
Keesokan harinya Fey bangun. Seperti malam sebelumnya, ia tidur di atas sofa dan Dev tidur di atas ranjang empuknya.
Mula-mula ia membersihkan tubuhnya di kamar mandi, setelah itu baru membangunkan Dev untuk pergi bekerja.
Gorden besar itu Fey buka, Dev langsung bangun karena pancaran sinar matahari yang memancar ke wajahnya.
"Selamat pagi tuan muda" Fey menyapanya sembari tersenyum hangat, sehangat mentari pagi hari ini.
Dev lantas duduk bersandar di atas ranjang sambil melirik istrinya dengan raut wajah sebal.
Ketika Dev ingin mengomelinya tiba² tenggorokannya bermasalah. Sebuah kata yang ingin ia ucapkan tak bisa keluar dari mulutnya.
'Ada apa dengan tenggorokanku? Kenapa tiba-tiba begini? '.
Dev meraba jakunnya, memijatnya pelan. Namun suaranya tak kunjung juga pulih.
"Khek... Ekhemmm... Kheemm... " Dev berusaha mengetes suaranya namun suaranya tak kunjung pulih.
" Tuan, anda kenapa? " Buru² Fey mengambil segelas air putih yang berada di atas nakas samping tempat tidur dan memberikannya kepada Dev. Dev pun meminumnya.
"Tuan, apa tenggorokan anda sakit? " Tanya Fey kemudian.
"Hemmm" Jawab Dev berdehem.
'Astaga, do'a ku terkabul?... Hahaha rasakan itu. Sekarang kau tidak bisa mengomeli ku lagi dan menyuruhku melakukan hal-hal yang tidak jelas. Terima kasih ya Tuhan telah mengabulkan do'a ku hehehe.... '.
__ADS_1
Fey tidak bisa menyembunyikan kesenangan itu, sampai nyaris suara tawanya mau keluar.
Dev menatap Fey kesal, jelas sekali gadis itu sedang kegirangan atas apa yang menimpanya kali ini.
"Saya sudah menyiapkan air hangat untuk anda mandi" Kata Fey sopan.
Dev pun akhirnya beranjak ke kamar mandi, sedangkan kali ini Fey tengah memilih stelan jas untuk di pakai suaminya nanti.
Setelah mandi dan berganti baju, Dev dan Fey pergi ke ruang makan untuk sarapan. Di sana para pelayan satu persatu membawa hidangan dan di taruh di atas meja makan sampai penuh.
Paman Han ada di belakang Dev, sedangkan Bibi An ada di belakang Fey, mereka berdua siap siaga jikalau sang majikan membutuhkan sesuatu.
"Ekhem" Suara deheman Dev membuat Fey spontan mengambilkan nasi untuknya.
Namun paman Han dengan cepat menaruh wadah cuci tangan di dekat Dev, tak lupa ia juga mengelap tangan tersebut dengan tisu.
"Tuan muda meminta anda mengambilkan lauk pauk nona" Tutur Han memberi tau.
Fey bingung harus mengambil apa, ia tidak tau apa yang Dev sukai, sedangkan di sana ada banyak sekali makanan yang di hidangkan.
Fey asal mengambil udang, tapi Han langsung menghentikannya.
"Tuan muda alergi udang nona".
Kalo kau tau dia alergi udang, kenapa masak udang? Menjengkelkan'.
__ADS_1
" Oh maaf, saya tidak tau".
"Tuan suka pasta, roti, telur dan masih banyak lagi, nanti saya tuliskan".
'Jangan, ku mohon jangan di tulis. Aku tidak mau membacanya. Mau dia suka atau tidak ku tidak peduli '.
" Baik" Jawab Fey bertolak belakang dengan isi hatinya.
Fey mengambil lauk untuk suaminya, tak lupa ia berkata "selamat makan tuan" Sembari tersenyum pahit.
Ketika makan tiba-tiba saja Dev mengayun kan sendok yang berisi nasi ke arah Fey.
Fey pun tertegun sesaat 'Apa ini? Dia mau menyuapi ku?, tumben sekali'.
Ia dengan polosnya memakan nasi tersebut.
Semua orang yang ada di sana langsung tertegun, Fey salah tanggap, bukan itu maksud Dev. Tapi ia menyuruhnya menyingsingkan lengan bajunya ke atas.
"Bukan itu maksudku" Ujar Dev dengan nada berat di sertai serak.
'Orang gila mana yang akan tau maksudmu jika kau tidak bicara'.
Paman Han dengan sopan menggulung lengan baju Dev. Orang tua ini seakan tau semua yang tuannya inginkan meski tanpa di suruh.
Fey tercengang 'hah... Kok bisa sih paman Han tau apa yang pria gila ini inginkan? , apa mereka berdua punya ikatan batin'.
__ADS_1
Batin Fey terheran sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.