
Seharian ini Fey tidak ngapa-ngapain, dia hanya berbaring tengkurap menonton video di atas ranjang sambil makan cemilan sampai lupa makan dan mandi.
'Nggak usah mandi ah males, toh pria itu juga tidak ada di sini, jadi tidak akan ada yang mengatai ku bau'.
Baru kali ini Fey dapat merasakan santai yang sesungguhnya, tidak di maki² sang ibu, tidak di suruh beres² rumah, tidak di jadikan babu oleh sang suami. Sungguh menyenangkan, terasa tenang dan damai.
Tak terasa hari sudah mulai petang, namun Fey masih saja setia dengan ponselnya. Ternyata tidak melakukan pekerjaan apapun juga bisa membuatnya lelah, ini benar² membosankan.
Tapi tiba² saja terdengar suara ketukan pintu dari luar, Fey buru² membukanya.
"Selamat malam nona, maaf mengganggu. Saya kemari untuk memberitahukan anda bahwa makan malam telah siap".
"Ah iya, anda makan duluan saja Bi. Saya belum lapar" Ujar Fey pada si kepala pelayan wanita tersebut.
"Nona, anda dari tadi siang belum makan. Kalo tuan muda tau bagaimana?. Jika seandainya beliau tanya saya harus jawab apa, Nona?... Jika anda sakit otomatis saya akan dimarahi tuan muda".
'Mustahil dia bertanya tentang keadaanku, aku yakin seribu persen bahwa dia sama sekali tidak peduli. Aku bakal kaget setengah mati bila pria sok sibuk seperti dia menyempatkan waktu untuk memikirkan ku, hahaha.... Konyol '.
"Bibi tinggal bohong saja kalo saya sudah makan. Gampang kan? ".
Wajah Bibi An langsung berubah tegas, tidak pernah Fey melihat Bibi An menatapnya seperti ini.
'Astaga... Bibi An kenapa menatapku begitu? Menakutkan sekali'.
__ADS_1
"Kalo begitu saya permisi" Tutur An kemudian meninggalkan tempat tersebut.
Fey jadi merasa bingung dan aneh, namun ia tak terlalu memikirkan hal tersebut karena di otaknya sekarang hanya terdapat film kesukaannya yang belum selesai ia tonton.
Dengan tak sabar ia kembali memanjat ranjang, tengkurap dan memegang ponsel genggamnya yang sempat ia tinggalkan di atas kasur.
'Tululit... Tululiittt' suara ponsel berbunyi.
"Ini nomor siapa? " Fey bingung ada nomor tidak di kenal tiba² video call.
Tanpa ragu Fey menolaknya. Tidak lama kemudian HP nya berdering lagi, dan nomor tadi muncul kembali di atas layar.
Ini sungguh membuatnya kesel, terus²an ia menolak panggilan Video Call tersebut, tapi orang yang ada di sebrang sana tidak henti²nya menelepon.
"Angkat!" pesan singkat tersebut muncul di barengi dengan bunyi nada dering dari ponselnya.
Dengan kesal Fey mengangkatnya. kini matanya terbelalak tatkala melihat orang yang ada di layar ponselnya.
'Astaga, matilah aku' batinnya sambil menutup mulutnya yang ternganga menggunakan telapak tangan.
" Ada apa dengan matamu? kenapa menatapku begitu? " Tanya Dev kala melihat mata Fey yang membesar karena terkejut.
"m-ma.. maafkan saya tuan, saya tidak tau jika ini nomor tuan" tutur Fey gagap. Ia tak mengira bahwa orang seperti Dev bakal meneleponnya.
__ADS_1
'Orang gila ini dapat nomorku dari mana? '
"Orang rumah bilang kau tidak mau makan, kenapa? ".
'Ini pasti kerjaannya Bibi An, beliau pasti habis mengadu pada Dev'.
" sa-saya hanya belum lapar tuan".
"aku menyuruh para pelayan membawa semua makanan ke dalam kamar".
" Apa? " pekik Fey terkejut.
Tiba² para pelayan nyelonong masuk begitu saja ke dalam kamar, mereka semua berderet rapi menyajikan hidangan sampai penuh di atas meja yang jaraknya tidak jauh dari ranjang.
Fey hanya melongo melihat pemandangan tersebut, seumur² baru kali ini ia di perlakukan begini layaknya seorang puteri.
"Selamat makan Nona muda" tutur Bibi An sambil tersenyum lembut lalu pergi bersama pelayan lainnya meninggalkan Fey kembali sendirian di kamar tersebut.
"Tuan, anda tidak perlu melakukan ini? kalo saya lapar saya bisa mengambilnya sendiri".
" Habiskan! ".
" Apa?! ".
__ADS_1
'Makanan segitu banyaknya suruh aku menghabiskan semuanya? kau sudah gila? Apa kau ingin melihatku mati kekenyangan? '.
Fey tak habis pikir, sepertinya akal suaminya telah terjun ke dalam laut.