Menikah Karena Dijodohkan

Menikah Karena Dijodohkan
71


__ADS_3

Melamun sebentar Vanya memikirkan berbagai rencana untuk menyingkirkan Rara dari rumah itu. Senyum jahat terukir diwajahnya.


Makan malam tiba. Vanya sengaja memakai gaun tidur tipis dengan potongan dada yang rendah berharap itu semua bisa menggoda Rendy. Dia melangkah anggun menuju ruang makan terlihat disana sudah ada dua orang yang sedang makan. Rara dan Rendy duduk berdampingan menikmati makan malam mereka.


Dengan percaya diri Vanya duduk di samping Rendy jadilah Rendy ditengah antara Vanya dan Rara. Dia berusaha menarik perhatian Rendy dengan bersandar pada Rendy serta dengan tangannya yang tak bisa dia dan mencoba meletakkan nya di atas paha Rendy. Namun bukan nya tergoda dengan kelakuan memalukan nya sang empu malah beranjak dari duduknya dan duduk di sisi lain dekat dengan Rara. Hal itu tampak jelas membuat Vanya kesal karena rencananya inhin memanasi Rara tak berhasil malah dirinya yang mendapat kekehan kecil mengejek dari Rara.


Dengan segenap harga diri yang tersisa Vanya berusaha bersikap biasa saja, seolah tak terjadi apapun.


“pelayan” panggil Vanya tapi tak ada siapapun yang menyahut dua orang disampingnya asik dengan dunia mereka mengacuhkan nya bagai sesuatu yang kasat mata.


“pelayan” kedua kalinya Vanya memanggil tapi sama tak ada hasil, Vanya terlihat kesal


“tinggal disini anda harus bisa mandiri, bi Eni dan beberapa maid yang lain disini hanya bertugas bersih-bersih kecuali kamar yang anda tempati harus anda bersih kan sendiri, pakaian anda cuci, jemur dan setrika sendiri, untuk makan anda harus menyiapkan sendiri tak ada bantahan anda sebagai penumpang ikuti aturan dari tuan rumah” ucap Rara setelah meletakkan sendok dan garpu nya di piring tanda dia sudah selesai makan


Vanya mengerutkan kening mendengar semua ucapan Rara “oh satu lagi cuci piring dan peralatan yang kau gunakan sendiri, semua yang kau gunakan itu tanggung jawab mu” sambung Rara kemudian membawa peralatan makan yang kotor miliknya dan Rendy ke wastafel dan mencucinya.


“aku tak mau makan makanan ini!! Masakan makanan lain untuk ku!!!” Ucap Vanya dengan arogan


“jika anda tak ingin makan makanan itu silakan masak sendiri bahan makanan ada di kulkas dan ingat jangan menghancurkan dapur ku” ucap Rara sebelum pergi dari ruang makan menyusul Rendy sekarang tinggal Vanya sendiri


Mau tak mau, suka tak suka Vanya terpaksa memakan makanan yang tersaji di meja makan karena dia sama sekali tak bisa memasak. Entah karena bawaan bayi atau memang karena Vanya menyukai masakan Rara semua yang tersaji di meja itu habis di lahap oleh Vanya, sekarang tinggal lah piring-piring dan peralatan makan lain yang kotor diatas meja. Karena tak tahu cara mencuci piring Vanya hanya memasukkan semua alat makan yang kotor ke wastafel, menghidupkan airnya kemudian memasukkan semua sabun cuci piring yang terdapat di samping wastafel. Tanpa mematikan air yang terus mengalir mengisi wastafel, Vanya kembali ke kamarnya tanpa tahu apa yang akan terjadi esok harinya.


🌸🌸🌸


“Apa yang terjadi?” Rara kebingungan melihat beberapa maid berada di dapur tak seperti biasanya pikir Rara


Salah satu maid yang menyadari keberadaan wanita yang terlihat sangat anggun dengan dress maroon selutut itu segera menjawab pertanyaan nya “itu Nya.. seperti nya ada yang lupa mematikan air di wastafel dan saluran airnya tertutup, jadi air yang ada di wastafel meluap dengan semua busa sabun cuci selama semalam” jelas maid itu dengan hati-hati takut Nyonya nya merasa tersinggung. Yang mungkin akan beranggapan dia mengatakan jika ada seseorang yang ceroboh hingga melakukan itu, dan yang bisa melakukan itu hanya dua orang antara tuan atau Nyonya nya. Maid itu tak tahu kalau ada orang baru yang tinggal di situ karena kemarin dia bertugas membersihkan kebun belakang.


