
-Keesokan Harinya
Saat ini Clara sudah berada di dalam mobil menuju tempat orang yang selama 8 tahun Clara rindukan, setiap saat Clara selalu merindukan orang itu dan selalu ingin cepat cepat bertemu namun terhalang oleh kesiapan Clara, karena bila bertemu dengan orang yang Clara rindukan itu otomatis Clara akan bertemu dengan orang yang telah menyakiti Clara dan Clara belum siap akan hal itu
namun sekarang Clara sudah cukup kuat entah itu hatinya, fisiknya dan mentalnya, jadi dia tidak ingin menunda waktu lagi
Selama perjalanan Clara selalu menatap ke arah jendela menatap jalanan yang masih sangat dia ingat sampai sekarang
'Bismillah kuat' Batin Clara
Tak lama mobil Taxi yang ditumpangi Clara sampai di sebuah rumah besar di kota yang merupakan rumah keluarga aditama
Tanpa menunggu lama lama lagi Clara langsung turun dari taxi lalu mengetuk pagar
Ting Ting Ting
Pagar terbuka dan menampilkan seorang pria paruh baya yang nampak terkejut melihat kehadiran Clara
"Maaf pak apakah Tante Rani ada di dalam?" Tanya Clara pada pria paruh baya yang masih terkejut dan bengong melihat Clara
"pak maaf, bapak kenapa?" Tanya Caca melambaikan tangannya di depan wajah pria paruh baya itu
"hah, Eh ma-maaf non, I-Iya nyonya Rani ada di dalam" Ucap pria paruh baya itu
"Yasudah kalau gitu saya permisi dulu pak" Ucap Clara
Tanpa menunggu jawaban dari pria paruh baya itu yang merupakan penjaga rumah Aditama Clara langsung berjalan menuju pintu utama
Sesampainya di pintu utama Clara langsung menekan bel yang berada tepat di samping pintu
Ting Nong Ting Nong
Ceklek
Pintu terbuka menampilkan wanita yang paruh baya yaitu Bu Rani
"Assalamualaikum Tante" Sapa Clara dengan senyum di bibirnya
Bu Rani yang mendengar itu tentu syok apalagi saat Clara memanggil dirinya dengan sebutan 'Tante'.
Karena tak mendapat jawaban akhirnya Clara berbicara kembali
"maaf, Tante kenapa bengong?" Tanya Clara sopan
"Ka-kamu Clara?" Tanya Bu Rani dengan mata yang berkaca kaca
Clara hanya mengangguk
"Jadi ka-kamu beneran Clara, Yaampun mama kangen banget cla sama kamu"Ucap Bu Rani reflek memeluk Clara erat
Dengan ragu Clara membalas pelukan Bu Rani. 2 Menit kemudian Bu Rani melepaskan pelukannya
"Ayo ayo masuk dulu" Ucap Bu Rani
"Iya Tante" Ucap Clara mengikuti Bu Rani masuk ke dalam
Saat Clara masuk seketika otak Clara bekerja mengingat semua kejadian dari awal dia masuk rumah itu yaitu saat melamar kerja sampai sang ibu meninggalkan dirinya untuk selama lamanya
"Eh nak Clara duduk dulu jangan berdiri gitu" Ucap Bu Rani
"Eh iya Tan" Clara tersadar dan langsung duduk di kursi depan Bu Rani
__ADS_1
"Kamu apa kabar, udah lebih 8 tahun Lo kamu gakelihatan sama sekali, makin cantik ya kamu" Ucap Bu Rani
"Saya baik kok Tan sangat baik malahan" Ucap Clara
"Jangan panggil Tante dong panggil mamah aja ya" Ucap Bu Rani merasa tak nyaman bila Clara memanggil dirinya Tante
"Maaf tan saya tidak bisa karena saya kan bukan siapa siapnya Tante sekarang, jadi saya merasa tidak cocok bila memanggil Tante dengan sebutan mamah" Ujar Clara lembut
Bu Rani merasakan sakit di dadanya saat mendengar perkataan mantan menantunya itu, namun mau gimana lagi memang itu kenyataan yang dimana saat ini Clara sudah bukan siapa siapanya lagi
"Yasudah terserah kamu saja" Ucap Bu Rani
Cukup lama Mereka terdiam sampai pada akhirnya terdengar suara teriakan anak kecil
"HALLOOOOO OMAAAA DAVKA PULANG" Teriak anak laki laki itu yang tak lain adalah Davka
"Eh Davka, jangan teriak teriak dong gasopan" Ucap pria di belakangnya yaitu Dareen
"Sudah sini sama Oma" Ucap Bu Rani
Davka langsung berlari menuju Omanya dan langsung duduk di pangkuan sang Oma
Clara yang melihat Davka seketika tubuhnya menegang dan merinding pikirannya berkenalan ke 8 tahun lalu
'Apa dia anak aku yaallah'Batin Clara saat melihat seorang anak laki laki yang sangat mirip dirinya
"Eh ada tamu, Halo" Ucap Dareen sambil menjulurkan tangannya
Clara yang melihat tangan itupun langsung melihat siapa pemilik tangan itu. betapa kagetnya Clara saat melihat ternyata pemilik tangan itu adalah pria yang menyakiti dia 8 tahun silam
Dareen juga tak terkejutnya saat melihat wanita yang selama ini dia rindukan dan dia cari cari dan sekarang wanita itu berada di hadapannya
Keduanya sama sama terdiam sampai pada akhirnya Clara memalingkan wajahnya dan menerima uluran tangan Dareen
"Ihhh Tante kok mirip sama davka sih mukanya" Ucap Davka tiba tiba membuat Clara reflek melepaskan tangannya dari Dareen
