
Fey ikut ibunya kembali ke rumah, ia lalu duduk di kursi tamu untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
"Ini, ambillah" Ujar Sonia memberikan cincin pemberian dari Geri.
Fey dengan enggan mengambilnya.
"Heh si udik, Terima saja takdirmu. Kau itu pantas dengan dia, kalian berdua itu cocok. Coba kau pikir, selain om-om itu, siapa lagi pria kaya yang mau denganmu?... Paling² kau bakal dapat pria miskin" Celoteh Laura dengan tampang menghina.
Fey menatap Laura malas, entah kenapa saudarinya ini selalu saja melontarkan kata² ejekan padanya tanpa henti.
"Bu, aku mau pergi dulu" Ucap Fey beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana lagi kau? Beberapa hari nggak pulang, tidur dimana? " Tanya Sonia kemudian.
"Fey kan pernah bilang kalo Fey dah dapat kerja. Tenang, bukan pekerjaan kotor kok. Cuma bersih² di rumah orang" Ucapnya berbohong.
"Jadi pembantu maksudmu? " Sahut Laura mengejek.
"Aku menginap di sana, mungkin aku akan jarang pulang. Dan masalah uang itu, aku akan berusaha mendapatkannya".
" Emangnya kau yakin dalam seminggu kau bakal dapat uang 200 juta? " Sahut Laura lagi.
__ADS_1
Fey menghiraukan ucapan Laura karena malas berdebat, ia pun setelah bersalaman dengan sang ibu langsung pergi dari rumah tersebut.
Fey menyusuri jalan setapak, mencari lowongan kerja untuk ia isi. Sekarang di pikirannya hanya ada uang, uang dan uang. Tak ada hal lainnya seolah hutang itu telah menghantui hidupnya.
Namun setelah seharian mencari ia tetap saja tak mendapatkan hasil, tiada toko yang mau menerima dirinya. Terpaksa ia harus pulang dengan jalan kaki karena tak memiliki uang sepeserpun.
_____________
Tak lama setelah Fey masuk ke dalam gerbang, mobil Dev juga berjalan masuk ke halaman rumah. Untung saja Fey tepat waktu, kalo tidak ia pasti tidak akan di perbolehkan keluar lagi lain hari.
'Hufh... Hampir saja aku telat' Fey menghembuskan nafas lega.
Seluruh penjaga yang ada di sana langsung berbaris rapi menyambut kedatangan tuannya "selamat datang tuan muda" Ucap mereka serempak sambil membungkukkan badan tatkala Dev keluar dari mobil.
"Selamat datang tuan muda" Ucap Fey ikut²an.
Paman Han dan Bibi An juga ada di sana, Fey menatap mereka berdua bergantian, tiba² dalam otaknya terbesit pikiran 'mereka berdua cocok, kenapa tidak menikah saja'.
Ketika Dev sudah berjalan ke depan lebih dulu, Fey mengikutinya di belakang sambil berbisik dengan Bibi An "emangnya kalo orang itu pulang kerja, dia selalu di sambut begini ya, Bi? " Bisiknya lirih.
"Orang itu? " Bibi An tercengang. Ia tak menduga bahwa Fey akan memanggil suaminya dengan sebutan orang itu, seperti orang asing yang tak saling menyukai.
__ADS_1
"Maksudku tuan Dev" Kata Fey sambil nyengir.
"Oh... Iya nona, ini adalah salah satu peraturan sejak dulu. Seluruh penjaga di rumah ini harus menyambut kedatangan tuan muda. Memang ada apa nona? ".
"Tidak apa²".
'Pria ini sebenarnya kerja apa? Aku jadi penasaran' batinnya sambil terus berjalan menatap punggung bidang sang suami.
Sesampainya di kamar Fey langsung membantu Dev melepas sepatunya. Lalu memasangkan sandal rumah di kaki tersebut.
" Ekhem" Suara Dev berdehem.
'Sumpah Demi apapun, aku benci mendengar suara itu' Fey hanya bisa membatin kesal di dalam hati.
"Ada yang bisa saya bantu tuan? " Tanya Fey sembari tersenyum kecut.
Dev mengangkat jarinya dan menunjuk ke arah kamar mandi.
'Astaga... Lama² aku bisa gila! '.
"Anda mau mandi? " Tanya Fey mengonfirmasi.
__ADS_1
"Hemmm... " Dengung Dev menjawabi.
"Baik, akan saya siapkan air panasnya sebentar".