
Fey pergi ke ruang baca untuk mengambil Map yang di minta Dev, ini adalah kali pertamanya masuk ke dalam ruangan tersebut. Apa kalian tau? ruangan itu sangatlah besar dan luas seperti perpustakan. Seluruh rak terisi penuh dengan dokumen² penting perusahaan yang tersusun rapi. Fey jadi bingung map mana yang Dev suruh ambil sebab map berwarna merah bukan hanya satu melainkan ada banyak, dan tempat penataannya juga terpencar.
"Dia gila ya? Map merah sebanyak ini suruh aku mengambilnya? si pria sialan itu pasti berniat mengerjai ku agar aku tidak jadi pergi. Aaaa!! Bodoh! aku menyesal memberikan senyuman manisku padanya... tau bakal dikerjai begini mending ku jambak saja rambutnya" Fey mendumel marah² tidak jelas sambil mengeluarkan jurus anime.
Tanpa Fey sadari, Dev tengah memperhatikannya dari balik pintu yang tadi lupa ia tutup. Mendengar makian sang istri bukannya marah ia justru malah tersenyum menahan tawa.
'Enak saja mau pergi, seharusnya kau mengajakku juga' Batin Dev sambil bersedekap tangan dengan tubuh yang ia sandarkan di sisi pintu.
Fey Dengan asal mengambil seluruh Map yang terlihat di matanya, pokoknya warna merah. Setelah beberapa menit, kini tinggal satu Map merah yang tersisa, tempatnya ada di rak paling atas. Fey mengambil kursi dan menaikinya, namun karena badannya yang pendek ia tetap tak bisa meraih benda tersebut.
Tanpa berpikir panjang, Fey langsung merayap ke atas rak untuk menjangkaunya. Namun siapa sangka rak yang terlihat kokoh itu tiba² goyah dan hampir membuatnya terjatuh, untung saja Dev dengan sigap menangkapnya lalu buru² menjauh.
Namun ketika Dev berusaha melindungi istrinya dari buku yang berjatuhan, sial sekali bahunya kejatuhan rak kayu yang tumbang, menyebabkan bahunya cedera.
"Akh,..! " peliknya di barengi suara benda jatuh.
"Brak! ".
" Tu-tuan, anda kenapa? ".
" Mendesah. Apa matamu tidak lihat? bahuku habis tertimpa rak, bodoh" Ucap Dev dengan nada kesal, dengan wajah meringis ia menahan rasa sakit di pundaknya.
"Astaga, apa itu sakit? ".
" Tutup mulutmu! " Sudahlah menahan rasa sakit, di tambah mendengar pertanyaan bodoh dari sang istri, ini membuat Dev jadi ingin menelan seisi bumi sekalian author nya.
Kini Fey merasa bersalah, mau bagaimanapun ini semua salahnya. Andai saja ia tak bertingkah merayap di atas rak buku pasti rak itu tidak akan jatuh dan Dev tak mungkin terluka.
Fey lantas menuntun Dev duduk di atas sofa, sambil Membungkukkan badan ia berkata "Terimakasih telah menolong saya".
"Bantu aku membuka baju".
" Ba-baik" Dengan enggan Fey melepas kancing kemeja berlengan pendek yang Dev kenakan saat ini.
Ketika Baju itu separuh terbuka, Fey melihat lebam berwarna ungu di bahu kiri suaminya. Meski tak berdarah namun Fey tau jika itu sangat sakit.
"Tu-tuan, lebih baik kita ke rumah sakit saja. Saya takut anda cedera tulang" ucapnya khawatir.
"Aku tidak mau ke rumah sakit, lebih baik kau ambilkan telepon itu padaku" Ujar Dev sambil menunjuk ke telepon kabel yang berada di atas meja.
Fey dengan patuh menuruti perkataan Dev, ia mengambil telepon itu kemudian ia berikan kepada sang suami.
Telepon kabel itu otomatis terhubung kepada paman Han "Paman Han, tolong beritahukan dokter Lie untuk segera datang kemari".
__ADS_1
" Baik tuan" Jawab Han dari sebrang sana tanpa bertanya.
Fey membawa Dev ke kamar, tak lama kemudian si dokter muda nan tampan datang untuk memeriksa.
Paman Han dan Fey pun menunggu di luar.
"Nona Fey, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa tuan muda bisa terluka? " Tanya Han.
"Ini salah saya. karena menolong saya yang hampir terjatuh tuan muda jadi tertimpa rak buku. Saya benar² tidak sengaja" Ucap Fey merasa bersalah.
...----------------...
Di sisi lain Dokter Lie tengah mengobati Dev di dalam kamar, ia membalut luka itu dengan perban.
"gadis yang menunggumu di luar itu siapa? " Tanya Lie.
"Dia istriku" Jawab Dev datar.
"Apa? sejak kapan? seingat ku dulu kau tidak pernah punya pacar waktu sekolah, tau² sudah menikah saja".
