Menikah Karena Dijodohkan

Menikah Karena Dijodohkan
74


__ADS_3

“Tak ada yang lain. Sisanya untuk Segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya” jawab Rara sebelum memilih beranjak dari sana


Rendy hendak beranjak menyusul Rara, tapi bunyi dering ponsel membuat Rendy mengurungkan niatnya dan meraih ponsel yang tergeletak di atas meja itu. Rendy memanggil istrinya tapi sepertinya Rara tak berada di kamar jadi tak mendengarkan Rendy.


‘eagle’ itu lah nama yang tertera di ponsel Rara, bukan maksud untuk lancang tapi karena ponsel Rara kembali berdering dan nama yang sama tertera di layar ponsel itu membuat Rendy mengangkat nya.


“Halo nona” suara dari sebrang ketika Rendy mengangkat panggilan nya


“nona..halo..nona” ucap orang di sebrang kembali karna tak mendapat jawaban


“iya halo” seru Rendy dan tiba-tiba sambungan terputus


Tutt...


Panggilan di akhiri oleh orang di sebrang. Berbagai pertanyaan muncul di benak Rendy dan disaat bersamaan ponselnya juga berdering.


Rendy meraih ponselnya yang berada di nakas. Terdengar suara air mengalir dari shower tampaknya Rara sedang mandi.


“Ada apa?” itulah hal pertama yang terlontar dari bibir Rendy setelah mendudukkan bokongnya di tepi kasur


“Ada yang membobol sistem kita bos. Mereka membuka data pribadi anda, beruntung anak buah kita cepat bertindak dan menyerang balik jadi semuanya aman” jelas orang di sebrang


Rendy mengangkat sebelah alisnya “aman bagaimana? Kalau berhasil di retas. Apa kau sudah melacak pelakunya?” tukas Rendy matanya melirik ke arah pintu kamar mandi waspada Rara keluar dari sana


“Pelakunya sangat pintar bos. Dia tak meninggalkan jejak sedikit pun dan tak bisa di lacak. Seperti nya dia bukan hacker sembarangan, dia meretas dengan sangat bersih nyaris tak ketahuan” ucap orang di sebrang


“Kuat kan keamanan kembali, dan segera temukan pelakunya!” titah Rendy menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang


“baik bos”


Tutt...


Rendy mengakhiri panggilan nya dan meletakkan kembali ponselnya ke nakas.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Rara dengan perlahan membuka laci-laci serta lemari yang berada di kamar. Dan seperti dugaan nya, dia menemukan sebuah pistol. Perlahan jemarinya terulur menyentuh pistol itu, rupanya pistol itu terisi 5 buah peluru.


“siapa Rendy sebenarnya? Dan apa yang dia sembunyikan?” batin Rara meneliti detail pistol yang di pegang nya


‘clekk’ suara handle pintu terbuka, tampaknya ada yang masuk kedalam kamar diiringi dengan bunyi langkah yang bersentuhan dengan lantai


“Siapa yang masuk?” gumam Rara dengan segera dia meletakkan pistol tersebut ke tempat semula kemudian bergegas keluar dari walk in closet


“apa yang kau lakukan?” ketus Rara menatap perempuan yang dengan lancangnya berbaring di kasurnya


“Ehh...ada cewe kampung. Kenapa? Aku juga berhak di sini dan sebentar lagi kau akan tertendang keluar” ucap perempuan itu yang tak lain adalah Vanya yang kemudian duduk di tepi kasur menatap rendah pada Rara


“cihhh!! Terlalu percaya diri” decih Rara dengan sinis dengan kuat diq menarik lengan Vanya agar beranjak dari kasur


“uupss...calm..calm upik abu atau kau mau merasakan dinginnya pisau ini menggores leher mu” ucap Vanya mengarahkan pisau lipat nya pada leher Rara sebelum menekan nya perlahan


Cairan berwarna merah mulai mengalir dari leher Rara, cairan itu mulai menodai baju yang Rara kenakan. Tapi ekspresi Rara yang tak berubah membuat Vanya geram dan menekan lebih dalam lagi pisau lipat nya.


“oh..ayolah dimana ekspresi mu? Sakit bukan? Berjanji lah ceraikan Rendy, maka aku akan melepas nya” ancam Vanya dengan tangan sedikit bergetar


“Berhenti meminta hal yang tak akan kau dapat atau pisau ini akan memutuskan pembuluh darah arteri mu dan kau tahu bukan apa yang terjadi selanjutnya! Apa kau mengerti?!” bisik Rara dibalas anggukan dari Vanya


“jawab! Apa kau mengerti?!” tukas Rara tanpa melonggarkan ancaman nya


“iii...iyaaa” jawab Vanya lemah


“iya? Iya apa?!”


