
“jangan motong ucapan suami gak sopan, atau mau kejadian tadi malam terulang lagi?” seulas senyum licik terbit diwajah Rendy entah apa yang dia pikirkan “atau mau yang lebih dari itu?” sambung Rendy
Rara bungkam mendengar ucapan Rendy. Jika dia terus melawan ucapan Rendy maka Rendy akan merasa semakin menang darinya setidaknya itulah yang Rara pikirkan.
Untuk pertama kalinya seorang Vionara mengalah, dan rasanya sangatlah tak mmenyenangkan. Ingin rasanya Rara memukul kepala Rendy atau setidaknya mendorong nya dari tangga lantai 2, lalu Rendy mengalami geger otak atau setidaknya koma lah untuk beberapa hari. Memikirkan hal itu membuat Rara tersenyum sendiri, pemikiran jahat yang melintas di otaknya itu memang hal yang indah.
🌸🌸🌸
“Drtttt...drtttt...” sebuah ponsel di atas nakas bergetar sejak tadi
Keberisikan ponsel itu membuat konsentrasi Rara benar-benar hilang. Niat ingin mengecek beberapa file dan ajuan kontrak dari klien yang dikirim oleh asisten nya lewat email, tapi malah pusing karena ponsel yang tak berhenti bergetar sejak tadi. Entah siapa yang menelepon tapi itu sangatlah mengganggu.
Rara meraih ponsel itu dan tertera nama pemanggil nya ‘Vanya’. Rara mengerutkan kening merasa sedikit asing dengan nama pemanggil itu. Tapi setelah meneliti bentuk dan warna ponsel itu Rara tau itu bukan miliknya dan seperti nya milik Rendy.
“wait...who is Vanya?” monolog Rara, otak Rara loading sebentar
“oh...!! Mantan pacar Rendy” seru Rara tersenyum kemudiaan mengotak Atik ponsel Rendy yang ternyata tak memakai password.
Tertera 14 panggilan tak terjawab di log panggilan, dengan nama yang sama dan waktu yang beberapa menit saja.
“Drttttt.....drttt..” panggilan dari orang yang sama kembali masuk, kali ini Rara mengangkat nya
📞 “ sayang....!! Lagi apa sih?!kok nelpon gak diangkat dari tadi??!?” suara manja dari sebrang terdengar sangat menjijikkan di telinga Rara
📞” sayang...kok diam aja sih?!! Iiihhhh sayang.... ngomong dong!!!! Aku ngambek nihh ya, atau aku mogok makan aja!!!!” lanjut orang diseberang dengan suara manja membuat Rara mau muntah mendengar nya. Bagaimana bisa dia sebagai perempuan benar-benar tak menghargai dirinya pikir RRara
__ADS_1
📞” dengar ya Ren !!! Kalo lo gak buka suara juga gue bakal kasih tau Rara tentang semua nya!!! Gue gak mau tau!!!! Minggu depan lo harus luangin waktu buat gue jam 10.30 lo temenin gue ke rumah sakit xxxx”
Tuttt....Rara memutuskan panggilan itu sepihak. Tersungging senyum lebar di bibir Rara tapi terlihat mengerikan. “ kira-kira kejutan apa yang bakal kalian kasih gue?!” batin Rara
Tangan Rara mengepal erat, bohong jika dia tak marah mendengar semua ucapan Vanya yang notabene nya mantan pacar Rendy. Dia juga seorang perempuan memiliki hati yang lambat laun akan pasti luluh terhadap semua perlakuan baik laki-laki terlebih lagi laki-laki itu adalah suaminya sendiri.
Rara meletakkan kembali ponsel Rendy ke tempat semula, setelah sebelumnya dia sudah menghapus semua panggilan dari Vanya. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk di ponsel Rendy, Rara hanya melihatnya di layar depan tanpa membuka nya, disitu tertulis ‘sayang ingat ya jam 10.30 minggu de.....’ hanya itu yang bisa Rara lihat dilayar depan.
Beberapa menit kemudian....
