
Praaanngggg.....
Sebuah piring berisi buah segar melayang ke dinding, buah-buahannya berserakan dilantai bersama dengan pecahan piring.
“sudah ku bilang, aku tak suka buah anggur!! Kenapa kau memasukkan nya ke piring ku?!! Hahh.. kau sudah bosan kerja disini” Vanya menampar dan menjambak rambut pelayan di depannya
“aa..amm..ampunnn..nona.. maafkan saya..jangan pecat saya nona...am..ampunn”lirih pelayan itu meringis kesakitan
“Panggil aku nyonya!!! Aku nyonya disini!!” Vanya menarik kuat rambut pelayan itu hingga beberapa helaian rambutnya tercabut
Prok...prok..
Dari ujung anak tangga Rara menepuk tangan nya, tersenyum sinis pada Vanya. Langkah demi langkah hingga di berada tepat didepan Vanya yang menarik rambut pelayan itu.
“lepaskan dia!!” Rara menatap tajam Vanya
Dengan senyum congkak Vanya melepaskan cengkeramannya kemudian mendorong pelayan itu hingga tersungkur ke lantai.
“kembali ke belakang!” ucap Rara tanpa mengalihkan tatapannya dari Vanya
Pelayan itu menunduk hormat pada Rara dan segera pergi dari situ.
“Ohoo....lihat!!! Si gadis kampung yang berlagak jadi nyonya!! Di depan nyonya yang sebenarnya” cibir Vanya dengan senyum mengejek
“Dan kau lah si gadis kampung itu!!” sarkas Rara membuat Vanya mendelik marah
“kau!! Berani nya berucap begitu. Apa kau mau ini memutuskan nadi mu hahh!!!” ancam Vanya dengan sebuah pecahan piring yang berbentuk segitiga dan runcing
“Heh tersinggung ya?!!” bukannya takut Rara malah tersenyum miring
“kauu!!” Vanya melayang pecahan piring di tangan tepat ke jantung Rara
Dengan sigap Rara menahan tangan Vanya dan meremas nya. Cairan berwarna merah mulai mengalir dari sela-sela jemari Vanya.
“Sshhhh...” ringis Vanya merasa perih saat sudut-sudut tajam pecahan piring itu menyayat telapak tangannya
“Lepaskan tanganku bodoh!!” Vanya berusaha menarik tangan nya tapi tak bisa Rara mencengkeram kuat tangannya
Cairan merah itu mengalir hingga ke siku Vanya dan menetes ke lantai yang bersih itu.
Merasa puas melihat wajah kesakitan Vanya barulah Rara melepas cengkraman nya. Beling yang tadinya berwarna putih berubah jadi merah karena dari dari telapak tangan Vanya.
“Dasar ****** brengsek!!” pekik Vanya memegang tangan nya yang terluka
__ADS_1
“gadis kampung!! Ib.....” belum selesai Vanya mengumpat Rara sudah mencengkeram pipinya membuat mulut nya terjepit dan tak bisa menyelesaikan ucapannya
“Kau mau mulut kotor ini tak berfungsi lagi?! Dengar baik-baik ucapan ku ‘aku sangat tahu siapa Kau dan milik siapa janin itu. Aku punya semua buktinya. Jika kau berani bertingkah di rumah ini aku tak segan melempar mu ke rumah pada pria gila itu' dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya bukan?!” ucap Rara dengan senyum mengerikan
Vanya bergidik ngeri melihat itu “maaf..maafkan aku..aku mohon jangan lakukan itu. Aku tak akan menggangu rumah tangga mu asal kau biarkan aku tetap disini. Aku tak mau betemu pria itu aku mohon “ ucap Vanya terisak bulir-bulir air mulai mengalir dari matanya, dia mengangkup tangan nya memohon pada orang yang sering dia hina
Sekarang Vanya sadar Rara bukan orang biasa. Karena tak mungkin orang biasa bisa mengetahui akan rahasia kelam tentang dirinya.
“baiklah. Jangan berulah atau kau tau akibatnya!!” Rara melepas cengkraman nya kemudian pergi meninggalkan Vanya yang bersimpuh sambil menangis di ruang tamu
Vanya memang jika ingin bersantai dia akan berada di ruang tamu, karena dia tak di perbolehkan masuk ke ruang keluarga.
“maaf...maafkan ibu nak. Maafkan ibu. Ibu juga tak mau jadi orang jahat. Jika saja ayah mu tak berlaku jahat pada ibu, andai saja dia pria baik kita pasti bahagia bersama tanpa menggangu kebahagiaan orang lain. Maaf jika kau harus mendapatkan ibu yang buruk seperti ku” batin Vanya dengan air mata yang terus meluruh sejak tadi
“Berhenti lah menangisi segala hal. Jika kau menangis bayimu akan ikut menangis. Kemarikan tangan mu” wajah Vanya mendongak mendengar suara yang familiar ditelinga nya
Rara ikut bersimpuh didepan Vanya meletakkan kotak P3K di lantai dan membuka nya.
