Menikahi Gadis Udik

Menikahi Gadis Udik
resign


__ADS_3

Malam telah berganti menjadi siang, panas matahari yang awalnya hangat kini berubah menjadi panas sampai dapat membuat otak kebakaran.


sehabis pulang kuliah, Fey dan juga Lala berbincang di pinggir jalan dengan pohon besar sebagai tempat berteduh, sebuah kardus mereka gunakan untuk duduk bersama. Tak lupa Fey membawa dua nasi bungkus untuk di makan bersama teman barunya itu.


"Fey, kayaknya aku lapar deh. Dari pagi aku belum sarapan, cari makan yuk" ajak Lala.


"Tada... " ucap Fey riang sambil memamerkan sebuah kresek hitam yang ia tenteng sejak tadi.


"itu apa? " Tanya Lala.


"Nasi bungkus.. kau lapar kan? tadi aku beli dua. ini, aku satu kau satu" Fey langsung memberikan bungkusan itu kepada Lala, Lala pun dengan senang hati menerima pemberian Fey.


"Makasih".


ketika sedang makan, semua orang yang lewat di trotoar memperhatikan mereka berdua. Fey dan juga Lala menghiraukan tatapan menghina dari semua pejalan kaki tersebut. Melihat bagaimana Fey dan juga Lala saat ini, siapa yang tidak akan mengira bahwa mereka berdua adalah gelandangan?...


"Fey, aku haus nih... kau bawa minum nggak? " tanya Lala.


"Bawa kok, sebentar ku ambilkan" Fey langsung membuka tasnya.


"Yang di dalam plastik hitam itu apa? " tanya Lala yang tak sengaja melihat isi tas Fey.


"Owh ini? ini uang untuk mengembalikan gajiku yang ku dapatkan di awal kerja" jawab Fey sambil memperlihatkan tumbukan uang itu kepada Lala.


"Wah... banyak banget, gajimu sebanyak ini? ".


Fey mengangguki pertanyaan itu " Sebelumnya ibuku pernah hutang pada rentenir, untuk membayarnya aku terpaksa meminta uang gajiku lebih awal, tapi aku ingin berhenti, jadi aku akan mengembalikan uang ini kepada majikanku" jelasnya.


"Kau kerja apa? " Tanya Lala penasaran, bisa di bilang ia tergiur dengan uang sebanyak itu.


"Cuma jadi guru privat untuk anak kecil".


" Kalau kau ingin keluar dari pekerjaan tersebut, bisa nggak aku menggantikan mu? " ucap Lala penuh harap.


Fey agak bingung menjawabnya "Iya, nanti aku bakal omongin".


" makasih" ~Lala.


_______

__ADS_1


Di lain sisi, Dev dan sekretaris Will tengah berada di dalam mobil. Mereka ingin pergi menemui investor di salah satu restauran yang terletak di samping balai kota. Di tengah kemacetan yang melanda, Will yang kala itu sedang menyetir tak sengaja melihat sosok Familiar "Tuan muda, bukankah itu nona Fey? " Ucap Will sambil menunjuk ke sebrang jalan.


Dev yang awalnya sibuk melihat berkas dokumen langsung mengalihkan pandangannya ke arah Fey. Istrinya terlihat seperti gelandangan di pinggir jalan, namun ia tersenyum kala Fey nampak bahagia mengobrol dengan seorang wanita di sebelahnya.


"Akhir-akhir ini aku sering tersenyum, tidak biasanya aku begini. Aku rasa aku harus pergi ke psikolog untuk memeriksakan keadaanku" ucap Dev sambil terus menatap Fey dari kejauhan.


"Saya rasa itu tidak perlu tuan, saya tau kenapa anda sering tersenyum" Jawab Will sembari melihat Dev dari dalam kaca spion mobil.


"kenapa? " Dev langsung menatap Will sambil mengerutkan dahi.


"Anda sedang jatuh cinta".


" Hahaha.... konyol, mana mungkin aku menyukai wanita kampungan seperti dia? aku hanya suka mengerjainya saja, tidak lebih" Tawa Dev mencaci sang istri, setelah itu ia kembali terdiam.


'Apa benar aku menyukai gadis itu? tapi kalau di pikir-pikir.... aku memang tak suka jika melihatnya akrab dengan pria lain, apa mungkin.... ' Kembali Dev melihat ke arah sang istri, dan ia pun lagi² mengulum senyum di bibirnya.


