Menikahi Gadis Udik

Menikahi Gadis Udik
wajah Dev


__ADS_3

Fey keluar dari dalam mobil tersebut. Seluruh pekerja yang ada di rumah itu berderet rapi menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang tuan muda, selamat datang nona muda... Selamat atas pernikahannya" Ucap mereka serentak dengan senyum yang menyertai.


Fey tertegun sejenak.


'Wah apa²an ini, macam di dalam dongeng saja. Kerja apa dia sampai memiliki banyak pelayan begini? Jangan² dia kaya raya begini karena hasil dari mengepet . Apa setelah ini aku akan di suruh jadi babinya?'.


Pikir Fey berburuk sangka.


Sepasang suami istri itu melangkah beriringan, sepanjang jalan mereka di guyur kelopak bunga yang bertaburan dari atas. Sungguh Fey tak menyangka akan di sambut seperti ini, layaknya putri raja yang menikahi seorang pangeran.


'Wah... Rumahnya besar sekali'.


Fey dengan takjub melihat seisi rumah tersebut. Tak pernah sedikitpun terbesit di benaknya ia akan tinggal di rumah semewah dan semegah ini.


'Sebenarnya orang macam apa yang ku nikahi ini ? Bagaimana bisa dia tinggal di tempat yang mirip istana begini'.


Batinnya sambil clingukan.


Kini Fey berusaha menyeimbangkan langkah kakinya dengan Dev, namun semakin lama Fey merasa bahwa langkah pria ini semakin lebar dan nampak sudah berada jauh di depannya.


'Apa pria ini tidak bisa jalan pelan sedikit?, Aku lelah mengejarmu' Dengan agak berlari kecil Fey berusaha payah mengejar Dev.


Dev masuk ke dalam sebuah pintu yang bercatkan warna putih. Fey hanya terpaku di ambang pintu, pupil matanya fokus melihat ke arah Dev yang tengah duduk bersandar di atas sofa dengan mata terpejam.


"Aku menikahi mu bukan untuk jadi patung" Ucap Dev dingin dengan mulut yang masih terbungkus masker.


Fey tertegun, dengan canggung ia menyeret kakinya masuk ke dalam kamar tersebut.


"Tutup pintunya! " Titah Dev.

__ADS_1


"Ba-baik".


Fey lantas menutup pintu tersebut dan kembali diam layaknya orang idiot.


Kelopak mata Dev terbuka, ia melirik Fey dengan raut wajah malas. Mengisyaratkan gadis itu agar ia mendekat, namun Fey yang bodoh tak dapat menangkap isyarat tersebut.


"Kemari lah! ".


Dengan langkah berat Fey berjalan mendekati Dev.


"Aku ingin mandi" Ujar Dev.


'lalu kau menyuruhku apa? Menggendong mu ke kamar mandi? '.


"Siapkan air hangat".


" Baik tuan".


"Dia minta air hangat tapi di mana kompornya? Terus manci buat merebus airnya dimana, kok nggak ada? ".


gumam Fey menggaruk kepala bingung.


Ia pun berniat untuk pergi ke dapur untuk memanaskan air, namun saat akan membuka pintu kamar tiba² Dev berkata " Mau pergi kemana kau? ".


Fey berbalik badan menatap Dev yang masih duduk manis di atas sofa.


" Anu tuan... Itu mau ke dapur, manasin air".


"Buat apa? ".


" Tadi kan tuan minta air hangat, jadi saya mau rebus airnya dulu di dapur, soalnya di kamar mandi nggak ada kompor sama panci".

__ADS_1


"Dasar bodoh..! Apa selama ini kau tinggal di hutan?! Astaga....".


Dev memegang jidatnya sendiri, ia merasa pusing dengan kelakuan istrinya yang katrok.


Ia pun menghembuskan nafas kesal.


" Tu-tuan, maaf lancang. Kalau boleh tau, kenapa anda selalu memakai masker?. Apa karena gigi anda dongos? Atau karena hidung anda pesek?. Saya tidak menghina, tapi ayah saya pernah bilang, bagaimanapun bentuk wajah kita, kita harus tampil percaya diri, jangan insecure, tampan atau cantik itu relatif".


Pria itu menarik sudut bibirnya.


"Kemarilah, mendekatlah padaku".


Fey menuruti perkataan Dev, ia berdiri satu langkah di hadapan sang suami.


lalu perlahan tangan Dev membuka masker tersebut.


Fey pun tertegun, ia terpana dengan ketampanan suaminya yang tidak bisa di gambarkan dengan kata².


'Ya tuhan... Dia tampan sekali. Astaga ku kira dia dongos' Batin Fey sambil menutup mulutnya dengan tangan karena sangking terpesonanya.


Ini pertama kalinya Fey melihat seluruh wajah suaminya secara utuh. Sungguh Tuhan menciptakannya dengan sangat sempurna.


'Kalau wajahnya begini wanita mana yang tidak akan tergoda melihatnya? '.


Dev menarik tengkuk leher Fey agar lebih dekat, membuat hidung mancung keduanya nyaris bersentuhan.


"Kau penasaran dengan wajahku bukan? Sekarang kau sudah melihatnya. Bagaimana? Apa hidungku terlihat pesek? Apa aku dongos? ".


Gadis polos ini menggelengkan kepala "A-ti.. Tidak tuan, bukan begitu maksudku".


" Ikut aku" Ucapnya berjalan ke kamar mandi, Fey pun patuh. Ternyata Dev mengajarinya agar tidak kampungan lagi.

__ADS_1


__ADS_2