Menikahi Gadis Udik

Menikahi Gadis Udik
Menjelajahi rumah


__ADS_3

Fey kembali ke kamarnya, ia mencari tas Selempang yang ia taruh di lemari dan mengambil ponsel yang ada di dalamnya.


"Astaga... Baterai ponselku habis" Gumam Fey lalu cepat² mengisi daya ponselnya. Setelah daya ponselnya terisi ia mendapati lima panggilan tak terjawab dari sang ibu. Gadis ini sama sekali tak peduli, dirinya hanya menantikan pesan dari Will untuk memberitahunya kabar baik.


'Mana kok nggak ada pesan dari pria tadi sih? '.


Fey dengan malas menunggu pesan dari Will, waktu terus berjalan namun tak kunjung ada notifikasi pesan di HP nya.


Setelah menunggu lama, kini Fey merasa bosan, jadi ia pun memutuskan untuk berjalan² sebentar melihat taman bunga, hanya sebatas untuk menenangkan pikiran.


Di belakang rumah ternyata terdapat lapangan golf yang sangat luas. Ia berhenti sejenak, menatap rumput hijau itu dengan tatapan kosong. Dalam pikirannya hanya terdapat gambaran sang ayah yang tengah berbaring di rumah sakit. Ingin sekali Fey pergi dari rumah ini untuk menemani sang ayah yang tengah koma.


Perlahan Fey berjalan ke taman bunga yang berada di samping rumah. Di sana ia duduk di gazebo sembari memandangi lautan bunga yang beragam bentuknya. Di sini Fey merasa sedikit tenang, ia lantas memejamkan mata, suara angin dan gemercik air dari kolam ikan pun seolah menemani kesendiriannya.


"Nak, ngapain sendirian di sini? ".


Tiba² suara yang familiar itu mengejutkannya. Fey sontak melihat ke belakang, ternyata yang datang adalah nenek Amy.


"Fey lagi menikmati udara segar, nek".


Nenek Amy lantas menyuruh Bibi An pergi, meninggalkannya bersama Fey di sana.


" Nenek kalau bosan juga kadang² suka ke sini. Dev jarang punya waktu, ia selalu sibuk dengan pekerjaannya, jadi nenek terkadang terasa kesepian. Kau pasti juga merasa bosan kan? ".

__ADS_1


"Dia memang laki² pekerja keras" Ucap Fey sambil tersenyum kecil.


"Kau benar, dia mendapatkan semua yang dia inginkan dengan usaha dan kerja kerasnya sendiri. Dia terlalu sibuk sampai tidak punya waktu, bahkan nenek pernah mengira kalau seandainya dia hidup begini terus dia tidak akan punya pasangan hidup, haha...".


"Tapi sekarang dia sudah punya kau, jadi suatu saat nanti jika Tuhan memanggilku, aku tidak akan risau lagi. Melihat kalian berdua saling mencintai, nenek senang sekaligus lega, itu artinya suatu saat nanti aku dapat meninggalkan dunia ini dengan tenang".


" Maksud nenek apa? ".


" Nenek merasa umur nenek sudah tidak lama lagi, nenek mengidap kanker otak stadium akhir, dan dokter mengatakan bahwa kemungkinan untuk sembuh sangatlah kecil".


'Oh jadi ini toh alasan kenapa pria itu terburu² untuk menikah, jadi karena desakan dari neneknya '.


"Nenek nggak boleh putus asa, Fey yakin nenek bakalan sembuh, semangat, aku yakin keajaiban itu ada".


Sembari memegang tangan Fey nenek Amy berkata "berjanjilah".


Fey terdiam, menatap nenek Amy dengan bingung. Bagaimana bisa ia berkata jujur bahwa pernikahan ini hanyalah sandiwara, tak mungkin ia tega menghancurkan perasaan orang tua ini. Terlebih lagi dia sangat baik padanya.


'Maaf, aku tidak bisa berjanji'.


" Nenek ini bicara apa sih? Sudah pasti aku akan menjaga suamiku, kan aku istrinya" Jawab Fey dengan berjongkok, mengukir senyum paksa di bibirnya.


'Aku takut jika suatu saat nenek tau kebenarannya, dia akan membenciku. Maafkan aku, aku tidak bermaksud membohongi nenek'.

__ADS_1


"Apa nenek mau jalan²? Aku ingin sekali menjelajahi rumah ini".


" Boleh" Jawab sang nenek setuju.


Fey dengan senang hati membantu nenek Amy mendorong kursi rodanya, ini semacam tour menjelajahi istana.


Nenek Amy memberi tau seluruh ruangan yang ada di dalam bangunan itu, merekapun jadi semakin dekat.


"Rumahmu di mana nak? ".


" Sa-saya tidak punya rumah, sedari kecil saya di besarkan di panti asuhan".


"Lalu orang tuamu? ".


" Saya juga... sudah tidak punya orang tua".


Fey menjawab sesuai perintah Dev, ia merasa bersalah, namun apa boleh buat, ia sudah sepakat untuk menutupi kebohongan ini.


"Kau pasti merasa kesepian, jangan sedih. Anggap saja aku ibumu. Setelah ibu Dev meninggal, aku selalu merindukan putriku".


"Saya senang bisa bertemu nenek".


'Kalau ibu pria itu sudah meninggal, lalu ayahnya kemana? kenapa aku tidak pernah melihatnya di rumah ini? '.

__ADS_1


__ADS_2