Rara menghembuskan napas kesal, kemudian mengangguk pelan.


“Ra, aku mau sarapan roti pake selai kacang dan susu coklat” ucap Vanya tapi terdengar seperti sedang memerintah sebelum duduk persis didepan Rara yang sedang menyiapkan sarapan


Rara yang sedang menata 2 buah piring berisi nasi goreng untuk nya dan Rendy hanya menatap acuh Vanya tapi tetap menuruti keinginan Vanya. Sekarang 2 lembar roti dengan selai kacang dan segelas susu coklat sudah tersedia didepan Vanya.


“morning sweetheart.. please pasangkan dasi ku” ucap Rendy seraya mencium gemas pipi Rara tanpa peduli seseorang dengan yang sedang menikmati sarapannya

__ADS_1


Selesai memasang dasi Rendy. Rara membantu nya memakai jas pemandangan itu tentu membuat hati seseorang panas bagai terbakar atau memang terbakar.


Sarapan pagi berjalan seperti biasa hanya ada satu yang berbeda, anggota nya nambah satu orang.


“hahh....hahhh...Rendy” lirih Vanya sambil menepuk-nepuk dadanya, entah kenapa dia tiba-tiba kesulitan bernapas bahkan kulitnya terlihat pucat


“Vanya.. kenapa?? Kamu makan apa? Sweetheart cepat panggil dokter!!” Ucap Rendy panik secara spontan dia memeluk Vanya sambil menepuk-nepuk pipi Vanya yang sudah mulai hilang kesadaran, sebelum kesadarannya hilang secara total Vanya menunjuk piring yang berisi makanan yang dia makan.


“Rendy dokter Wili tak bisa datang, sebaiknya kita bawa Vanya ke rumah sakit” ucap Rara tenang walau sebenarnya sia sangat panik, melihat kondisi Vanya.


Tanpa menunggu konfirmasi dari Rendy, Rara segera menyiapkan mobil untuk ke rumah sakit. Rendy dan Vanya duduk di kursi belakang supir dan Rara yang menyetir.


“jadi bagaimana keadaan Vanya dan kandungan nya dok?” tanya Rendy sedikit khawatir dengan kondisi Vanya


“Keadaan ibu Vanya sudah mulai membaik dan kandungan nya baik-baik saja. Beruntung saat alergi nya kambuh pasien segera dibawa ke rumah sakit, biar terdengar sepele hanya sebuah alergi tapi jika kambuh dan terlambat ditangani janin serta nyawa pasien bisa jadi taruhannya. Sebaiknya bapak selalu mengawasi makanan yang dikonsumsi istri bapak” jelas dokter setelah memberikan penanganan pada Vanya


“Alergi dok?” ucap Rara bingung menatap dokter didepannya


“iya alergi mba. Dari hasil pemeriksaan saya ibu Vanya ini alergi kacang, mungkin sebelum ibu Vanya memakan sesuatu yang mengandung kacang” ucap dokter dibalas anggukan mengerti oleh Rara


“jika nanti saat pemeriksaan lanjutan kondisi pasien memang membaik maka pasien boleh pulang dan ini resep obat yang harus bapak tebus” ucap dokter menyodorkan sebuah kertas yang berisi resep obatnya yang diterima oleh Rara.


🌸🌸🌸


“Ren..kamu tau Vanya alergi kacang?” Rara berjalan di samping Rendy dengan tangan kanannya menenteng sebuah plastik yang berisi obat milik Vanya


“Iya sweetheart. Why?” Rendy merangkul mesra pundak Rara sesekali mencium gemas pipi sang istri


“Why kamu bilang? Coba kalo sejak awal kamu kasih tau aku. Makanan apa yang bisa dan tidak bisa dimakan Vanya!! Hal ini nggak akan terjadi Ren” tukas Rara kesal membuang mukanya ketika Rendy menatap kearahnya


“tapi sweetheart dia udah dewasa, dia tahu persis apa yang bisa dan tidak bisa dia makan dan dia sebentar lagi punya anak di harus mengurus dirinya sendiri tak perlu orang lain. Aku bicara gini karna aku tau tadi pagi dia sendiri yang ingin makan makanan itu so...itu semua kesalahannya sendiri. Karna jadi orang bodoh!! Dan kamu sweetheart tak perlu membuang muka begitu sudah jelek tambah jelek” ungkap Rendy membuat Rara mendelik mendengar kalimat akhir Rendy


