
“Ais bego amat sih gue ini kan kantor kalo ada yang denger gimana?” batin Dea, Ya walau dilantai itu dikhususkan ruangan CEO siapa yang tahu kalo ada salah satu karyawan yang kebetulan berada di situ?
“eh..! Kenape lo ? Kerja oi! Kerja!” Dea mendelik tajam pada Johan, suara nyaring Johan membuat telinga nya berdengung
“ini juga mau lanjut kerja” gerutu Dea melangkah ke arah mejanya, dia harus menyelesaikan karyawan kurang kerjaan itu
🌸🌸🌸
“Huph!” Rendy melonggarkan dasinya sembari bersandar di kursi. Kepalanya sangat pening dengan masalah akhir-akhir ini, dimulai dari Vanya yang terus menelpon meminta transfer uang lah dan berbagai macam Rendy sebenarnya muak untuk meladeni Vanya tapi sebelum penyelidikan nya membuahkan hasil dia harus tetap seperti ini, serta istrinya yang lebih memilih makan diluar bersama teman-temannya daripada dia.
“Tok...tok..tok..”
“Masuk!”
“Ini berkas laporan dari bagian marketing” Reno meletakkan sebuah berkas dengan map palstik berwarna kuning
“hm” Rendy hanya melirik berkas yang di bawa Reno
“Masih belum selesai masalah nya?” padahal tanpa bertanya pun Reno sudah tahu dengan melihat Rendy yang sedikit uring-uringan setiap harinya
“Hm”
“yakin? Orang yang lo suruh itu gak berhianat?” Reno duduk di depan Rendy dengan meja yang menjadi jarak mereka
“mereka pasti berhianat” akhirnya Rendy membuka suara juga
“T’rus sampai kapan lo tetap biarin mereka bebas? Ingat sekarang lo gak sendiri, bisa jadi mereka gak Cuma berhianat. Gimana kalau mereka balik nyerang lo? Lo mungkin bisa jaga diri tapi gimana sama istri lo yang gak tau apa-apa? Dia udah pasti terseret dalam masalah ini” Reno sangat tak mengerti jalan pikiran Rendy dengan memilih membebas kan para penghianat itu sangat bukan seorang Rendy
🌸🌸🌸
“Tok..tok..tok..”
“masuk”
Seorang karyawan perempuan keruangan Rara. Dari id card nya Rara tahu, perempuan itu bernama Kia dari bagian divisi pemasaran. Kia yang ditatap oleh Rara merasa benar-benar takut seperti sedang berhadapan dengan maut saja.
__ADS_1
“apa tujuan mu?” Nada bicara Rara mungkin terdengar tenang, tapi menakutkan dan sangat mengintimidasi lawan bicaranya
“A..ap..apa ma..maksud..ib.. ibu?” Kia seketika gagap saat menjawab pertanyaan Rara
“tak perlu memanggil ku ibu! Aku bukan ibu mu! Dan apa tujuanmu?” ucap Rara
“sa..saya tidak punya tujuan apapun nona” sangal Kia
“Tak sopan berbicara sambil menunduk! Apa lantai itu yang sedang berbicara dengan mu?” Kia gemetar mendengar suara terkesan tenang tapi mematikan
Kia menegakkan perlahan kepala. “Ternyata benar gosip itu kalau CEO nya perempuan. Tapi kenapa memakai topeng” batin alasan
“Saya bertanya!” ucap Rara
“sa..saya melakukan nya hanya kerena penasaran dengan gosip yang ada di perusahaan” Kia masih berusaha menyangkal
“yah kau memang tak punya tujuan melakukan nya” Kia merasa senang mendengar ucapan Rara
“lalu atas perintah siapa kau melakukannya?” sambung Rara kali ini Kia benar-benar merutuki semua kebodohan nya
“Katakan dengan jujur atau keluarga mu dalam bahaya?” Rara tak memberi kesempatan untuk Kia mencari alasan
“saya tidak mengenal nya. Dia hanya menyuruh saya melakukannya dan meninggalkan cek, kebetulan saat itu keluarga saya sedang membutuhkan uang untuk membayar utang pada rentenir, dan biaya berobat ibu saya” aku Kia
“Besok kau dimutasi ke kantor cabang di Semarang!” ucap Rara
“baik nona, saya pamit undur diri” Ucap Kia
Rara tersenyum sinis “huh lumayan terlatih” gumam Rara
Rara menelpon seseorang dan memerintahkan orang itu melakukan sesuatu.
🌸🌸🌸
Jika ada terbit maka ada tenggelam, jika ada awal pasti ada akhir. Mentari mulai turun dan akan tenggelam diantara gunung-gunung.
__ADS_1
Sambil menenteng jas dan tas kerja Rendy melangkah masuk ke kamar. Di kamar Rendy di suguhi dengan pemandangan kurang menyenangkan sang istri mencueki nya dan lebih memilih fokus pada ponselnya. Padahal itu kan sudah hal biasa yang terjadi antara mereka tak saling peduli.
Makan malam pun dilalui dengan keheningan dan Rendy tahu penyebab nya. Seperti istrinya itu marah padanya dengan alasan yang pastinya sangat Rendy ketahui.
Rendy berjalan kearah wastafel dimana Rara mencuci piring. Rendy meletakkan piring kotor miliknya di wastafel.
“Grep” Rendy memeluk Rara dari belakang
“Maaf” Rara tetap tak terusik dengan bisikan Rendy
Rara sudah selesai mencuci semua peralatan makan yang kotor, tapi Rendy masih tak melepaskan pelukannya.
“lepas Ren!” pinta Rara tapi Rendy hanya membalas nya dengan gelengan kepala
“Mau kamu apa sih Ren?” tanya Rara
“Aku mau kamu maafin aku” ucap Rendy di samping telinga Rara, membuat bulu kuduk Rara meremang
“apa yang di maafin?” ucap Rara
Rendy membalikkan badan Rara jadi menghadap nya “maaf aku udah keterlaluan tadi malam, jangan cuekin aku Ra” Rengek Rendy
“ya kamu emang keterlaluan, aku maafin awas aja kalau ada yang kedua kalinya” ancam Rara
“Yang kedua kalinya kamu gak akan tidur nyenyak lagi Ra” ucap Rendy terkekeh
“dan aku pastiin kamu dapat ini untuk kedua kalinya” Rara mengangkat kepalan tangannya
“coba aja kalau bisa” ucap Rendy
“Cupp” Rendy mencium sekilas bibir Rara kemudian berlari ke kamar
“Rendyyyy.....!!!” teriak Rara berlari mengejar sang suami kurang ajarnya itu
********sampai jumpa di episode berikutnya 🌸
__ADS_1
silahkan like and vote jika suka dan silakan ketik komentar kamu kalau merasa ada yang kurang di karya author atau sesuatu yang harus diperbaiki🌸********