
“Rara.. sweetheart are you akey?!” ucap Rendy menepuk-nepuk pelan pipi Rara tanpa mempedulikan keningnya yang berdarah karena terhantam dasboard mobil. Bahkan tak memperdulikan setiap peluru yang meluncur mengenai mobil, mobil ini memang sengaja didesain dengan semua yang anti peluru bahkan kaca nya, tapi kondisi bagian depan mobil yang rinsek parah tak akan bisa membantu.
“heum” dehem Rara mengangguk membuka perlahan kedua matanya pemandangan yang sangat tragis adalah hal pertama yang ditangkap oleh Rara
Rara berusaha mengontrol perasaan nya. Rasa takut, sedih, marah seakan kembali merenggut jiwa. Kenyataan yang sangat Rara benci seakan bangkit kembali. Batinnya bagai berbisik berkata ‘semuanya terulang... semuanya terulang'
“Rara...” Rendy mengguncang kedua bahu Rara membuat Rara tersadar dari syoknya dan akal sehatnya kembali
“iya I am okey” balas Rara mencoba untuk mengendalikan dirinya
“tetap disini!! jangan keluar!! apapun yang terjadi okey” ingat Rendy sebelum keluar dengan membawa sebuah pistol
Baku tembak kembali terjadi tapi tetap sama Rendy kalah jumlah, dan juga sekarang Rendy hanya melawan dengan sebuah pisau lipat karena dia sudah kehabisan peluru ditambah lagi lengan kiri Rendy tergores peluru membuat nya mengalami sedikit kesulitan.
“Dor..dor...dor..” salah satu dari kelompok tersebut melayang kan peluru bertubi-tubi ke kaca mobil tempat dimana Rara berada
Melihat situasi yang kurang menguntungkan, Rara tak lagi mengindahkan peringatan untuk tak keluar dari dalam mobil. Dengan berbekal sebuah pisau kecil yang ada di dasboard mobil serta ilmu bela diri Rara membantu Rendy melawan kelompok penjahat tersebut. Dengan keahlian serta kelincahan nya Rara berhasil melumpuhkan beberapa orang dari kelompok tersebut serta merebut senjata mereka.
Sedangkan Rendy sibuk dengan satu lainnya yang terlihat seperti pemimpin dari kelompok itu. Mereka bertarung hanya menggunakan tangan kosong, lawannya melayangkan sebuah pukulan tapi berhasil dihindari.
Dan sisanya hanya ada dua orang yang bertarung melawan Rara. Rara melempar pisau lipat milik nya berhasil mengenai pundak salah satu orang tersebut. Dan menendang perut musuhnya. Tapi sayangnya Rara sedikit lengah hingga terlambat menyadari ada sesuatu yang melayang ke arahnya.
“srash...” Rara mengernyit merasa perih pada area lengan kirinya dan ternyata sebuah senjata yang berbentuk bintang dengan mata pisau disekelilingnya menancap di lengan Rara
Sebelum orang itu bertindak lebih jauh Rara lebih dahulu melempar senjata yang tadi menancap di lengan nya, tanpa peduli dengan darah yang mengalir dari lengannya serta rasa sakit. Lemparan Rara tepat sasaran mengenai jantung hingga musuhnya mati seketika.
Sedangkan Rendy sudah berhasil melumpuhkan pimpinan kelompok tersebut tanpa luka sedikitpun.
“siapa mereka?” tanya Rara saat Rendy menghampiri nya
“mungkin kiriman salah satu saingan bisnis ku” jawab Rendy memasang kembali jas nya seakan tak terjadi apapun
Rara tersenyum miring mendengar jawaban Rendy, orang awam pun tahu itu tadi bukan lah orang bayaran.
“kau terluka?” pertanyaan bodoh itu entah bagaimana meluncur begitu saja dari mulut Rendy, padahal dengan melihat Tanpa bertanya pun semua orang pasti tahu Rara sedang terluka dengan darah yang terus mengalir dari lengannya
__ADS_1
“hahaha.. pertanyaan macam apa itu tuan?” ucap Rara dengan tawa sumbang menatap Rendy dengan tatap yang sulit diartikan
“Kemarilah” ucap Rendy duduk di atas kap mobil dengan sedikit kebingungan Rara menghampiri Rendy dan duduk disebelahnya
“sini ku lihat luka mu” ucap Rendy menarik pelan lengan kiri Rara dan entah mengapa Rara kembali hanya menurut tanpa banyak tanya seperti biasanya
Rendy membuka kotak P3K yang selalu dia bawa di mobil, dan membersihkan luka Rara dengan telaten. Mata Rara terpaku menatap Rendy, alisnya yang tebal, rahang yang tegap dan bola mata yang berwarna biru bagai air laut itu bagai menyihir Rara. “Astaga...tuhan kok aku baru sadar ya Rendy ganteng banget..eh...kok ganteng sih? Gak Rendy itu jelek kek pantat monyet. Ngapain jadi bahas Rendy sih? Ayo fokus Rara sadar..” batin Rara ,Tak terasa Rendy sudah selesai membalut luka dilengan Rara.
