
"Tuan, sebaiknya anda makan dulu. Ini sudah malam, sehabis makan langsung tidur".
" Dasar bodoh. Di sini masih pagi".
"Ouh iya, kan anda berada di luar negeri, saya lupa hehe... ".
" Temani aku makan".
Tanpa menunggu jawaban sang istri, Dev langsung mengalihkan panggilan biasa ke video call. Meski sebenarnya Fey malas mengangkatnya namun ia tetap berusaha tersenyum manis ketika menerima panggilan tersebut.
Fey melihat layar ponselnya, walau Dev nampak kelelahan namun masih terpancar ketampanan dari wajahnya, bahkan ketampanan itu mengalahkan semua artis yang pernah Fey lihat di televisi.
'Tuhan menciptakannya dengan paras yang begitu sempurna, sayang sekali kelakuannya minus. Andai saja dia tidak menyebalkan, aku pasti sudah mengaguminya dari saat pertama bertemu' Fey membatin dalam hati.
"Apa yang sedang kau pikirkan? " Dev lantas bertanya kepada Fey karena dia nampak melamun, namun gadis ini malah mengalihkan pembicaraan.
"Saya dengan senang hati menemani tuan makan" Ucapnya sambil tersenyum bodoh.
Dev kembali memakai masker, meski wajahnya tertutup tapi ia masih saja menjadi pusat perhatian para wanita.
Fey melihat suaminya berjalan ke luar ruangan melewati lorong rumah sakit menuju pintu keluar, sepertinya ia ingin pergi ke suatu tempat.
__ADS_1
"Tuan, anda ingin pergi kemana? " Tanya Fey ketika Dev telah memasuki mobil dan duduk di kursi penumpang.
"Mencari makan".
Dev menempelkan ponselnya di sandaran kursi depan agar mereka masih tetap bisa melakukan panggilan video call. Ia pun berkata "Pergi kemana saja hari ini? ".
" Saya pergi ke kampus, setelah itu main ke rumah temen sebentar" Jelas Fey.
"Rumah teman? " Dev mengulang kalimat itu sambil mengerutkan dahi.
"Perempuan kok tuan, saya berani bersumpah" Cepat² Fey menjelaskan takut bila Dev salah paham.
'Menjengkelkan!... Lagian kenapa juga aku harus takut kalo dia salah paham, toh tidak mungkin juga dia cemburu kalo aku dekat sama pria lain'.
" Tuan, apa anda akan lama berada di sana? ".
" Kenapa? Kau rindu padaku? ".
'Najis, siapa juga yang rindu?... Maksudku kalo bisa kau jangan pulang cepat². Aku malas kalo satu kamar denganmu, aku selalu merasa tidak aman berada di dekatmu karena kau adalah pria mesum, siapa yang tau kalo suatu saat kau akan khilaf dan berbuat sesuatu padaku' Jelas saja Fey bicara begitu dalam hati, mana berani ia bicara terang²an begitu pada Dev? Ia masih sayang nyawa.
"Sudah pasti, mana mungkin saya tidak rindu".
__ADS_1
'Jijiiiikkk.... Kenapa bisa kalimat menggelikan itu bisa keluar dari mulutku?'.
Fey tidak mengerti kenapa ia tidak bisa menyinggung pria itu sama sekali.
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai Dev berhenti di suatu tempat. Bangunan itu nampak mewah seperti restaurant bintang lima, tapi anehnya di dalam tak ada siapapun selain pelayan.
Seorang waiters menarik salah satu kursi untuk di duduki Dev, dengan arogan ia duduk di atas kursi tersebut. Ia menyandarkan ponselnya di Vas bunga karena masih melakukan panggilan Video call bersama sang istri.
Dari balik layar Fey melihat para pelayan nampak dengan hormat menyambut kedatangan suaminya. Entah kenapa ia merasa bahwa Dev begitu di hormati dan di segani oleh semua orang.
"Anda dimana tuan? " Tanya Fey heran sebab desain ruangan itu nampak seperti restoran namun suasananya sepi karena tak ada seorangpun pengunjung yang datang membeli.
"Aku makan di salah satu restoran yang tidak jauh dari rumah sakit, kenapa? ".
" Kok sepi? ".
" Aku baru saja menyewanya. Aku tidak suka makan bersama banyak orang".
Fey tercengang.
'Kenapa tidak memilih ruang VIP saja? Kenapa malah memboking seluruh restoran cuma untuk makan sendiri. Dasar gila, aku tidak tau jalan pikiran pria ini'.
__ADS_1