Menikahi Gadis Udik

Menikahi Gadis Udik
Jadi pesuruh


__ADS_3

'Tuhan... Tolong buat orang ini sakit tenggorokan. Aku malas mendengar ucapannya'.


"Baik tuan, tidak akan saya ulangi lagi" Kata Fey sambil membungkukkan badan.


Dev menatap sejenak kaki Fey yang telah di balut hansaplast plester. Ini membuatnya sedikit lega.


'Aneh, kenapa aku jadi sangat peduli padanya'.


"Kau bau sampah, hidungku tidak kuat mencium baumu. Kau membuat saluran pernafasan ku terganggu".


'Siapa suruh dekat², dasar sinting'.


" Kalo begitu saya mandi dulu, permisi".


'Ku kira setelah aku pulang dia akan memarahiku dan menuduhku yang tidak². Ternyata pikiranku salah, dia sama sekali tak membahas soal nenek'.


Fey pergi mandi dan berendam di air panas. Setelah beberapa menit berada di sana akhirnya ia selesai, kemudian ia berganti baju.


Ketika membuka almari miliknya, ia terkejut. Di dalam sana sudah tersedia banyak pakaian cantik yang tertata rapi.


"Wah... Indah-indah banget pakaiannya. Sejak kapan baju² ini ada di lemari ku" Gumam Fey kegirangan. Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa ia akan memiliki banyak pakaian cantik seperti ini.


'Ternyata dia baik juga'.


Dengan bersemangat Fey mencoba baju tersebut.

__ADS_1


Tak lama kemudian Fey keluar memakai piyama, ia lantas berjalan ke arah sofa dan mendudukinya.


'Pria itu pergi kemana? Tumben dia tidak ada'.


Fey dengan santainya berleha² di atas sofa, namun sedetik kemudian pandangnya tertuju ke arah ranjang. Ia pun melompat ke atas ranjang empuk tersebut dan berguling² di sana.


'Aduh senangnya tidur di sini, kalo kasurnya begini mah tidurku pasti nyenyak'.


Namun kesenangan itu tak bertahan lama, suara telepon yang berdering di atas nakas membuatnya terpaksa berhenti dari aktifitasnya sekarang. Fey dengan malas mengangkat telepon itu "Hallo, siapa? ".


" Ambilkan aku segelas air putih hangat, bawa ke ruang kerjaku. 3 menit harus sampai" Ucap orang dari sebrang sana. Suaranya seperti agak serak.


"Apa? ".


Tiba² saja sambungan telepon itu terputus, dengan geram Fey mengembalikan telepon ke tempatnya semula.


Ungkapnya ngedumel dalam hati.


Buru² Fey berlari menuju arah dapur. Semua pelayan yang melihatnya nampak keheranan, sebab nona mudanya seperti sedang di kejar hantu.


Sampai di dapur Fey terengah-engah.


"Hufhh...Tolong ambilkan aku air hangat" Ia menyuruh salah seorang koki di sana memberikannya air hangat.


Koki tersebut langsung memberikan apa yang Fey minta.

__ADS_1


Kini Fey harus berlari menaiki anak tangga lagi. Di tengah jalan ia sempat berhenti sejenak.


"Paman Han, ruang kerja tuan muda di mana? ".


" Tepat di sebelah kamar anda, nona".


"Oh, ya terimakasih" Jawab Fey kembali berlari dengan tangan yang masih setia memegang segelas air. Untung saja air itu tidak tumpah mengenai tubuhnya.


Fey sempat mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya ia masuk ke dalam ruangan. Di ruang kerja itu dia melihat suaminya tengah fokus menatap layar laptopnya. Perlahan Fey melangkah maju.


"Permisi tuan, ini saya bawaan air hangat sesuai permintaan anda" Fey menaruh gelas itu di depan Dev.


"Ekhem, aku mau minum".


Suara Dev terdengar agak serak.


" Saya sudah meletakkan airnya di atas meja, apa tuan ingin saya membawakan minuman yang lain lagi? " Jawab Fey yang tidak mengerti maksud dari perkataan Dev.


'Dasar o'on ' batin Dev kesal.


Ia pun membuka mulutnya, seketika Fey langsung menangkap maksud pria ini.


'Tinggal minum saja apa susahnya, kenapa harus aku juga yang lakukan?. Apa kau menggunakan tanganmu cuma untuk menggaruk pantat? '.


Fey dengan dongkol membantu Dev meminum air tersebut.

__ADS_1


Saat itu pula Fey teringat dengan nenek Amy. Ia bertanya² dalam benak tentang bagaimana kondisi nenek sekarang, terlebih lagi Dev tidak membicarakan apapun soal itu. Ia penasaran, namun ia tak berani bertanya. Mau bagaimanapun ia harus ingat bahwa statusnya sekarang hanyalah istri kontrak.


'Aku cuma orang asing di rumah ini, apa hak ku bertanya soal itu'.


__ADS_2