“Kenapa kau disini?” lirih Vanya sesegukan dengan sisa-sisa air mata di wajah nya
“cengeng. Sini tangan mu” Rara menarik tangan Vanya yang terluka dan membersihkan luka nya
“sshh..” ringis Vanya perih di lukanya sangat terasa saat kain kasa dengan cairan antiseptik itu menyentuh luka nya
“tahan. Sakitnya hanya sebentar” Rara membalut luka Vanya yang tak terlalu dalam
“terima kasih Rara dan maafkan aku” hanya kata itu yang mampu Vanya ucapkan
“aku belum bisa memaafkan mu. Mungkin nanti” ucap Rara sebelum pergi dari ruang tamu
🌸🌸🌸
“bagaimana?” ucap Rara lewat telpon
“saya tak bisa mengatakan nya lewat telpon nona. Bisa kah bertemu di tempat yang privasi?” Ucap orang di sebrang
“baiklah temui aku di vila hutan pinus” ucap Rara kemudian mengakhiri panggilan nya
Rara mengemudikan mobilnya melaju membelah jalan raya yang ramai. Sebelum ke Vila Rara menukarkan mobilnya dengan mobil lain sudah di sediakan oleh Dea di parkiran mall ternama. Mobil yang Rara kendaraan membelah keramaian memasukin jalan yang kanan kirinya di isi pohon pinus yang menjulang tinggi.
“Apa yang ingin kau sampaikan. Aku harap hasilnya tak mengecewakan karena semua ini cukup merepotkan” ucap Rara duduk di sofa Vila nya dengan seorang pria berparas menawan khas Eropa itu duduk di depan menenteng beberapa dokumen dan sebuah laptop
“Saya pastikan itu tak terjadi nona” pria itu menunjukkan isi file yang di buka nya di laptop sambil menjelaskan, Rara memegang beberapa lembar dokumen yang sudah di print
“dari informasi yang berhasil saya dapat, pengusaha dengan nama lengkap Rendy Aldarick Atmaja ini memiliki koneksi besar di eropa dan asia dengan para penggelut dunia gelap (mafia). Bukan hanya itu dia juga memiliki koneksi dengan Mafia dark star, semua anggota mafia ini memiliki ciri khas yaitu tato bintang berwarna hitam pada lengan kanan untuk anggota, pada pelipis kiri untuk tangan kanan dan orang-orang kepercayaan pemimpin, dan pada leher bagian belakang untuk pemimpin. Dark star salah satu dari 3 mafia terbesar di Eropa. Dan yang mengejutkan dark star juga pengincar penemuan yang di kembangkan oleh nona, serta jurnal medis milik mendiang Dave. Dark star juga terlibat dengan penyerangan dan kecelakaan 3 tahun lalu. Sampai sekarang para mafia itu masih memburu penemuan dan jurnal medis itu, dari sudut pandang saya Dark star ingin sepenuhnya Eropa dan Asia menggunakan penemuan dan jurnal medis itu. Saran dari saya lebih nona mengumpulkan kembali pasukan untuk pertahanan dan membentengi para mafia yang haus akan kekuasaan itu” jelas pria itu menatap Rara
__ADS_1
“jika mereka ingin membunuh maka biar aku yang terbunuh. Dan semua keinginan mereka musnah. Lebih baik mengorbankan 1 nyawa demi 1000 nyawa. Dan kau jangan pernah membangunkan pasukan yang tidur tanpa perintah dariku Gael” ucap Rara menyebutkan nama pria itu Gael, dia pria yang sama dengan yang menelpon Rara dengan nama eagle
“Tapi Vio, mereka tak akan berhenti sampai disitu. Coba pikirkan setelah kau mengorbankan diri, pergi seperti Dave para mafia itu akan memburu Meisya dan yang lainnya termasuk semua anggota kita. Apa kau tega pergi selamanya dan melihat kehancuran segala, semua orang yang hidup bergantung pada mu akan di hancurkan hanya karena memikirkan segala ketakutan mu itu” tukas Gael tak setuju dengan keputusan Rara karena bagaimanapun itu bukan keputusan yang tepat menurut nya
“lalu kau mau kita mempertahankan segala nya dan mengorbankan ribuan nyawa yang akan gugur oleh para mafia itu hanya untuk sebuah lembaran kertas?! “ Rara menatap Gael tajam
“Bertahan atau tidak semua nyawa dalam tanggung mu pasti akan gugur. Jadi lebih baik kita bertahan untuk mempertahankan. Bukan kah Dave bilang jangan buat kepergian sebagai alasan tak mempermasalahkan hak kita. Ingat Vio itu hak kita!” ucap Gael Tapi Rara tetap diam membantah
“Baiklah terserah padamu. Kita akan lihat jika dengan diam para mafia itu tak bergerak jauh maka aku tak akan membantah, tapi jika mereka tetap menyerang terpaksa aku membantah perintah mu!” putus Gael menghadapi keras kepala Rara
Sedikit banyak Gael mengerti maksud Rara, tapi para mafia itu tak akan berhenti dengan perginya dia. Jika mafia itu seperti pemikiran Rara maka mereka akan berhenti setelah kematian Dave tapi nyatanya untuk menguasai mereka akan membunuh semuanya dan mendapatkan apa yang mereka mau. Itu lah pemikiran Gael.
