
Selepas jadi, Fey langsung membawa makanan tersebut ke ruang kerja.
"Tok.. tok.. tok" Dengan hati² ia mengetuk pintu agar nampan yang ia pegang tidak jatuh. Setelah itu ia membuka handle pintu tersebut.
Dev yang awalnya asik memelototi layar laptop langsung berpindah mata melihat sang istri yang tengah berjalan ke arahnya, sudah seminggu lebih tak bertemu Fey terlihat agak cantik di matanya hingga tak sadar ia telah menarik bibirnya untuk tersenyum.
'Kenapa orang ini tiba² tersenyum? Kesurupan apa dia? his... aku merinding'.
"Permisi tuan, ini saya bawakan roti selain dan juga susu hangat. Selamat makan" Tutur Fey sambil meletakkan makanan tersebut di atas meja.
"Saya juga sudah membuatkan selai anggur, strawberry dan juga nanas untuk anda, silahkan" Tambahnya.
"Tiba-tiba aku berubah pikiran, aku mau... ".
" shuuttt...! " Fey dengan cekatan langsung mengangkat jari telunjuknya ke depan agar Dev berhenti bicara.
"Saya dengan seneng hati menyuapi anda" Ucap Fey berinisiatif, membuat pria ini kembali tersenyum.
'Kau pasti ingin membuatku bolak balik naik turun tangga kan? tidak, aku tidak akan membiarkanmu memiliki kesempatan untuk mengerjai ku lagi'.
Fey buru² menarik kursi yang ada di depan meja dan memindahkan kursi tersebut ke samping kursi Dev agar mempermudah ia menyuapi pria tersebut.
Namun tanpa di sangka², otot lengan yang begitu kokoh itu tiba-tiba menarik pegangan kursi yang di duduki Fey, membuat jarak sedekat mungkin. Fey pun jadi tertegun.
__ADS_1
"Cepat, suapi aku! " Ucap Dev menagih, Fey lantas mengambil roti tawar yang masih terasa hangat di tangannya.
"Anda mau selai yang mana? " Tanya Fey.
"Terserah".
Fey mengambil selai anggur, sambil mengolesi Fey bertanya " Tuan, bagaimana kondisi nenek? ".
" Operasinya berjalan lancar, sekarang cuma menunggu masa pemulihan saja. Mungkin dalam waktu dekat ini nenek bisa segera pulang" Jawabnya.
Tangan mungil Fey melayang terbang membawa roti itu ke mulut Dev, pria ini dengan senang hati membuka mulutnya dan memakan roti tersebut.
"Marilah, duduklah di sini" Dev menepuk pelan pahanya, ia meminta Fey untuk pindah ke pangkuannya.
"Ha? " Fey tercengang, ekspresinya seperti orang bodoh yang ingin berak.
"Capat" Titah Dev bersifat mutlak. Fey tak berani menolak perintahnya, dengan enggan ia duduk di pangkuan sang suami.
"S-saya pasti berat, saya duduk di kursi saja ya tuan" Ketika Fey ingin berdiri, perutnya langsung di rangkul erat oleh lengan kekar milik pemuda ini, tak kan ia biarkan istri tengilnya dengan mudah kabur dari dekapannya.
"Berat? Hahaha.... Bobot kambing saja lebih berat ketimbang bobotmu" Suara tawa Dev begitu renyah membuat gendang telinga Fey menjadi panas, ingin sekali ia menyumpal mulut itu dengan rumput.
'Sialan, dia menyamakan ku dengan kambing' Batin Fey mengumpat.
__ADS_1
"Makanlah lebih banyak, di rumah ini semuanya ada, kau tinggal minta saja pada pelayan".
'Kalau badanku gemuk kau pasti akan mengejekku mirip gajah, benar kan? '.
Fey kembali menyumpal mulut Dev dengan roti.
"Tuan, nanti sore bolehkah saya keluar sebentar? ".
"Mau kemana? ".
"Mau menemui ibu, ibu bilang mau bicara sebentar denganku, bolehkan tuan?".
'Semoga pria ini percaya dengan kebohonganku.. aku hanya tidak mau dia tau kalo aku bekerja'.
" Boleh ya tuan" ucap Fey memohon.
"Hemmm" Dev menyetujui.
" Tapi sebelum pergi kau harus mengambilkan ku map merah di ruang baca".
"Baik tuan" pungkasnya sambil tersenyum.
____________
__ADS_1
Sore harinya, Fey pergi ke rumah Elsen sambil menaiki sepeda buntutnya. ia mengayuh pedal sepedanya secepat mungkin agar cepat sampai ke tempat tujuan, meski jalan di pusat kota macet, itu tak mengendurkan semangatnya sama sekali. sangking terburu²nya, ia sampai tak tau bila Laura memperhatikannya dari kejauhan.
"Eh... bukannya itu Fey? mau kemana dia?, kali ini aku harus berhasil membuntutinya, aku penasaran sebenarnya dia kerja apa" gumam Laura.