Rendy masuk kedalam kamar, menatap sebentar Rara dan seperti biasa Rara membalas tatapan Rendy dengan senyum mengejek seolah tak terjadi apa-apa. Rendy melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
Begitu lah cara hidup Rara, hanya orang-orang tertentu yang bisa mengerti semua hal tentang Rara. Karena jika sakit dia tak kan memperlihatkan ekspresi sakit itu, dia pintar memanipulasi dan mengendalikan emosi serta perasaan agar tak muncul ke permukaan.
Rara mulai berkutat serius dengan sebuah laptop dihadapan. Sekarang Rara sedang membaca laporan dari suruhan, yang sudah mendapatkan informasi tentang Rendy. Ya waktu itu Rara menghubungi seseorang untuk menyelidiki tentang Rendy karena ada yang aneh dengan suaminya itu menurut Rara.
🌸🌸🌸
Rendy keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk putih, dengan rambut yang terus menetes bulir air, melangkah masuk walk in closet. Rara terkejut ketika Rendy lewat didepan, refleks mematikan laptop kemudian tersenyum. Jantung Rara berdetak kencang bukan karena gugup saat Rendy melangkah ke arahnya tapi takut Rendy sempat membaca laporan di laptop nya tadi.
“kenapa Ra..?” tanya Rendy bingung melihat raut wajah Rara dan dengan sengaja Rendy menunduk wajahnya agar sejajar dengan wajah Rara
“Gak usah Deket-deket ...sana Ren!!!” ucao Rara mendorong wajah Rendy dengan kedua tangannya
“siapa juga yang deket-deket, aku Cuma ngambil ini kok” Rendy meraih ponselnya yang ada di nakas, Rara mendelik kesal sadar Rendy sedang menggoda nya
__ADS_1
“dan ini juga...cupp” Rendy mencium sekilas bibir Rara kemudian berlari masuk walk in closet
“Rendy... brengsek...kurang ajar...” Rara berlari menyusul Rendy membawa guling sambil sesekali mengumpat
Rara memukuli Rendy dengan guling tak peduli dengan ucapan ampun yang Rendy lontarkan. Dan tanpa sadar handuk Rendy terlepas....
“Yaaakkkk.....Rendy mesummm....” ucap Rara menutup mata dengan kedua tangannya
Setelah memperbaiki handuk nya, Rendy tersenyum melangkah mendekati Rara.
“udah belum pakai handuknya Ren??” tanya Rara dan kali ini dia benar gugup apalagi tadi dia melihat Rendy tanpa pakaian didepannya, untuk pertama kali Rara melihat laki-laki seperti itu.
“Renn....kenapa diam udah belum?? Dengar ya Ren aku gak main-main...kal kalau kamu berani kurang aja!!!!” ucap Rara mengancam
“Memang kenapa kalo aku main-main sweetheart?” bisik Rendy di telinga Rara, suara itu membuat Rara membeku sesaat, Rara tersadar ketika Rendy menghisap lehernya. Rara segera mendorong Rendy
“jangan macam-macam Ren..!!! atau aku bakal lakuin hal nekat!!” Rara mengingat kan melangkah mundur dengan pelan
“aku gak macam-macam Cuma satu macam sweetheart” Rendy malah mendekati Rara sambil menggodanya, tapi ini Rara bukan perempuan luar sana yang sering dia temui. Rara masih berpikir waras dan tak sebodoh itu.
Rendy terus mendekat dan detik berikutnya...Rara menendang aset berharga Rendy, membuat Rendy mengerang kesakitan. Tanpa merasa bersalah Rara segera berlari keluar bukan hanya keluar dari walk in closet tapi juga keluar kamar.
“Bukan salah aku!! Siapa suruh kurang ajar!!” batin Rara
sampai jumpa di episode berikutnya 🌸
__ADS_1
silahkan like and vote jika suka dan silakan ketik komentar kamu kalau merasa ada yang kurang di karya author atau sesuatu yang harus diperbaiki🌸