
Sesampainya di ruang makan, Fey melihat Dev dan nenek Amy telah duduk menunggunya di meja makan.
"Selamat pagi nek" Sapa Fey sambil membungkuk.
"Maaf sudah membuat nenek menunggu lama".
"Tidak apa², mari duduk, kita makan sama²" Jawab sang nenek dengan tersenyum ramah.
Salah seorang pelayan yang ada di sana menarik sebuah kursi yang ada di dekat Dev, mempersilahkan Fey untuk mendudukinya. Dengan canggung Fey duduk di kursi tersebut.
Di atas meja makan, sudah tersedia banyak sekali hidangan lezat yang menggiurkan lidah.
Di meja itu hanya ada Fey, Dev dan nenek Amy saja. Juga terdapat beberapa pelayan yang berdiri di belakang mereka seperti patung. Fey yang baru pertama kali masuk ke dalam keluarga ini merasa kikuk dan bingung harus bagaimana. Namun ia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya sekarang.
'Untuk apa menyiapkan makanan sebanyak ini, kayak bakalan ada pesta saja' batin Fey terheran. Hal itu sontak membawanya teringat pada ibu dan adiknya di rumah.
'Oh iya astaga, aku lupa memberi tau ibu kalo aku tidak pulang semalam. Gimana nih? Pasti ibu marah. Pagi ini ibu dan Laura sarapan apa ya? Kan biasanya aku yang masakin buat mereka berdua'.
"Sa-sayang" Fey memanggil Dev pelan.
'Menggelikan, rasanya aku ingin menggaruk mulutku'.
Pria itu lantas menoleh ke arahnya.
"Apa kamu mau sayur? Ada wortel nya, ini baik untuk mata" Ujar Fey membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut seketika, pasalnya mereka semua tau bahwa tuan Dev tidak suka sayur sama sekali.
'Kau harus banyak² makan wortel agar matamu itu sehat. Supaya kau dapat melihat dengan jelas kalau aku ini punya payudara' kata Fey dalam hati.
"Boleh" Jawaban Dev membuat orang² tambah terkejut.
'Astaga... Apa sekarang matahari sudah terbit dari barat? ' batin Bibi An.
Nenek Amy pun juga ikut membatin 'sejak kapan anak ini suka sayuran'.
Fey pun menaruh sop tersebut ke dalam piring Dev.
"Selamat makan sa-yang".
Mendengar panggilan mesra itu membuat Dev tersenyum sinis, ia merasa agak aneh karena sebelumnya tak ada yang berani memanggilnya begitu. Tak di sangka Fey dapat menjalankan perannya dengan baik.
Nenek Amy tersenyum, ia ikut bahagia melihat cucunya memiliki pasangan hidup yang dapat merawatnya dengan baik. Tak henti²nya ia menatap gadis lugu itu. Ketika Fey tengah merapikan rambutnya ke belakang telinga, seketika itu pula mata nenek Amy yang jeli dapat mengetahui tanda merah di leher Fey.
"Nenek tidak sabar menimang cucu".
__ADS_1
" Uhuk... Uuhhukk... " Fey tersedak, ia buru² meminum segelas air putih.
"Kamu tidak apa² nak? " Tanya nenek Amy khawatir.
"Tidak apa² nek, aku baik² saja".
'Cucu? Apa maksudnya? '.
Tiba² sekretaris Will masuk berniat menjemput tuan muda.
" Selamat pagi tuan muda, mobilnya sudah siap" Ucapnya sembari membungkuk. Tak lupa ia juga menyapa nenek Amy dan Fey.
"Nek, aku berangkat kerja dulu".
" Iya, hati²".
Dev beranjak pergi, di ikuti Will yang berjalan di belakangnya.
"Nona" Ucap paman Han lirih, ialah kepala pelayan di rumah itu.
Fey yang bingung pun menatap laki² paru baya itu dengan wajah tidak mengerti. Gadis ini nampak seperti orang bodoh tatkala tak bisa menangkap kode yang di berikan Paman Han.
"Ada apa? ".