🌸🌸🌸
Setelah bertemu dengan Gael Rara tak langsung pulang, dia membelokkan mobilnya menuju sebuah bangunan tempat persemayaman sahabat nya dan para anggota nya yang gugur. Sepasang suami-istri yang tampak sudah tak muda lagi menghampiri Rara, kemudian sang istri memberikan sebuket bunga anyelir putih pada Rara.
“Hai..apa kabar?” Rara meletakkan buket bunga anyelir itu dan mengusap sebuah bingkai berisi foto pria berbalut jas dengan senyum yang menawan se akan menyambut kedatangan sang sahabat
“apa kamu tak merindukan aku? Kenapa kamu tak pernah sekedar berkunjung ke mimpi ku?” Mata Rara berkaca-kaca menatap sebuah foto dibingkai itu
“aku rindu kamu Dave. Maaf baru bisa datang, akhir-akhir ini aku sedikit sibuk karena urusan pekerjaan ku semakin banyak dan sekarang aku juga sudah menjadi seorang istri Dave. Kau tahu Dave , Daddy memaksaku menikah dengannya jadi mau tak mau aku harus mengikuti keinginan Daddy tapi kenapa ya makin kesini aku makin nyaman dengan kondisi yang sekarang? Apa ini nama nya cinta Dave? Apa aku jatuh cinta? Hhhmm...tapi ku rasa bukan karena aku selalu kesal dengan ulahnya dan kau bilang kalau jatuh cinta maka kita akan selalu bahagia dan senang disisinya. Jadi sepertinya aku belum bertemu jodohku. Oh ya Dave apa kau tak punya keinginan bangkit kembali? Apa kau rela Meisya menjadi istri orang lain selain dirimu Dave? Ahh..aku bicara apa? Tentu saja kau ingin bukan? Tapi sekarang dunia kita berbeda. Andai saja waktu bisa diulang mungkin semua akan berbeda bukan. Dave maaf aku belum menepati janji ku tapi tenang saja jika aku masih diberi kesempatan bernapas saat bertemu dengannya aku akan menepati nya. Tolong restui semua keputusan ku apapun itu nantinya Dave ” air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya meluruh, mengalir dengan deras dengan isakan pilu menggambarkan betapa sedihnya Rara sekarang
Setelah mengeluarkan semua unek-uneknya dan berdoa, Rara keluar dari bangunan itu dan melajukan mobilnya menuju rumah.
Dirumah
Saat Rara memasukan mobilnya ke garasi, dia melihat ada mobil Rendy disana. Itu tandanya pria itu sudah pulang dari kantor.
“darimana Sweetheart?” suara bariton menyambut Rara saat masuk ke kamar
Rendy duduk di sofa menatap Rara dengan teliti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Di meja terdapat sebuah gelas berisi cairan merah dan sebuah botol. Rendy meminum wine tak biasanya pikir Rara
“tanpa bertanya pun harusnya kamu tahu aku dari mana” Rara menaikkan sedikit kedua bahunya menunjukkan beberapa paper bag yang di tenteng tangan kiri dan kanannya
Beruntung tadi saat menukar mobil Rara sudah meminta Dea untuk belanja beberapa barang untuk alasan agar Rendy percaya.
“kalian para wanita selalu lupa waktu jika sudah berada dipusat perbelanjaan” Rendy menggeleng kan kepala bibirnya membentuk seulas senyum tipis
“mandi dulu baru merapikan belanjaan mu sweetheart. Tak baik jika mandi terlalu malam” sambung Rendy sesekali dia meneguk wine yang berada digelasnya
Rara keluar dari kamar mandi menoleh ke sofa tak ada Rendy disana. Sayup-sayup Rara mendengar suara Rendy dari balkon seperti nya sedang menerima telpon yang entah dari siapa Rara tak peduli. Rara lebih memilih menyantap makan malam yang memang sengaja diantar ke kamar oleh pelayan. Tadi siang sebelum keluar Rara sudah meminta bi Eni untuk memasak makan malam. Setelah makan malam Rara memilih berbaring di ranjang bersiap tidur. Sebenarnya Rara sedikit kepo dengan siapa yang menelepon Rendy malam-malam begini. Dan apa yang mereka bicarakan segitu lamanya pikir Rara. Tapi sekali lagi Rara menepis semua pikiran buruk diotaknya dan memilih tidur dari pada memikirkan hal yang tak begitu penting.
Cklekk..
********************sampai jumpa di episode berikutnya 🌸
__ADS_1
silahkan like and vote jika suka dan silakan ketik komentar kamu kalau merasa ada yang kurang di karya author atau sesuatu yang harus diperbaiki🌸**********************