“Ii...iyaaa...aaa..aakuu..mm.. mengerti”


“Good” sekarang Vanya bisa bernapas lega, Rara sudah melepas nya bahkan mendorongnya untuk keluar dari kamar itu


“sssttt...” desis Rara mwnyentuh luka pada leher nya tak terlalu dalam, diambilnya kotak P3K dan segera mengobati lukanya dan membalut nya dengan plester


Drtttt...

__ADS_1


Rara segera meraih ponselnya yang berada di dalam saku celananya. Dia merasa tak asing melihat nama yang tertera ‘my husband'. Dan ya dia baru ingat akan sesuatu dan mengangkat panggilan nya.


“ha...”


“Kenapa lama sekali mengangkat nya?” cerocos dari sebrang tanpa mendengar sapaan dari Rara


Rara merotasi bola matanya, mendengar suaranya saja membuat nya malas “aku tadi di kamar mandi” alibi Rara


“Oh benarkah? Apa yang kamu lakukan di kamar mandi?” tanya orang di sebrang dengan senyum mengembang


“Tentu saja. Aku masak, dasar pertanyaan konyol tentu saja mandi” ketus Rara sembari melangkah ke dalam walk in closet dan membuka koper miliknya dan mengeluarkan sebuah laptop


“ah iya. Bagaimana sweetheart? Apa kamu merindukan ku atau mau menyusul ku ke kantor?” Tawar Rendy membuat Rara semakin jengkel


“Apa kamu menelpon ku hanya untuk menanyakan hal itu? Dan dengar baik-baik jawabannya aku tidak merindukan mu atau berniat menyusul mu! Dan juga jika aku merindukanmu sekarang aku pasti sudah ada di kantormu” balas Rara dengan tangannya yang terus mengotak-atik laptop dan memasukkan beberapa digit kode


“Humm..dan aku menunggu saat itu tiba. Dimana kamu akan menyusul ku ke kantor hanya karena rindu” ucap Rendy di sebrang membuat Rara menghentikan aktivitas nya sejenak menatap layar laptopnya


“dan ku harap itu tak akan terjadi” balas Rara dan setelah nya memutuskan sambungan teleponnya


Dengan wajah kesal Rara mengaktifkan mode silent.


Sedangkan di tempat lain..


Tepatnya di kantor, Rendy tersenyum sendiri menatap layar ponselnya yang menampilkan seorang perempuan sedang tertidur dengan posisi menyamping. Dan perempuan itu tak lain adalah Rara istrinya. Mendengar jawaban ketus serta nada kesal dari sang istri setidaknya bisa membuat nya lebih semangat mengerjakan tugas kantor nya dan rasanya dia sangat ingin cepat-cepat pulang lalu memeluk sang istri, itupun jika tak di amuk oleh Rara. Rasanya saat di kantor waktu berjalan sangat lah lamban serta file-file yang terasa sangat banyak padahal sebagian besar tugasnya di kerjakan oleh asistennya Reno, sedangkan saat bersama dengan Rara waktu terasa berjalan sangat cepat.


Ah..apa Rendy sekarang sedang dimabuk cinta atau hanya sebuah perasaan sesaat karena biar pun cuek Rara tetap melakukan kewajiban sebagai istri, mulai dari menyiapkan pakaian, makanan memasangkan dasi segala dipenuhi oleh Rara kecuali kebutuhan biologis Rendy. Humm... entahlah Rendy sendiri pun bingung karena itu dia tidak memaksa untuk memenuhi kebutuhan biologis nya dan jika dia sudah yakin dengan perasaan nya baru dia melakukan.


“Haii...Ren” suara lembut yang mampu mengguncang dan memporak-porandakan hati Rendy mengalun merdu di telinga Rendy. Perlahan Rara melangkah mendekat ke arah Rendy dan berhenti di depannya


“sweetheart....kamu menyusulku” ucap Rendy mengadahkan kedua tangan, jemarinya menyentuh lembut pipi Rara


“Rara.. sweetheart kenapa rambut mu pendek? Dan ada apa dengan parfum mu?” jemari Rendy mengacak-acak rambut Rara dan anehnya rambut itu sangat pendek, aroma parfum nya juga aneh kenapa berbeda dari biasanya pikir Rendy


**************sampai jumpa di episode berikutnya 🌸

__ADS_1


silahkan like and vote jika suka dan silakan ketik komentar kamu kalau merasa ada yang kurang di karya author atau sesuatu yang harus diperbaiki🌸****************


__ADS_2