"Kata Daddy sama Oma Davka itu mirip sama mommy Davka, tapi Davka belum pernah ketemu sama mommy Davka" Ujar Davka sedih
Mendengar itu tentu Clara semakin menegang dan ada rasa bersalah di dirinya mendengar ucapan Davka yang merupakan anak kandungnya
"Davka mau tau sesuatu nggak dari omah?" Tanya Bu Rani
"Mau mau omah, sesuatu apa emangnya?" Tanya Davka penasaran
"Tante itu adalah mommy Davka, mommy yang selama ini Davka rindukan" Ucap Bu Rani lembut
Seketika Davka menatap Clara dan langsung turun dari pangkuan omahnya berlari menuju Clara, sedangkan Clara terkejut mendengar penuturan Bu Rani yang ternyata anak laki laki di depannya itu adalah anak dirinya yang selama ini dia rindukan
"Hiks, mommyyyy Davka kangen sama mommy, mommy kemana aja selama ini hiks" Isak Davka
Clara sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, air matanya turun dengan deras tanpa diminta
"Davka setiap hari selalu ngeliatin foto mommy tau" Ucap Davka lagi setelah sedikit tenang
"Sini peluk mommy" Clara membawa Davka ke dalam pelukannya dan Davka membalas pelukan mommy itu dengan erat
"Maafin mommy ya sayang, mommy juga kangen sama kamu, sangat kangen malah" Bisik clara tepat di telinga Davka
"Tapi kenapa mommy gapernah nemuin Davka lalu memang mommy kangen Davka?" Tanya Davka sambil melepaskan pelukan di tubuh Clara
"Nanti kalau Davka juga besar, sudah dewasa Davka pasti akan ngerti kok " Ucap Clara
__ADS_1
"Tapi sekarang Davka sudah besar mommy, ayo kasi tau Davka" Desak Davka
"Kamu masih kurang besar sayang masuk belum bisa mengerti, nanti beberapa tahun lagi kamu pasti akan tau dan ngerti kok kenapa mommy selama ini tidak bersama Davka" Ucap Clara sambil membelai pipi sang anak
Sedangkan Bu Rani dan Dareen hanya menyaksikan perbincangan antara ibu dan anak itu
"Sudah, Davka mending bersih bersih dulu sana, Daddy mau ngomong sama mommy kamu" Ucap Dareen
"Tapi dad Davka masih pengen sama mommy" Ucap Davka
"Iya setelah Davka bersih bersih Davka boleh kok sama mommy lagi selama apa Davka mau" Ucap Dareen
"Janji ya dad" Ucap Davka
"Iya janji" Ucap Dareen
"Yasudah ayo omah bantuin Davka mandi biar Davka bisa sama mommy lagi" Ucap Davka turun dari pangkuan Clara
"Yuk sayang"
Bu Rani dan Davka pergi dari ruang tamu dan kini hanya tinggal Dareen dan Clara saja
"Boleh bicara sebentar" Ucap Daren memulai pembicaraan
"Boleh" Ucap Clara dingin
"Bisa ikut saya, kita bicara di taman biar lebih enak" Ucap Dareen
Tanpa menjawab Clara langsung berdiri, Dareen yang mengerti itu langsung berjalan lebih dulu lalu diikuti oleh Clara
Sesampainya di taman Dareen dan Clara duduk di kursi dekat pohon yang sudah sangat besar padahal dulu pohon itu masih sangat kecil
"Mau bicara apa anda dengan saya?" Tanya Clara formal
"Jangan terlalu formal buat kita bicaranya enak" Ucap Dareen merasa tak nyaman dengan cara bicara Clara
"Terserah sayang dong kok jadi anda yang ngatur" Ucap Clara
"Yasudah terserah" Dareen akhirnya pasrah dan mengalah
"Bisa langsung dimulai ini mau membicarakan masalah apa?" Tanya Clara
"Kamu selama 8 tahun kemana aja?" Tanya Dareen sambil menatap Clara sedangkan Clara menatap ke depan
"Bukan urusan anda" Jawab Clara cuek
"Ternyata kamu banyak berubah ya, kamu bukan Clara yang dulu lagi" Ucap Dareen sendu
"Saya memang sudah bukan Clara yang dulu, yang dengan mudahnya dimanfaatkan, diselingkuhi, dan diatur sesukanya " Ucap Clara sengit
Dareen benar benar merasa tersindir mendengar ucapan Clara itu namun mau bagaimana lagi memang itu kenyataan
"Saya minta maaf atas kesalahan saya 8 tahun lalu" Ucap Dareen
"Saya sudah memaafkan anda tenang saja" Ucap Clara tanpa memperhatikan Dareen
"Terima kasih, anda sudah memaafkan dan melupakan semuanya" Ucap Dareen
Ucapan Dareen tadi berhasil membuat Clara menoleh ke arah Dareen dengan tatapan tajam
"Saya memang memaafkan anda tapi saya tidak bisa dan sepertinya tidak akan bisa melupakan segala perbuatan anda 8 tahun lalu, bukannya saya tidak mau tapi sangat susah udah melupakan yang benar benar melupakan. bila memaafkan saya memang sudah memaafkan karena mau bagaimanapun daya masih manusia saya masih punya hati nurani" Ujar Clara panjang lebar dengan tatapan menatap Dareen tajam
__ADS_1
Dareen hanya menunduk mendengar ucapan Clara tadi, dirinya semakin merasa sangat bersalah dan menyesal, tapi semua sudah terjadi. menyesal pun sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi
***