“sweetheart ...are you okey?..sayang kamu kenapa?” Ucap Rendy melambaikan tangannya membuyarkan lamunan Rara
“iya sayang...eh” Rara kaget sendiri dengan ucapan nya tadi
“I love you sweetheart” Rendy memeluk Rara tiba-tiba
“I love you too Ren, sorry tapi perasaan ku masih abu-abu. Tolong biarin aku egois kali ini “ batin Rara
🌸🌸🌸
“eh..Vika kampret tunggu” teriak Dira berlari mengejar Vika
“Ehh...maaf..maaf..saya gak sengaja” Dira mengambilkan amplop yang terjatuh karenanya dan menyerahkan pada pemiliknya
“in..Lo!!” Dira terkejut saat mengetahui siapa yang dia tabrak
“Dokter kandungan? Lo hamil?” ucap Dira setelah tahu dari ruang mana orang itu keluar
“bukan urusan lo!” Ucap orang itu sinis merebut amplop di tangan Dira kemudian pergi
“Huh! Dasar ****** sombong!!” teriak Dira kemudian melangkah menuju ruangan Vika
Jadi, Vika itu dokter ya guys. Devika Indira dokter anak dan Dira, dia merupakan model ternama yang terkenal akan kencantikan dan profesional nya dalam bekerja.
🌸🌸🌸
Rara dan Rendy pulang ke rumah dengan mobil SUV milik Rendy yang rinsek di bagian depannya.
__ADS_1
Rendy mandi lebih dulu dari Rara“Mandi dengan air hangat sweetheart” ucap Rendy sebelum Rara masuk ke kamar mandi
“aku tahu” jawab Rara seadanya
Rara keluar dari kamar mandi dengan kaos over size yang hampir selutut dan hotpants sepaha. Kemudian duduk di depan meja rias mengaca sambil melihat luka ditangannya. Rara merasa sedikit kesulitan mengganti perban luka nya tapi gengsi meminta bantuan Rendy. Dan dengan acuh Rendy hanya menatap Rara yang kesulitan tanpa ada niat untuk membantu malah dia memilih memangku laptop dan mengecek beberapa file penting.
Dengan sedikit kesal Rara menghampiri “Ren gantiin perban lengan ku” pinta Rara tanpa mau menatap Rendy
“minta tolong tuh yang ikhlas sweetheart, jangan nunduk dan kepaksa” ucap Rendy menutup laptopnya dan menaruhnya diatas nakas
Ingin sekali rasanya Rara menggeplak kepala Rendy yang sok tapi apa daya sekarang Rara benar-benar butuh bantuan “Rendy tolong gantiin perban lengan ku” ucap Rara menatap Rendy dengan senyum manisnya
“sini dulu” Rendy menunjukkan pipi kanannya
“Iih.. ogah kagak ikhlas banget mau nolong minta imbalan” tukas Rara dengan cemberut
“Itu bukan imbalan tapi ucapan terimakasih. Gak mau yaudah” ucap Rendy hendak kembali mengambil laptopnya
“cupp...udah puas?” Ucap Rara menatap kesal Rendy
“Belum”
“Ck!! Rendy gantiin perban nya” ucap Rara menyodorkan perban pada Rendy
“iya..bawel untuk sayang” ucap Rendy sebelum mengganti perban Rara
“maka nya waspada jangan lengah dan kalo di kasih tau itu didengar bukan Cuma masuk kanan keluar kiri” kata Rendy saat Rara meringis perih
Bohong jika saat itu Rendy tak panik melihat Rara istrinya keluar mobil dan menghadapi kelompok yang menghadang mereka. Apalagi saat melihat Rara terluka Rendy merasa sangat gagal sebagai suami dia tak bisa menjaga Rara.
****segitu dulu ya readers, semoga suka dan gak bosan baca nya
********sampai jumpa di episode berikutnya 🌸
silahkan like and vote jika suka dan silakan ketik komentar kamu kalau merasa ada yang kurang di karya author atau sesuatu yang harus diperbaiki🌸**********
__ADS_1