
"Silahkan masuk" Tutur Lala sambil membuka gagang pintu kayu yang telah lapuk.
"Baik" Fey dengan enggan melangkahkan kakinya ke dalam, meski suasana terasa hening dan sepi namun ia memberanikan diri untuk masuk.
Ketika sudah berada di dalam Fey melihat ada seorang wanita paru baya tengah menatapnya sambil tersenyum sembari membawa sepiring tempe di tangannya. Ia berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Lala, kamu sudah pulang? " Tanya sang ibu dengan ramah.
"Iya bu".
" Nona cantik ini siapa? Ibu tidak pernah melihatmu membawa teman datang ke rumah? " Ya, Sari nampak heran karena dari dulu Lala tak pernah mengajak salah seorang pun datang berkunjung ke rumahnya, hanya penagih hutang yang tiap hari bolak balik meminta uang dan senantiasa menunggu di depan pintu.
"Iya, kenalin bu, ini temanku, Fey. Dan Fey, ini ibuku" Ucap Lala memperkenalkan.
" Senang bisa bertemu tante" Ujar Fey sambil membungkukkan badan.
"Kalo gitu ayo duduk dulu, kita makan sama². Kebetulan tante habis masak".
__ADS_1
Fey menatap hidangan sederhana yang di letakkan di bawah lantai.
" Mari makan, nak. Jangan sungkan" Ucap Sari membuat Fey sukar untuk menolak.
"Ba-baik" Mau tidak mau Fey ikut makan bersama mereka.
Ketika mereka berdua tengah lahap memasukkan nasi ke dalam mulut, tiba² saja pintu rumah terbuka. Seorang anak laki² berseragam SMP masuk dengan penampilan acak²an.
"Dion, kamu sudah pulang, sini nak makan bareng" Tutur Sari memanggil putra bungsunya.
"Itu tadi adikku, dia memang sedikit menjengkelkan" Ucap Lala menjelaskan pada Fey.
'Aku tidak menyangka bila Lala hidup dalam kondisi seperti ini, ku kira aku sudah paling miskin, ternyata....... ' Fey membatin dalam hati, melihat kondisi rumah yang berantakan dan di penuhi lalat juga nyamuk membuatnya sadar bahwa dalam kehidupan ini harus di iringi dengan rasa bersyukur.
____________
Sesuai perkataan Lala di awal tadi, setelah makan mereka berdua pergi bersama untuk mencari pekerjaan. Di tengah padatnya lalu lintas kota metropolitan ini, mereka berdua dengan berani memasuki satu persatu toko sambil membawa surat lamaran pekerjaan.
__ADS_1
Namun usahanya kali ini tak membuahkan hasil, tak ada toko yang bersedia menerima mereka. Fey dan Lala hampir putus asa, air keringat bercucuran dari kening membasahi dahi, entah kenapa siang ini terasa begitu panas seolah matahari berasa di atas ubun².
"Aku capek" Tutur Lala sambil mengusap keringatnya.
Mereka berdua pun memutuskan untuk duduk istirahat sebentar di kursi yang berada tidak jauh dari halte bus.
"Fey, apa kau lihat gedung pencakar langit yang ada di sana? " Tanya Lala sambil menunjuk ke arah perusahaan DH grup.
"Iya, kenapa? ".
" Aku pernah dengar bahwa CEO perusahaan itu masih muda, andai saja aku bisa menikah dengannya pasti hidupku akan bahagia. Aku dan keluargaku tidak akan dikatai miskin lagi oleh orang²" Kata Lala sambil tersenyum pahit.
"Kalau begitu kenapa kita tidak melamar di sana saja? Siapa tau Tuhan menakdirkan kalian bertemu dan akhirnya kalian berjodoh".
" Mana mungkin kita keterima? ".
" Kalo tidak di coba mana tau? " Fey dengan antusias menarik tangan Lala, membawanya menuju gedung itu sambil membawa harapan semoga kali ini mereka keterima.
__ADS_1