
Hal ini membuat Vanya geram dan tiba-tiba membalik keadaan, seakan Rara yang menodong nya dengan pisau dan dia berusaha menahan tangan Rara.
Trentenggg...
“Aaaaaaaaa....”
Sebuah nampan stainless jatuh ke lantai dan makanan didalam berserakan dilantai diiringi dengan teriakan seorang suster yang membuat suasana gaduh seketika. Dokter dan seorang suster lainnya yang berada disekitar situ segera menghampiri suster yang berteriak tadi.
“ada apa suster?” tanya dokter tersebut menatap wajah pucat suster didepan nya dia tahu ada yang tak beres
“i...itu dok....
“suster... dokter...tolong saya..” belum selesai suster tersebut berbicara sebuah teriakkan membuat mereka semua mengalihkan atensinya
“dokter kenapa anda diam saja..!! Cepat tolong saya...pasien ini mau bunuh diri dok..!!” pekik Rara panik, Rara juga yang tadi memotong ucap suster. Dokter dan 2 suster itu segera membantu Rara menarik tangan Vanya yang memegang pisau buah menjauh dari leher Vanya dan berusaha merebut pisau itu
“Ti..tidak dok saya...
“Cepat dok...ikat saja dia agar tak melakukan hal berbahaya lagi” ucap Rara memotong ucapan Vanya. Si dokter mengikuti saran Rara dia mengikat tangan Vanya menggunakan selimut dan berusaha menenangkan Vanya yang berontak
“ada apa in?i” suara bariton menggema di kamar itu membuat orang-orang takut
“sayang...ini loh adik kamu kambuh lagi. Dia depresi sayang!!” ucap Rara menjawab pertanyaan tiba-tiba tadi membuat Vanya semakin memberontak dan mendelik marah pada Rara
“apa yang terjadi?” tanya Rendy kembali menghampiri Rara
“Ini sayang. Tadi Vanya mau bunuh diri gara-gara depresi, dia mau gorok leher nya sendiri terus aku mau tenangin dia tali aku malah diancam beruntung tadi ada dokter dan suster yang bantu aku gagalin rencana bunuh dirinya” ucap Rara dengan polos dan raut wajah ketakutan memeluk Rendy
__ADS_1
“but..are you okey sweetheart? Nggak ada yang luka kan?!” tanya Rendy cemas mendengar cerita yang dikarang asal oleh Rara
“Aku baik-baik aja” ucap Rara tersenyum mengejek pada Vanya, kemudian melerai pelukan nya
“jadi bagaimana kondisi Vanya dok?” tanya Rendy melirik Vanya yang terdiam di atas ranjang dengan tangan terikat selimut
“begini pak, jika memang pasien mengalami depresi atau gangguan lainnya lebih baik segera dibawa ke psikiater agar tak membahayakan nyawanya sendiri atau orang lain. Dan jika bapak bertanya kondisi pasien pada saya, sebetulnya saya tidak bisa mengatakan apapun karena bukan bidang saya. Saya tadi hanya kebetulan lewat bersama suster setelah melakukan operasi dan mendengarkan ada yang teriak minta tolong jadi kami kesini” jelas dokter itu seadanya, karena memang benar dia bukan dokter yang biasa memeriksa keadaan Vanya dan tak mungkin ikut campur urusan dokter lain yang dibalas anggukan mengerti oleh Rendy
“Huh... akhirnya” ucap Rara setelah suster dan dokter tadi keluar dari kamar rawat Vanya
Rendy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Rara.
“darimana saja kamu?” Rara mendongak menatap Rendy yang berdiri sedang dia duduk di sofa yang tersedia dikamar rawat Vanya
Rendy duduk samping Rara “tentu saja menyelesaikan sesuatu yang kamu mulai sweetheart, kenapa? Apa kamu merindukan ku sweetheart?” ucap Rendy sengaja menggoda Rara
“berhenti menggoda ku dan aku tidak merindukan mu!” ketus Rara menimpuk pundak Rendy dengan bantal sofa
“Jadi saat aku masuk dan hendak duduk di samping ranjang Vanya, dia tiba-tiba menodongkan sebuah pisau buah pada lehernya dan mengancam ku jika aku tak setuju pisah dengan kamu dia akan membunuh dirinya sendiri. Lalu aku berusaha merebut pisau nya dan kebetulan saat itu datang seorang suster yang membawakan siang untuk Vanya, aku segera berteriak minta tolong pada dan setelah itu barulah dokter dan seorang suster lainnya datang membantu untuk menenangkan Vanya. Dan jika aku boleh memberi kamu saran sebaiknya, kamu masukkan saja gundik mu itu ke rumah sakit jiwa atau dia akan membahayakan nyawa semua orang” jelas Rara tak sepenuhnya berbohong dengan senyum tersungging di bibirnya
“huuaah..percaya padaku sweetheart aku tak punya hubungan apapun dengan Vanya. Dan bayi itu..aku yakin bukan milikku” ucap Rendy resah mendengar nada bicara Rara yang mulai berbeda kemudian melirik singkat ke arah ranjang rawat yang tak jauh dari tempat mereka duduk.
