Menikahi Gadis Udik

Menikahi Gadis Udik
Mengobati kaki


__ADS_3

Sebuah mobil bugatti berwarna biru melaju dari arah depan, sorotan cahaya lampu dari mobil tersebut menusuk mata Fey, membuat gadis ini menyipitkan matanya karena kesilauan.


Mobil mewah itu berhenti tepat di samping Fey, ketika kaca mobil di buka, ternyata orang yang mengendarainya adalah Dev.


"Masuk" Ucapannya sedingin cuaca hari ini.


Fey dengan patuh masuk ke dalam mobil.


Ia nampak kesusahan saat berusaha memakai sabuk pengaman, dengan baik hati Dev membantunya memakai sabuk pengaman tersebut. Untuk sesaat Fey tertegun, wajah Dev terlihat begitu dekat dengan wajahnya, membuat jantungnya berdegup sangat kencang.


"Te-terima kasih".


Dev tidak menjawabnya, ia langsung kembali menghadap ke depan dan buru² menyetir.


"Kok anda bisa ada di sini tuan? " Tanya Fey memecah keheningan tersebut.


'Tumben banget dia nyetir mobil sendiri, emang supirnya kemana? '.


"Diam! Aku benci mendengar suaramu".


'Dia ini kenapa sih? Kalo nggak suka sama aku kenapa memintaku masuk ke dalam mobilnya. Jika bukan karena perjanjian itu aku juga tidak akan sudi kembali lagi ke rumahmu, melihat wajahmu membuat aku jengkel'.


Gerutunya dalam hati.


Tak lama kemudian mobil itu masuk ke dalam halaman rumah. Ketika mobil berhenti, Fey langsung keluar dari sana.


Dev yang masih duduk di dalam mobil terus menatap ke arah Fey, mengamati cara jalan istrinya yang pincang. Ia mengerutkan dahi tatkala melihat kondisi kaki Fey saat ini.


Fey duduk sebentar di ruang tamu untuk meredakan rasa penat di kakinya, tak lupa ia juga memijat nya pelan².


Dia melihat Dev berjalan memasuki pintu utama tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.


'Orang itu sebenarnya kenapa sih? Sejak tadi aku merasa sikapnya jadi aneh dan terlihat sangat sinis padaku. Apa karena dia pikir bahwa aku lah penyebab nenek masuk rumah sakit? '.


Fey menghembuskan nafas lelah dari mulutnya, perlahan ia menyandarkan kepalanya di punggung sofa sembari memejamkan mata.

__ADS_1


Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya. Refleks ia membuka matanya kembali, melihat ke arah suara itu berada.


Benar saja, Bibi An datang menghampiri sembari membawa sebaskom air dingin di tangannya.


"Permisi nona, mari saya bantu bersihkan kaki anda".


Otomatis Fey tertegun, tiba² saja Bibi An berjongkok dan mencelupkan kakinya ke dalam air tersebut.


" Apa yang Bibi lakukan? Tidak perlu".


"Ini perintah tuan muda, nona. Beliau meminta saya untuk mengobati luka di kaki anda".


" Tidak perlu repot² Bi. Anda lebih tua dari saya, tidak sepantasnya anda melakukan pekerjaan seperti ini. Biar saya lakukan sendiri".


"Tidak nona, ini tugas saya. Biarkan saya membantu mengobati luka anda sebentar".


'Di mana hati nurani pria itu? bisa-bisanya dia menyuruh orang tua untuk mengobati kakiku'.


Fey menghembuskan nafas pasrah.


Dengan lembut Bibi An membasuh kaki Fey, kemudian mengoleskannya obat.


" Saya pergi ke suatu tempat dan alas kakiku tiba-tiba saja putus. Terpaksa saya harus jalan kaki karena lupa membawa dompet, hehe... " ujar Fey menjawabi.


" Tuan muda pasti sangat menyayangi nona, buktinya saja saat nona tidak segera pulang, tuan muda bergegas mencari anda. Jarang-jarang saya melihat tuan muda secemas ini" Ucap Bibi An.


'Apa? Dia mencari ku? Yang benar saja, sangat² mustahil, tidak dapat di percaya. Dan apa tadi? Bini An bilang orang seperti dia sayang padaku? Hahaha.... Konyol sekali. Pikiranmu salah Bibi An, jangan membuatku merinding'.


"Ah masa sih bi, aku jadi malu" Ungkapnya sambil tertawa palsu.


"Sudah pasti nona, saya dapat melihat itu dari mata tuan muda. Tidaklah anda merasakannya juga? ".


'Tidak tuh, aku malah merasa bahwa dia menjengkelkan'.


"Sudah selesai nona, apa sekarang anda sudah merasa lebih baik? ".

__ADS_1


" Iya, terimakasih Bi. Tapi lain kali jangan begini lagi, biar ku lakukan sendiri. Oke? ".


" Baik nona".


Fey beranjak dari tempat duduknya dan berniat kembali ke kamar.


"Apa anda perlu bantuan nona? " Ucap Bibi An menawari bantuan ketika melihat nona mudanya berjalan tertatih².


"Tidak perlu, Bi. Saya bisa sendiri.Terimakasih" Fey menolak dengan halus. Perlahan kakinya berjalan menaiki anak tangga.


Tak lama kemudian ia sampai di depan pintu kamar yang tertutup rapat. Rasa-rasanya Fey enggan untuk melangkah masuk. Perasaan takut ini seolah menyihir nya menjadi patung.


Fey menarik nafas dalam², berusaha mengumpulkan keberanian. Setelah beberapa saat, akhirnya ia beranikan diri untuk masuk.


"Ceklek" Gagang pintu ia buka pelan². Cahaya di dalam kamar nampak redup, hanya lampu tidur di atas nakas saja yang menyala.


Suasana semakin mencekam ketika Dev tengah berdiri memandangi hujan deras dari balik jendela besar tersebut.


Siluet pria ini nampak jelas tatkala ada kilatan cahaya petir yang menyambar.


'Pria itu kenapa berdiri seperti hantu di sana? Membuatku merinding saja. Padahal ini bukan cerita novel bergenre horor ' Fey ragu² berjalan mendekati Dev.


"Pergi kemana saja kau hari ini" Ucap Dev mengintrogasi tanpa melihat ke arah Fey.


Suara yang terdengar ketus itu membuat Fey menghentikan langkahnya.


"Sa-saya tadi pulang ke rumah orang tua saya sebentar, tuan".


" Siapa yang mengizinkanmu kesana, ha? ".


" Saya minta maaf" Jawab Fey sambil menunduk.


Perlahan Dev mendekati Fey, jari² tangannya mengangkat dagu si gadis, membuat empat mata itu saling bertemu.


"Kau harus ingat, tanpa izin dari ku kau tidak boleh pergi ke mana². Hidupmu kini aku yang mengaturnya, jangan harap bisa lari dariku, paham?! " Tegasnya.

__ADS_1


Ke dua tangan Fey gemetaran meremas dress yang dia pakai, panas dingin kini ia rasakan di tubuhnya. Muncul perasaan takut yang menghancurkan seluruh keberaniannya untuk membantah.


'Aku bukan patung manekin yang bisa kau kendalikan sesuka hati, aku juga punya perasaan, aku bukan barang mati, aku juga butuh kebebasan'.


__ADS_2