
Fey pulang bersama sekretaris Will, sesampainya di rumah ia langsung menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya, ketika memasuki pintu ia di kejutkan oleh keberadaan Dev yang tengah memakai kursi roda sambil menatap ke luar jendela.
'Orang ini kakinya kenapa? kenapa tiba² pakai kursi roda begini? ' Batin Fey bingung. Perlahan ia berjalan mendekat, ada sedikit perasaan takut di hatinya, entah kenapa setelah memasuki kamar hawa di ruangan itu berubah dingin seolah berada di Kutub Utara.
"Permisi tuan, anda sudah bangun? " Entah kenapa pertanyaan konyol itu selalu keluar dari mulut Fey. Jelas-jelas Dev sudah duduk sambil bertapa di depan jendela, masih saja ia melontarkan pertanyaan itu, membuat Dev sebal saja.
Dev langsung menolehkan kepalanya ke samping.
"Dari mana saja? " pertanyaan itu sontak membuat Fey gemetar, telapak tangannya yang awalnya kering menjadi berkeringat basah karena gugup.
"Kan tadi saya sudah bilang kalo mau ke rumah ibu? ".
" Izinmu cuma dua jam".
Kini Fey sadar bahwa ia salah, pria itu pasti kesal karena dia tak bisa pulang tepat waktu.
"M-maafkan saya. Sebenarnya.... sebenarnya saya, saya tadi, habis dari rumah ibu saya sempat pergi ke rumah salah seorang anak kecil untuk menjadi guru privat" Jelas Fey berbelit.
"Guru privat? " Dev mengernyitkan dahi, nada suaranya terdengar aneh, seperti meremehkan.
"I-iya, maaf karena tidak jujur dari awal".
" Untuk apa jadi guru privat? aku bisa memberimu uang. kau tinggal minta,apa susahnya? ".
Fey melangkah ke depan, dengan tangan yang gemetar ia memeluk leher Dev dari belakang.
"Tuan, saya cuma ingin mendapat uang dengan jeri payah saya sendiri. Saya hanya ingin hidup mandiri dan tak ingin merepotkan siapapun. Boleh kan tuan? ". Persetan dengan rasa malu, yang penting pria ini tidak marah.
'Sejak kapan aku jadi centil begini? '.
Hembusan nafas Fey yang hangat bisa Dev rasakan di area telinganya. Fey tak sadar, apa yang ia lakukan sekarang membuat jantung pemuda ini berdegup kencang, bahkan pipinya kini kian memancarkan semburat merah.
'Ada apa dengan diriku sekarang? kenapa setiap wanita ini berbicara lembut padaku, aku selalu senang. Apa aku benar² punya perasaan padanya? ' Batin Dev yang tak mengerti dengan perasaanya sendiri.
"Aku ini suamimu, apa salahnya jika kau meminta? ".
__ADS_1
" Saya maunya di beri, bukan meminta" Gerutu Fey, tak di sangka suara manisnya itu membuat Dev tertawa kecil.
"Hahaha... Ambil lah uang di dalam laci itu, semuanya untukmu" Ujarnya sambil menunjuk ke arah laci yang ada di samping tempat tidur.
Fey dengan patuh berjalan menuju laci dan menarik gagang laci tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat tumpukan uang ratusan ribu tertata rapi di dalamnya.
'Wau... banyak banget. ini beneran untukku? '.
Padahal Fey tadi hanya bercanda, ia tak benar² menginginkan uang dari Dev, tapi siapa sangka lelaki ini malah benar² memberinya uang.
"Jika itu kurang aku bisa memberimu lebih. Sisanya ada di berangkas. Mulai sekarang kau tidak perlu bekerja lagi" Tambah Dev.
'Ini hasil ngepetmu kan? ' Batin Fey berburuk sangka.
"Te-terimakasih, ini sudah lebih dari cukup. tapi saya masih ingin bekerja, biarkan saya bekerja keras sendiri. boleh kan tuan? " mimik wajah Fey kembali memelas.
'Padahal aku bisa memberinya uang cuma². Tapi dia malah ingin bekerja, dasar bodoh' Batin Dev tak habis pikir.
" Terserah".
'Ternyata pria ini baik juga'.
Lalu Fey kembali menatap kursi roda yang tengah Dev duduki, ia pun bertanya "Tuan, kenapa anda memakai kursi roda? ".
Pertanyaan yang menjanggal di otaknya akhirnya bisa ia ungkapkan.
"Ini gara² kau, karena menyelamatkanmu kakiku jadi begini".
" Kok bisa? bukannya yang tertimpa cuma bahu anda saja. kenapa sekarang jadi kaki anda yang sakit? ".
" ya-... memang yang kena area bahu, tapi rasa sakitnya menjalar sampai kakiku. Sekarang aku tidak bisa berdiri, ini semua salahmu" Ucapan Dev membuat Fey kesal setengah mati. Baru saja mereka akur tapi sedetik kemudian mereka bertengkar lagi.
'Otakmu saja yang tidak beres. Mana Ada tangan yang tertimpa malah kaki yang kesakitan? Aneh'.
"Maafkan saya tuan, ini semua salah saya".
__ADS_1
" Aku mau ke ruang kerja" Tutur Dev.
"Iya, silahkan" Ucap Fey yang tak mengerti keinginan pria tersebut.
"Aku mau ke ruang kerja" Lagi² Dev mengatakan itu.
'ya sudah sana pergi, tunggu apa lagi?. apa kau ingin aku menggendong mu?... Lagi pula kau tak benar-benar sakit kaki kan? aku tau jika kau cuma ingin mengerjai ku saja, menyebalkan' ucap Fey dalam hati.
"Kenapa diam saja? Cepat bantu dorong aku ke sana! " Titahnya.
"Baik" Dengan tersenyum kecut Fey mendorong kursi roda tersebut menuju ruang kerja Dev.
Di dalam ruang kerja itu ternyata ada sekretaris Will, sepertinya dia memang sudah di perintah Dev untuk menunggunya di ruangan itu.
Ketika melihat kedatangan tuannya, Will langsung beranjak dari tempat duduk untuk menyapa "Selamat sore tuan" ucapnya sambil membungkukkan badan.
"Aku ingin bicara pada Will, kau pergilah" ujar Dev berbicara pada sang istri.
Ketika Fey telah keluar, Will pun bertanya " Tuan muda. kaki dan tangan anda kenapa? ".
Melihat tuannya duduk di atas kursi roda dengan tangan yang di pakaikan penyangga bahu membuat Will penasaran dengan apa yang telah terjadi.
" Habis tertimpa rak buku".
"Bagaimana bisa?. Lalu bagaimana kondisi anda sekarang, apa perlu saya panggilkan dokter? " Sudah hampir 10 tahun Pria ini menemani Dev, ketika melihat tuannya kenapa-napa ia jadi ikut khawatir.
"Aku tidak apa². Lagian aku tadi sudah di periksa oleh dokter Lie, dia bilang lukaku bisa segera sembuh" Jawab Dev kemudian langsung berdiri dari kursi roda dan beralih duduk di kursi keagungannya.
'Kelihatannya kaki tuan baik² saja. Jadi untuk apa beliau memakai kursi roda? '.
"Tadi kau bertemu istriku di mana? ".
" Saya bertemu nona Fey di mall" Jawab Will.
Raut wajah Dev langsung berubah setelah mendengar hal tersebut "Di Mall?? ".
__ADS_1
" Iya tuan, beliau datang ke sana bersama tuan Elsen dan juga putranya" Sambil menyerahkan HP yang di dalamnya terdapat foto Fey bersama Elsen.