Menikahi Gadis Udik

Menikahi Gadis Udik
kabar gembira


__ADS_3

"Tuan, apa saya boleh pergi keluar? " Tanya Fey ragu² sambil memijat kepala Dev dari belakang.


"Maksudmu? ".


" Begini... Jika anda tidak di rumah, pasti saya akan merasa bosan. Kalo boleh besok saya minta izin untuk pergi jalan² menikmati udara segar. Boleh ya tuan... Please" Jawab Fey dengan menampakkan wajah sok imut.


Dev menoleh ke belakang untuk melihat wajah sang istri, ia hanya dapat menghela nafas pasrah kala wajah imut Fey tertanam di matanya. .


"Hmmm" Dengungan itu menandakan bahwa ia setuju.


"Tapi ingat, kau tidak boleh pergi terlalu lama. Jam 4 harus sampai rumah" Pesannya.


" Baiklah, saya janji" Fey mengangkat jari kelingkingnya ke atas, menjulurkan nya ke depan dan memperlihatkannya kepada Dev. Tanpa Fey sadari, apa yang di lakukannya sekarang membuat hati pria dingin ini mulai mencair.


"Terimakasih tuan" Tutur Fey sambil tersenyum.


'Ternyata pria ini baik juga'.


'Kenapa akhir² ini aku sering tersenyum, ada apa denganku? ' Batin Dev tak paham dengan dirinya sendiri, pasalnya sebelum ini ia tak pernah bersikap lembut kepada siapapun kecuali neneknya, tapi entah kenapa sekarang ia mulai berubah.


"Cepat mandi! Ku tunggu di ruang makan" Dev beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan ke ruang ganti, ia memakai piyama tidur sebelum akhirnya dia melangkah menuju meja makan.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, Fey keluar dari kamar. Saat di perjalanan menuju ruang makan ia tak sengaja bertemu dengan Dev yang saat itu baru keluar dari sebuah pintu.


"Tuan, anda ngapain? " Tanya Fey sambil melihat suaminya yang sedang mengunci pintu tersebut, sekilas ia tak sengaja melihat Dev memencet tombol sandi.


'Aneh, kenapa pintu ini ada sandinya? Perasaan pintu yang lain nggak ada deh' Herannya.


"Tidak apa²" Jawab Dev singkat, lalu ia berjalan meninggalkan Fey yang masih termangu.


'Sebenarnya ada apa di ruangan ini? Apa yang pria itu sembunyikan' Fey terus memandangi pintu tersebut, sampai akhirnya teriakan seseorang menyadarkan lamunannya.


"Heh! Sampai kapan kau mau berdiri terus di situ?! Cepat kemari!, dasar lelet".


Fey buru² mengejar Dev yang sudah berada jauh di depan sana. Tak bisa di pungkiri bahwa langkah kaki pria jangkung ini begitu lebar sampai ia harus sedikit berlari untuk menyeimbangkan langkah mereka.


__________


Setelah makan malam selesai Dev pergi ke ruang baca dan berbincang bersama paman Han.


"Paman, besok nenek akan di pindah ke rumah sakit negara S. Jadi untuk beberapa hari ke depan aku tidak akan pulang. Tolong jaga rumah ini dan juga gadis bodoh itu dengan baik".


" Baik tuan,pasti. Kalo saya boleh tau, bagaimana keadaan Nyonya besar sekarang? ".

__ADS_1


Pria paru baya ini berdiri menghadap tuannya yang kini tengah duduk di atas kursi dengan sebuah meja besar yang menghalangi mereka berdua.


Dev menjawab " Dokter bilang kondisi nenek semakin buruk, kankernya telah menyebar ke seluruh tubuh. Dokter menyarankan untuk membawa nenek berobat ke luar negeri karena alat medis di sana lebih canggih".


"Saya akan senantiasa berdo'a untuk nyonya besar, semoga beliau cepat sembuh".


" Terima kasih, aku harap juga begitu".


Meski raut wajah Dev terlihat datar, namun paman Han dapat melihat kesedihan yang mendalam di hati tuannya. Entah kenapa dari dulu Dev selalu memendam perasaannya sendiri.


'Tuan, meski kau terlihat tegar, namun aku tau bahwa kau sekarang sedang tidak baik² saja. Sedari kecil aku selalu melihatmu begini, kau terlalu banyak menyimpan kesedihanmu sendiri, ini lah yang membuat hatimu jadi sekeras batu'.


__________


Di lain sisi Fey tengah asik bermain ponsel, ia berbaring di atas sofa sambil cekikikan sendiri melihat Video di ponselnya. Tiba² notifikasi pesan muncul di layar atas, karena Fey penasaran ia pun segera membukanya. Betapa terkejutnya ia ketika membaca pesan tersebut, ia tak percaya dan hampir menangis karena sangking senangnya.


"Aku keterima di Universitas A? Aaaaaaa...!! Aku tidak sedang bermimpi kan? " Terik Fey kegirangan. Tanpa sadar ia meloncat² di atas sofa.


Bulan lalu Fey coba² mendaftar dan mengikuti ujian online untuk masuk ke salah satu universitas impiannya, tak di sangka ia akan keterima di kampus ternama itu, maka tak heran bila kini ia senang atas kabar yang membahagiakan ini.


"Jika sofa ku rusak aku akan menyuruhmu menggantinya" Suara yang terdengar dingin itu mengejutkan Fey. Matanya langsung terbelalak tatkala melihat Dev yang kini tengah memandangnya dengan wajah datar.

__ADS_1


__ADS_2