Will yang sejak tadi memperhatikan tuannya dari spion pun jadi merinding. bagaimana tidak? sekejap² senyum, sekejap² diam, senyum lagi, diam lagi... orang normal macam apa yang bisa merubah ekspresi wajahnya dalam hitungan detik.


_________


Selepas makan, Lala berniat untuk mencari minum karena air yang Fey bawa terasa kurang di tenggorokannya yang masih kering.


Fey pun langsung memberesi sampah mereka, ia menaruh bungkus nasi itu ke dalam kresek hitam kembali. Ia berniat membuangnya. Di carinya tempat sampah di tempat itu, ia lantas melihat tong sampah di depan sana, jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri sekarang.


Fey berjalan menuju tong sampah tersebut, tapi di tengah jalan tiba² kantong plastik yang ia bawa di bawa lari oleh seorang pemuda yang masih mengenakan seragam SMP.


Fey pun jadi tertegun, matanya terus melihat punggung pemuda itu yang tergesa² berlari seperti sedang di kejar pocong.


'Eh.... kota macam apa ini? sampah pun kena copet' Batin Fey tak habis pikir, ia pun melongo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tiba² ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang, karena terkejut Fey spontan langsung menolehkan wajahnya.


"Sedang apa berdiri di sini? ini aku bawain kau minuman" ucap Lala sambil memberikan sebotol air mineral.


Fey mengambil air tersebut dan meminumnya.


"Kayaknya aku harus pergi sekarang deh".


" Yaudah, hati²" ucap Lala sambil melambaikan tangannya ke atas.

__ADS_1


 


Di sisi lain, pencopet yang berhasil merampas sampah milik Fey nampak berhenti di sebuah gang sempit. Seorang pria botak yang sudah berumur juga berlari di belakang anak SMP tersebut.


"Mana hasil nyopet mu hari ini? " Dengan suara tinggi pria botak itu menodong hasil mencopet anak SMP tersebut.


Anak sekolah itu mencopot topinya, ternyata dia adalah Dion, adiknya Lala. Untuk membayar uang semester sekolah, Dion terpaksa bekerja seperti ini, dan ini adalah kali pertama ia melakukannya.


Dion dan si pria botak bersama² membuka bungkusan hitam tersebut, betapa terkejutnya mereka setelah tau isi dari plastik tersebut.


"Apa ini? capek² lari tenyata kau mencopet sampah? " si botak emosi dan langsung membuang bungkusan itu ke tanah.


"Pantas saja wanita tadi tidak berteriak dan mengejar mu. ternyata isinya cuma bungkus makanan" gumam Si botak sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kau yang menyuruhku pencopetnya. katamu orang itu menaruh uangnya di dalam kresek hitam, tapi apa ini? cuma kantung sampah" Ujar Dion kecewa, akhirnya mereka berdua pun berselisih.


--------


...RUMAH KEDIAMAN ELSEN...


Fey berbincang degan Elsen di ruang baca.


"Ini tuan, saya ingin mengembalikan uang yang pernah anda berikan pada saya, totalnya 200 juta. Maaf saya tidak bisa guru privat untuk Leon lagi, saya ingin resign " ucap Fey sambil meletakkan uang tersebut di atas meja.


"Kenapa? Apa putraku susah di didik? " Tanya Elsen sembari menampakkan wajah datar.


"Bu-bukan, Leon adalah anak yang cerdas. saya rasa, tanpa saya pun Leon dapat tumbuh sebagai anak yang berprestasi".


" Lalu, kenapa kau ingin resign? ".


" Saya ingin fokus kuliah saja" ucap Fey mencari alasan.


Elsen langsung beranjak dari tempat duduknya dan melangkah mendekati Fey. "Aku bisa menambah gajimu, jika kau keberatan datang ke sini setiap hari, kau boleh datang tiga kali seminggu".


" Maaf tuan, saya tidak bisa. Permisi... " Fey langsung membalikkan badan ingin pergi, namun tiba² tangannya di genggam oleh pria ini. Sontak Fey menutur kepalanya, membuat ke empat mata mereka saling bertemu.


"Putraku sangat menyayangimu, sebagai ayah aku tak ingin melihatnya bersedih. Aku mohon, tetaplah jadi guru privat anakku" raut wajah galak Elsen tiba² hilang entah kemana, kini ia seperti seorang pria yang takut kehilangan kekasihnya pergi.


'Ada apa dengan pria ini? bukankah dulu dia tidak senang jika aku dekat dengan putranya? tapi kenapa sekarang sifatnya berubah? aneh'...

__ADS_1


__ADS_2