" Ini namanya pria sejati. Makanya kau cepetan cari istri juga, umurmu sudah tua, aku jadi kasihan".
"Hahaha... berhenti mengejekku tuan. Sepertinya istrimu boleh juga" Gurau Lie.
" Hahaha... aku mana berani merebut milikmu".
"Bagaimana dengan tanganku? " Tanya Dev yang masih merasakan nyeri di bahunya.
"Tidak apa², kau hanya cedera sedikit. Mungkin tidak lama tanganmu juga akan sembuh".
" Jika istriku bertanya, jawab saja jika lukaku ini parah".
Lie tersenyum "Aku ini dokter yang kompeten dan juga jujur. Imbalan apa yang akan ku dapat jika ku membantumu berbohong? ".
" Peti mati dengan ukiran namamu".
"Sial, kenapa juga aku harus mendapat teman sepertimu? " Gumamnya sambil tertawa kecil.
"Aku harus kembali ke rumah sakit sekarang, cepat sembuh tuan muda" Pungkasnya sambil membungkukkan badan.
Dokter Lie membuka pintu, di sana ia melihat paman Han dan juga istrinya Dev tengah menunggunya dengan wajah cemas.
"Bagaimana keadaan tuan muda dok? " Tanya Fey.
__ADS_1
"sayang sekali, kondisi tuan muda sangat mengenaskan. Sebenarnya saya tak tega mengatakan ini, tapi... tulang bahu tuan muda retak, butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Dia butuh perawatan khusus dari anda" Ucap Lie melebih²kan.
"Perawatan khusus? " Ucap Fey tak mengerti.
"Ini menyangkut hidup dan mati, intinya kejatuhan rak buku bisa membuat orang mati" tutur sang dokter.
"Astaga...separah itu? " Sangking terkejutnya Fey menutup mulutnya yang terbuka.
Dev yang tak sengaja mendengar percakapan itu dari dalam bilik kamar langsung mengumpat "Lie sialan! tidak sekalian dia bilang aku sekarat, koma, kejang² dan hampir mati? '.
" Jangan lupa ganti perbannya setiap hari, kalau begitu saya permisi" ucap Lie lalu pergi meninggalkan kediaman tersebut.
_______________
Sore harinya Fey pergi ke rumah Elsen, meski Dev nampak tak rela di tinggalkan, namun Fey tetap diam² cabut dari rumah saat pria itu terlelap dalam tidurnya.
...Aku ini sudah berjanji pada Leon bahwa akan datang untuk mengajarinya setiap hari, terlebih lagi gajiku sudah ku ambil, aku tak bisa ingkar dan melepas kewajibanku begitu saja. Lagi pula aku hanya pergi sebentar, tidak mungkin juga orang itu akan mati....
Sehabis dari rumah teman, Laura langsung memesan ojek online untuk balik. Namun ketika di tengah jalan ia tak sengaja melihat Fey yang terjebak dalam kemacetan.
"Pak, pak putar balik! ikuti wanita itu" Suruh Laura sambil menepuk pelan bahu si ojol.
Ia pun mengikuti Fey dari belakang, tak lama kemudian ia berhenti di samping bangunan mewah. Fey membawanya ke sebuah bangunan yang berbentuk seperti istana, Laura pun terkesima melihatnya.
'Astaga... jadi ini tempat si udik itu kerja? megah sekali' Batinnya sambil melihat sang kakak yang memasuki gerbang.
"Pak, tunggu sini, saya mau ke sana sebentar" Salah satu kaki Laura telah turun dari motor, ia ingin memastikan kalau Fey memang bekerja di tempat ini atau tidak.
Laura dengan berani memencet bell yang berada di samping gerbang, tak lama setelah itu seorang satpam membuka pintu gerbang tersebut.
"Ada perlu apa mbak datang kesini? " Tanya si satpam.
"Begini, saya mau tanya, tadi barusan ada wanita yang naik sepeda masuk ke dalam, apa benar dia pelayan di rumah ini? " Tanya Laura dengan wajah penasaran.
"Bukan, dia bukan pelayan. Dia guru privatnya tuan Leon".
" Apa? guru privat? ".
" Benar".
'Bagaimana bisa si bodoh itu jadi guru privat? dia saja tak pernah dapat nilai bagus saat ujian. Apa orang kaya sekarang menyuruh orang bodoh untuk menjadi guru privat mereka? ' Laura tak habis pikir, padahal dalam hal prestasi ia lebih unggul di bandingkan Fey, ia bangga pernah masuk ke dalam peringkat 10 besar walau dari hasil mencontek.
"Owh terimakasih informasinya pak, kalo begitu saya permisi" Buru² Laura meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Laura langsung memberi SMS pada sang ibu "Bu, Laura udah tau Fey kerja di mana" tulisnya dalam pesan singkat tersebut.