
Mata Dev menatap pakaian yang di kenakan Fey, begitu seksi dan menawan, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.
Pelan² Dev maju ke arah Fey di sertai senyum menyeringai, membuat gadis yang ada di depannya takut dan refleks mundur ke belakang.
'Orang gila ini mau ngapain? ' batinnya waspada.
"Tu-tuan, anda mau apa? " Ucap Fey takut sembari terus melangkah mundur sampai akhirnya ia terpojok dan jatuh terduduk di atas ranjang.
"Dari semalam kau sudah berusaha menggodaku, bagaimana bisa aku melewatkannya? ".
Bisikan pelan dari pria itu membuat Fey merinding, bahkan bulu kuduknya pun ikut berdiri.
'Orang ini bicara apa? Siapa yang menggoda mu dasar sinting'.
Perlahan hembusan nafas hangat itu mulai Fey rasakan. Semakin dekat, semakin dekat wajah pria itu membuat jantung Fey berdetak kencang tak beraturan.
" Tuan, anda mau ngapain? ".
Tangan mungil gadis ini mulai menahan dada Dev, memberinya jarak agar tidak terlalu dekat.
Namun Dev menarik ke dua tangan Fey ke atas, membuat istrinya berbaring di ranjangnya.
" Apa yang anda lakukan tuan? Lepas, lepaskan" Kata Fey memberontak.
__ADS_1
Fey pun tercengang tatkala Dev mencium bibirnya.
'Kurang ajar, ciuman pertamaku di ambil orang gila ini'.
"Emmmm... " Fey berusaha melepaskan ciuman tersebut, namun Dev tak berniat melepaskannya sama sekali. Malah ia makin menuntut lebih, memaksa sang istri untuk membuka mulut.
"Aauuu..!! " Pekik Fey tatkala bibirnya di gigit Dev.
"Kau ini kenapa malah jadi cacing kremi. Apa susahnya diam?, Buka mulutmu! " Titahnya penuh paksaan.
"Anda tidak boleh begini tu-an emhh.... ".
Dev kembali ******* bibir mungil tersebut, bahkan tangannya kali ini tak diam saja, perlahan ia mulai meraba pinggang Fey.
Lambat laun, ciuman itu semakin menurun, membuat dua tanda merah di leher dan dada Fey.
"Aahhh.. " Terdengar ******* kecil dari mulut gadis tersebut. Padahal sudah mati²an ia menahan suara itu agar tidak keluar, namun ******* laknat itu tetap lolos begitu saja dari mulutnya.
Dev lantas tersenyum miring dan menghentikan aktifitasnya. Ia bangkit lalu merapikan kemejanya seperti semula.
"Nanti aku akan menyuruh pelayan membawakan bajumu kesini. Aku tunggu di meja makan".
" Dan satu lagi, panggil aku sayang bila ada nenek" Ucap Dev sebelum akhirnya ia berlalu pergi.
__ADS_1
Fey ternganga diam, ia tak habis pikir dengan sikap Dev kali ini.
'AkHhhhh... Menyebalkan sekali. Terkutuk! dasar pria sialan, aku tidak Terima di perlakukan begini, pokoknya aku tidak Terima! ' maki Fey dalam hati. Seolah² ia habis di nodai lalu di campakkan begitu saja.
'Sayang² matamu!, telingaku geli mendengarnya'.
Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu dari luar kamar, Fey pun bergegas membukanya. Perlahan ia menarik handle pintu tersebut, membuat sedikit cela untuk mengintip.
Seorang wanita paru baya dengan rambut yang di konde mengukir senyuman hangat, dia berdiri di depan pintu.
"Selamat pagi nona muda" Ucapnya sembari membungkukkan badan.
"perkenalkan saya pelayan di rumah ini, panggil saja saya Bibi An. Tuan muda meminta saya memberikan baju ini untuk anda, silahkan nona" Lanjutnya dengan sopan sembari menyerahkan baju tersebut kepada Fey.
"Ah Iya, terimakasih Bi".
Jawab Fey dengan hanya kepalanya saja yang nampak, sedangkan tubuhnya ia sembunyikan di balik pintu. Tangan itu kemudian meraih baju tersebut, setelahnya ia menutup pintu kembali.
Setelah beberapa menit, Fey keluar dengan memakai dress ungu yang panjangnya hanya selutut. Selepas mandi kulitnya juga nampak bersih berseri.
Ketika ia keluar dari pintu kamar, Fey tercengang mendapati bibi An masih berdiri di samping pintu.
"Akhirnya nona keluar juga, mari nona saya antar ke ruang makan" Ujarnya lalu berjalan mengarahkan Fey ke tempat tujuan.
__ADS_1
'Anjayyyy... Besar banget rumahnya, pantas saja bibi ini memandu ku sampai ke ruang makan. Kalo tidak, bisa tersesat aku' batin Fey sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.
Ketika ia baru memasuki rumah ini kemari, dirinya belum sempat menjelajahi tempat ini, tak di sangka bahwa bangunan megah tempatnya tinggal sekarang sangatlah luas.