Ranjang rawat tempat dimana Vanya tertidur karena baru saja diberi obat tidur pada infus nya yang tentunya dosis yang dianjurkan oleh dokter kandungan.
“Aku percaya..dan apa maksud tanggapan mu? yang tak ada hubungannya dengan cerita” ucap Rara menatap Rendy dengan senyum
“kamu bilang percaya sweetheart tapi kenapa kamu bilang dia gundik ku? Apa karena kamu belum melihat bukti nyatanya kalau aku tak pernah berhubungan lebih dengan Vanya? Jika iya, maka aku harap setelah melihat apa yang aku bawa ini kamu bisa percaya dengan ucapan ku” ucap Rendy seraya mengeluarkan ponsel dari saku celana nya dan menelpon seseorang. Menyuruh orang itu untuk membawa sesuatu ke ruang rawat Vanya.
__ADS_1
Tak lama setelah, seorang laki-laki dengan postur tubuh hampir sama dengan Rendy, dengan tubuh yang berbalut pakaian formal, dilihat dari wajah nya dia tidak sepenuhnya orang Indonesia lebih mirip seperti blasteran masuk dan membawa sebuah laptop dan dokumen yang entah apa isi nya.
“ini tuan” ucap laki-laki meletakkan laptop dan dokumen tadi diatas meja
“hm kau boleh pergi sekarang” ucap Rendy kemudian laki-laki itu keluar dari ruang rawat tersebut.
“Apa ini?” tanya Rara menatap penasaran
“bukalah!” Rendy menyodorkan dokumen yang dibawa laki-laki tadi pada Rara sedangkan dia mengotak atik laptop didepan nya.
Saat membuka dokumen itu terpampang beberapa foto didalam nya disitu menunjukkan seorang laki-laki yang tak sadar kan diri di papah oleh seorang perempuan dan laki-laki yang terlihat seperti seorang bartender hendak masuk ke dalam sebuah kamar club. Di foto lainnya menunjukkan perempuan yang sama sedangkan berbicara dengan laki-laki yang tak bisa dikenali wajahnya karena memakai topeng di luar club. Begitu foto-foto berikut nya yang menunjukkan berbagai bukti. Dan pastinya sudah bisa di tebak siapa yang ada di foto itu, laki-laki yang tak sadar kan diri jtu adalah Rendy dan perempuan itu adalah Vanya.
Rara menaikkan sebelah alisnya menatap foto itu bisa di pastikan foto-foto itu berasal dari CCTV.
“Masih tak percaya? Ini bukti yang lebih kuat!!” ucap Rendy memperlihatkan layar laptop pada Rara
Di laptop itu menunjukkan semua kejadian dari awal sampai akhir, bahkan CCTV nya sampai kedalaman kamar club disitu terlihat, Vanya dan bartender merebahkan Rendy di ranjang kemudian Vanya membayar si bartender dan saat bartender sudah keluar dari kamar itu Vanay melepaskan pakaian Rendy dan pakaian miliknya dan mulai berpose sedemikian rupa sambil memotret kegiatan nya.
“baiklah aku percaya kamu bersih dari semua tuduhan Vanya” ucap Rara tak mau melihat lebih lanjut video CCTV yang menampilkan kelakuan tercela Vanya, Rara memilih menatap ke sembarang arah
“begitu saja?” ucap Rendy seolah tak percaya dengan reaksi Rara yang kelewat santai tanpa emosi dan tak terkejut dengan semua nya
“Lalu? Kamu mau aku menangis terharu? Atau berjingkrak kegirangan? Atau apa?” ucap Rara kesal menatap masam Rendy
“bukan begitu, tapi setidaknya beri aku hadiah sweetheart sebuah ciuman, pelukan misalnya atau sesuatu yang lebih dari itu” pinta Rendy menaik turunkan alis nya seolah mengkode sesuatu pada Rara
Tak perlu berpikir Rara sudah tahu maksud dari ucap Rendy lantas berkata “dasar suami mesum..buang jauh-jauh pikiran menjijikkan mu itu” Rara melempari wajah menyebalkan Rendy dengan bantal sofa
__ADS_1
**********sampai jumpa di episode berikutnya 🌸
silahkan like and vote jika suka dan silakan ketik komentar kamu kalau merasa ada yang kurang di karya author atau sesuatu yang harus diperbaiki🌸************