa kalah telak. Allana sudah berfikir buruk tentang Damar. Batin Allana berkecamuk, antara rasa bersalah dan malu. Padahal mereka tidak mengetahui nya.
"Ok Men! sudah sore, kami pamit!" Suara Linggar yang berpamitan pun memecah kecanggungan Allana. Di ikuti oleh Hana yang juga berpamitan kepada Damar dan Allana.
"Ok Ling! gue masih ada kerjaan, mungkin pulang agak malam dan gak perlu khawatir, karena akan ada yang menemani." Ucap Damar.
"Wah mantul deh. Ingat! jangan main asmara hot di kantor, nanti ada paparazi," ledek Linggar dengan mengekeh.
"Gak lah! gak janji kalau gak bisa nahan." Damar mengekeh.
"Sudah ikh, kalian nih bicaranya ngaco yah, ada balita yang mendengarkan," protes Hana.
Akhirnya mereka pun keluar dari kantor Damar dengan tertawa. Damar mengantarkan nya hingga ke luar pintu. Setelah nya masuk kembali. Tadi, Damar melihat mata Allana sembab seperti habis menangis. Ia ingin segera bertanya kenapa.
Damar menatap wajah Allana.
"Neng? kamu .... seperti habis menangis?" tanya Damar penuh selidik.
"Tidak apa nya?" tanya Damar kembali. "Mata kamu sembab, sayang!"
"Hiks! A'a ma'afkan Lana!" tanpa terencana, Allana menubruk tubuh Damar dan memeluknya. Allana tidak dapat berbohong lagi dengan menampik tidak habis menangis. Kini Ia kembali menangis karena rasa bersalah.
"Sayang ada apa? koq minta ma'af?" tanya Damar kebingungan. Namun walaupun begitu, ia tetap menjadi penenang untuk Allana dengan mengelus lembut punggung Allana, yang sedang memeluk nya.
Damar membiarkan Allana menangis hingga sesenggukan. Ia hanya membawa Allana duduk di sofa dan memeluk nya kembali.
"Ma'af A'a!" gumam Allana, tangisan nya sudah reda. Damar menghela nafas, lalu ia menjauhkan tubuh Allana Dari pelukan nya. Ia ingin melihat wajah Allana.
"Sudah menangis nya?" tanya Damar lembut. Ia menyeka sisa air mata Allana dengan jari tangan nya tanpa mengalihkan pandangan dari Allana.
"Su-sudah!" jawab Allana masih dengan suara tertahan karena tangisan nya.
"Hehe. Coba jelaskan pada ku! sayang mengapa menangis seperti itu? apa ada yang menyakiti mu?" tanya Damar dengan mengecup tangan Allana. Tatapan nya menunggu jawaban.
"La-lana merasa bersalah pada A'a. Tadi Lana sempat berfikir hal buruk. Lana pikir A'a berbohong, sudah pernah menikah sebelum nya dan memiliki seorang putra, Hiks."
"Hana dan Cozy?" tanya Damar dengan memiringkan wajahnya. Ia Ingin memastikan bahwa mereka yang Allana maksudkan.
Allana mengangguk. "Tadi, Lana hendak kemari. Namun Lana malah melihat A'a menyambut kedatangan Cozy dengan riang dan Cozy memanggil A'a dengan sebutan Ayah. Aku tidak sanggup melihat nya. Maka dari itu, Aku balik ke mobil dan menangis di sana."
__ADS_1
"Aahahahahan! Sayang cemburu?" Damar malah tertawa.
"A'a ikh! koq tertawa? ya jelas lah Lana cemburu. Siapa yang tidak cemburu, jika melihat suaminya di panggil Ayah oleh seseorang yang bukan putra nya dan merangkul perempuan lain yang baru di lihat nya." Ujar Allana dengan cemberut.
"Maaf! maaf sayang. Hana itu sepupu ku, dia istri nya Linggar, Cozy putra mereka. Cozy memanggil ku Ayah, karena dulu, Aku sering ikut menjaga nya ketika ia bayi. Hana sakit usus buntu dan harus di operasi kala itu. Linggar menemani Hana di rumah sakit dan Aku menjaga Cozy di rumah dengan Arwan dan Ibu nya Hana."
"Ketika kita mengadakan resepsi pernikahan, mereka memang tidak datang, karena pada saat itu, Cozy yang sakit hingga di rawat di rumah sakit. A'a juga belum sempat mengajak nya ke rumah, untuk memperkenalkan mereka padamu. Maka dari itu kamu belum kenal." Balas Damar penuh penyesalan.
"Maafkan Lana A!" Ujar Allana sekali lagi.
"Sudah! kamu tidak bersalah koq. Alhamdulillah.... kali ini, kamu tidak minggat, karena hal ini. Nah gitu dong, selalu objektif sebelum mengambil keputusan. Terima kasih sayang. I Love you," ucap Damar.
"I Love you more A'a." Allana memeluk Damar dan Damar membalas nya.
"Sebetulnya ada hal yang ingin Lana sampaikan pada A'a!" ucap Allana yang masih memeluk Damar.
"Hal apa, itu sayang?" tanya Damar.
"Aku ha-!" kata-kata Allana menggantung di udara.
Kriing .... kriiing .... kriiing ....
Tiba tiba saja, telepon meja di ruangan tersebut berdering nyaring. Membuat Allana terpaksa menghentikan ucapannya.
"Maaf Neng! A'a menerima telepon sebentar. Seperti nya itu orang gudang," pamit Damar, ia sempat mengecup bibir Allana singkat sebelum beranjak menerima telepon. Allana hanya mengangguk.
"Sudah! tadi apa sayang?" tanya Damar setelah ia duduk selesai menerima telepon.
"Hmmm, seperti nya sudah Adzan Maghrib A! nanti saja, lebih baik kita Shalat dulu." Allana rasa, waktu nya sempit untuk menyampaikan kabar gembira ini, ia bicara dalam hati. "Nanti saja bicara nya setelah Shalat."
"Baiklah! setelah Shalat kita makan dulu, pasti kamu lapar kan?" tanya Damar.
"Tentu! Iya Aku lapar," jawab Allana. Damar tersenyum, lalu ia menggandeng tangan Allana menuju musholla yang berada di halaman Mall tersebut.
Setelah Shalat, Damar mengajak Allana makan malam di sebuah restoran cepat saji, tempat yang mudah di jangkau karena Damar tidak memiliki waktu banyak jika harus Keluar dari area Mall tersebut.
Allana hanya menurut. "Maaf sayang! Aku masih banyak kerjaan. Untuk menghemat waktu, makan di sini saja."
"Tidak mengapa A'a sayang! yang penting berdua A'a," ucap Allana dengan tersenyum.
Setelah makan, Damar kembali ke kantor nya. Ia sempat bercumbu dengan Allana di atas sofa. Namun ia masih dapat mengendalikan diri untuk tidak berbuat lebih. Damar lebih memilih meninabobokan Allana di sofa. Karena Allana mengeluh ngantuk.
Setelah Allana tertidur, Damar kembali pada pekerjaan nya. Hingga pukul sepuluh, Damar menyelesaikan pekerjaan nya dan setelah selesai, ia mengajak Allana pulang. Allana pun belum sempat memberitahukan tentang kehamilan nya.
Bersambung ....
__ADS_1