'Kenapa aku harus repot² melakukan itu? aku mengantarnya atau tidak ku rasa dia juga tidak akan peduli'.
Fey dengan langkah berat menyusul suaminya ke pintu depan.
Di teras rumah, Fey melihat beberapa pria berpakaian hitam berbaris rapi di sepanjang jalan yang sedang di lalui Dev.
Sang sopir dengan hormat membukakan pintu untuk Dev, melihat Dev yang sudah masuk ke dalam mobil, Fey buru² berlari mengejarnya.
"Semangat kerjanya tuan, dah...sampai jumpa" Ucapnya tersenyum palsu sembari melambaikan tangan.
Dev dengan acuh menatapnya sebentar lalu menutup wajahnya menggunakan masker. Dengan angkuh Dev menutup kaca mobilnya.
'Cih... Dasar pria sombong' umpat nya dalam hati.
Ketika melihat Will di sampingnya, lalu Fey berkata "Tuan, boleh aku bertanya sesuatu? sebentar saja" Suara Fey membuat sekretaris Will tidak jadi masuk ke dalam mobil, ia lantas menutup pintunya kembali.
"Ada apa nona? ".
" Bagaimana kondisi ayahku? ".
__ADS_1
" Ayah anda sudah di operasi dan sekarang sudah di pindahkan ke ruang VVIP, saya juga sudah menyuruh orang untuk menjaga ayah anda. Namun sepertinya ayah anda masih belum sadarkan diri".
Jawaban Will membuat hati Fey tidak tenang, ia merasa cemas dengan kondisi ayahnya saat ini.
"Bolehkah saya menjenguk ayah saya hari ini tuan? ".
" Mohon maaf nona, kalau masalah itu sebaiknya anda bicarakan langsung saja pada tuan muda".
"Aku tidak berani, apa aku boleh minta tolong anda aja? , tolong katakan pada tuan muda, bolehkah saya keluar hari ini" Ucap Fey dengan wajah memelas, membuat Will merasa agak iba pada gadis malang ini.
"Baik, nanti akan saya tanyakan".
" Kalau begitu aku pinjam ponselmu sebentar".
"Untuk apa nona? " Tanyanya sambil menyerahkan ponsel tersebut.
Fey lantas meraih ponsel itu dan menulis sesuatu di dalamnya.
"Itu nomor ponselku, nanti kalau tuan muda mengizinkan tolong kabari aku lewat situ" Katanya sambil menyerahkan ponsel tersebut.
Senyuman kecil ia berikan untuk Will karena bersedia membantunya.
Di lain sisi, Dev yang dari tadi mengamati mereka berdua pun menjadi penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
'Apa yang dua orang ini bicarakan, kenapa kelihatan akrab sekali?. Dan kenapa gadis ini bisa tersenyum semanis itu? Sedangkan denganku dia tidak pernah'.
Dev mengerutkan dahinya, Jelas dari raut wajahnya bahwa ia tidak senang. Di matanya mereka berdua seperti sedang mesra²an.
Tak lama setelah itu Will masuk ke dalam mobil dan seperti biasa ia duduk di sebelah sang sopir. Namun kali ini Will merasa atmosfir di ruangan itu berubah dingin, bulu kuduk nya pun sampai berdiri.
"Apa yang gadis itu katakan? " Tanya Dev dengan tatapan membunuh.
"Nona muda ingin saya memintakan izin pada anda untuk memperbolehkannya keluar agar dapat menjenguk ayahnya di rumah sakit" Jawabnya dengan bergidik ngeri.
" Kenapa dia tidak bicara langsung padaku" Kata Dev dingin.
"Nona bilang ia tidak berani, makanya beliau memberikan nomornya agar ketika Anda mengizinkan saya bisa langsung memberitahunya".
'Bisa²nya dia memberikan nomornya pada pria lain, aku saja tidak punya'.
" Dia tidak boleh keluar, hapus nomornya dari kontakmu" Titah Dev yang mau tidak mau harus Will patuhi.
'Bagaimana bisa gadis seperti dia dapat membuat tuan se cemburu ini'.
__ADS_1