
Karena lelah seharian mencari kerja namun tak mendapatkan hasil, akhirnya Fey memutuskan untuk pulang, terlebih lagi jam telah menunjukkan pukul 4 sore.
"La, kayaknya aku harus pulang sekarang deh" Tutur Fey.
"Iya, aku juga mau pulang kok, capek. Kayaknya kita lanjutin besok lagi aja" Kata Lala sambil tersenyum pahit.
Melihat senyum Lala yang hambar membuat Fey tidak enak hati berpamitan pergi. Ia tau bahwa temannya ini sangat membutuhkan uang, namun ia juga tidak dapat berbuat apa².
"Aku pergi dulu ya, sampai jumpa" Kini Fey melangkah pergi, meninggalkan Lala termenung sendiri di kursi taman.
'Kurang tiga hari lagi, kalau aku nggak bisa melunasi hutang² itu maka aku akan terpaksa menikah dengan Geri. Bodohnya aku mengira dapat melunasinya, ternyata cari kerja tidaklah mudah. Rasanya aku ingin menangis, Ayah.... Aku capek' Fey hanya bisa mengeluh dalam hati, tak sadar bila embun air mata jatuh ke pipinya, cepat² ia menyeka air mata itu sebelum orang² sekitar memperhatikan'.
Ia terus berjalan ke depan dengan tatapan kosong, pikirannya kini di penuhi dengan hutang.
'Andai saja aku menemukan uang satu koper di jalanan, pasti rasa sakit di kepalaku akan hilang'.
Fey menghela nafas keputusasaan. Ketika akan menyebrang jalan, tak sengaja ia melihat seorang anak kecil berkisaran usia 4 tahun tiba² saja berlari sendirian menyebrangi jalan tanpa pengawasan orang tua.
Di depan sana terlihat truk melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arah anak kecil tersebut, tanpa berpikir panjang Fey langsung berlari menghampiri anak kecil itu dan menariknya ke sisi jalan.
Mereka berdua hampir tertabrak, untung saja Fey tepat waktu menyelamatkan bocah tersebut.
"Kau tidak apa² kan? " Tanya Fey cemas sambil menatap mata anak itu yang indah.
"Apa mata tante gak bisa lihat sendili? " Jawab bocah tengil tersebut.
"Aku ini sudah menyelamatkanmu, apa kau tidak bisa bilang terimakasih? ".
" Aku tidak minta tante melakukannya, tanpa tante bantu pun aku bisa bellali sendili" Lagi² jawaban si bocah membuat Fey merasa geram.
__ADS_1
"Kakimu itu kecil, mana bisa berlari dengan cepat. Lagian orang tuamu kemana? Kok kau bisa sendirian di sini? ".
" Tante kepo, lagian aku ga kenal tante, ngapain aku belitau".
'Aishh... Sepertinya aku menyelamatkan anak setah. Hih, geramnya'.
Meski jawaban bocah itu terdengar menyebalkan namun Fey berusaha untuk tetap sabar, dengan berani ia mencubit pelan pipi gemoy milik sang bocah sambil berkata "Ih lucu banget.... Pipimu menggemaskan".
" Ih tante, jangan lakukan ini. Aku ga suka" Ucap si bocah sambil memegang tangan Fey supaya berhenti memegang pipinya.
"Kenapa? Tidak suka? Sini tante cium" Kata Fey menjahili anak tersebut.
Saat sedang ingin mencium si bocah tiba² Fey di kejutkan oleh kehadiran dua pria yang berpakaian seperti pengawal "Nona, berhenti! " Kata salah seorang dari mereka.
Fey langsung tertegun, ia lantas menatap kedua pria aneh itu dengan bingung.
"Siapa kalian? " Tanyanya.
" Apa? Tuan muda? " Ucap Fey terkejut. Tapi Leon malah bersembunyi di balik punggung Fey, seolah dia tidak mau diajak pulang.
Salah seorang dari mereka membawa walkie talkie dan berbisik dengan orang yang berada di sebrang sana.
"Tuan, kami berhasil menemukan tuan muda Leon".
" Cepat bawa dia kembali ke rumah".
"Siap tuan" Setelah itu ia mematikan sambungan protofon tersebut.
"Tuan muda Leon mari ikut kami pulang, Tuan Elsen telah mencari anda seharian".
__ADS_1
" No. Aku ga mau pulang, ayah jahat" Tolak Leon mentah².
"Tuan muda tolong jangan mempersulit kami. Jika tuan tidak pulang, bisa² kami di pecat".
" No! " Teriak Leon, ia begitu keras kepala. Entah masalah apa yang membuatnya sampai kabur²an dari rumah begini.
"Kau sebaiknya pulang sekarang, ayahmu pasti sudah menunggumu dengan perasaan cemas, apa kau tidak kasihan pada ayahmu? " Fey berusaha ikut membujuknya, siapa tau bocah ini akan mendengarkan ucapannya.
"Aku mau pulang kalo tante ini ikut pulang juga" Ucapan Leon barusan membuat Fey terkejut.
"Nona, saya mohon tolong bantu kami. Ikutlah kami sebentar supaya tuan muda bersedia di ajak pulang" Kata si pengawal dengan wajah memelas, berharap Fey mengiyakan permintaan mereka.
"Ha..?? Maaf saya tidak bisa".
" Tolong nona, saya mohon. Kami masih butuh pekerjaan ini supaya keluarga kami tetap bisa makan" Mereka berdua memohon kepada Fey, sungguh Fey tidak tega.
Setelah berpikir sesaat, akhirnya ia menjawab "baiklah, saya mau".
Fey menggandeng tangan Leon karena di kira rumah mereka dekat dan akan pulang jalan kaki. Namun sedetik kemudian sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan Fey hingga membuat gadis itu kembali tercengang.
Sang sopir membukakan pintu mobil, mempersilahkan Fey dan juga Leon untuk masuk.
'Anak kecil ini pasti anak orang kaya' Di lihat dari pakaiannya saja seharusnya dari awal ia sudah bisa menebak bahwa anak ini berasal dari keluarga berada.
Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah bangunan megah bernuansa klasik seperti rumah milik suaminya. Bedanya halaman rumah Dev lebih luas.
Kini Fey telah berada di dalam rumah itu, sembari menggandeng tangan si bocil ia berjalan memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat seorang pria yang tengah duduk di sebuah kursi besar dengan menampakkan wajah garang.
Fey tertegun di ambang pintu, di dalam hati ia mengakui bahwa wajah pria itu sangatlah tampan.
__ADS_1
'Siapa pria itu? '.