“Ya sudah. Pergi sana, tak perlu merangkul perempuan jelek ini. Jelek heh, ingat orang yang kamu katakan jelek inilah yang setiap malam selalu kamu peluk jadi jangan menghinaku pria brengsek” balas Rara melepas Rangkulan Rendy pada pundaknya


Tapi Rendy malah merangkul pinggang nya kemudian memeluk Rara dengan erat tanpa malu dengan beberapa orang yang berlalu lalang di lorong tersebut “heiiii.. sweetheart gadisku jangan merajuk atau akan ku tunjukkan seperti apa pria brengsek itu sebenarnya” ucap Rendy menjepit lembut dagu Rara diantara ibu jari dan jari telunjuk nya

__ADS_1


“Oh ya..aku jadi penasaran seperti pria brengsek itu” Rara menatap Rendy, tatqp yang menyiratkan sebuah tantangan bagi Rendy.


“Seperti ini..


Bisik Rendy menarik Rara ke lorong sepi dan mencium nya dengan intens, Rara membalasnya berusaha mengimbangi ciuman suaminya itu, Rara mengalungkan sebelah tangan pada leher Rendy, dan sebelah nya lagi mengusap pelan dada bidang Rendy. saat tangan Rendy yang sejak tadi tak bisa diam berbuat lebih dia mendorong dada bidang Rendy hingga ciuman mereka terlepas. Dan tersenyum culas pada suaminya.


“cukup untuk hari ini... sebaiknya kamu menenangkan nya agar tak berontak, bye...my husband” Rara menyempatkan untuk mencium pipi Rendy sebelum berlari dengan tawa puas meninggalkan Rendy yang terpaku ditempatnya


Rendy menyunggingkan senyum nya dengan tingkah istrinya “aku pastikan kamu yang akan menenangkan nya sweetheart” gumam nya melangkah menyusul Rara dengan sesuatu yang tak bisa dijelaskan bangun dalam dirinya. Tak apa karena Rendy sudah biasa dengan hal itu tapi kali ini sangat menjengkelkan karna bangun ditempat yang tak tepat dan pelakunya melarikan diri.


🌸🌸🌸


“Anda sudah bangun rupanya” ucap Rara ketika masuk kamar VVIP, tak ada tawa seperti tadi yang ada hanya wajah kesal dan berucap dengan nada sedikit marah yang Rara lontarkan


Vanya menatap Rara dengan aura permusuhan lalu tersenyum licik “jangan sombong dulu perempuan rendahan lihat saja nanti aku akan menjatuhkan mu dan menginjak wajah sombong mu itu” ucap Vanya menatap benci Rara


“lakukan saja kalau kau bisa. Kita lihat siapa yang akan menjatuhkan siapa!?!” tantang Rara bersedekap dada duduk di kursi samping ranjang pasien


Vanya kesal pada Rara yang selalu berani menjawab ucapan serta ancaman darinya pun ingin membalas dan siapa sangka Vanya berbuat nekat. Tiba-tiba Vanya menodongkan sebuah pisau buah pada leher Rara, bergerak sedikit saja pisau buah itu pasti akan menggores leher Rara.


“Dengar aku tak main-main, kau tinggalkan Rendy dan jangan pernah ada dihidupnya lagi atau aku akan membunuhmu dengan Segala cara” ancam Vanya, yang tentu saja bukan ancaman kosong karna buktinya sekarang Vanya berani menodongkan sebuah pisau pada Rara


“Lakukan saja kalau kau berani karena aku tak akan tunduk atas perintah siapapun juga” Rara mencengkeram tangan Vanya tapi tak menyingkirkan pisau itu


Hal ini membuat Vanya geram dan tiba-tiba membalik keadaan, seakan Rara yang menodong nya dengan pisau dan dia berusaha menahan tangan Rara.


Trentenggg...


“Aaaaaaaaa....”


hayo, siapa yang teriak ****readers****? penasaran? baca episode berikutnya ya. ikuti terus cerita Rara dan Rendy readers.


********sampai jumpa di episode berikutnya 🌸


silahkan like and vote jika suka dan silakan ketik komentar kamu kalau merasa ada yang kurang di karya author atau sesuatu yang harus diperbaiki🌸************

__ADS_1


__ADS_2