
Dengan hati yang dongkol, Fey duduk di atas sofa tersebut. Dan yang lebih menjengkelkan nya lagi, sofa itu menghadap ke arah ranjang. Membuat empat mata insan tersebut saling memandang satu sama lain.
"Apa yang sedang kau coba tutupi? Aku tidak melihatmu punya payudara" Celetuk Dev membuat Fey semakin kesal.
'Matamu bermasalah, makanya kau tidak dapat melihatnya'.
"Bajunya terlalu terbuka tuan, makannya saya kedinginan".
" Kau pasti ingin aku menghangatkan mu kan?. Mimpi..! Kau bulan selera ku" Ujar Dev dan langsung berbaring di tempat tidur.
"Baguslah tuan, lagi pula saya juga tidak mengharapkan itu".
Setelah mendengar perkataan Fey, entah kenapa Dev merasa tidak senang. Seperti ia sedang di tolak mentah² serta di rendahkan harga dirinya sebagai pria tampan.
'Berani sekali gadis ini'.
Dev mengangkat kepalanya kembali, melihat ke arah sofa dan ternyata Fey telah tidur lelap tanpa bantal dan selimut.
"Dasar gadis bodoh" Gumam Dev sambil terus melihat ke arah Fey. Setelah beberapa detik menatap gadis itu, Dev jadi terpikirkan sesuatu.
Tangannya meraih remot AC yang berada di atas meja nakas samping tempat tidurnya. Lalu ia menyetel suhu paling rendah sambil tersenyum miring.
'Aku yakin setelah ini kau pasti akan memohon untuk tidur di sampingku '.
Dev kembali berbaring di atas bantal dan pura² tidur menunggu Fey terbangun. Sudah beberapa menit ia menunggu namun tak ada sedikitpun pergerakan dari Fey.
__ADS_1
' c'k...sebenarnya gadis ini sedang tidur apa mati suri?'.
Batinnya sembari mengerutkan dahi.
Di lain sisi, Fey sebenarnya merasa kedinginan karena suhu AC tersebut, namun ia pura² tertidur lelap. Tak kan sedikitpun ia goyah dan membuat laki² itu merasa berhasil mengerjai nya.
'Orang gila ini pasti sengaja kan agar aku memohon padanya supaya di berikan bantal dan selimut?. Tidak akan! Aku tidak akan melakukannya, titik'.
KEESOKAN HARINYA
Fey membuka gorden kamarnya, kain besar itu ia sibakkan ke samping kanan dan kiri. Dengan tersenyum cerah ia menatap mentari pagi yang bersinar indah di atas langit. Tampak segar di pandang mata.
'Pemandangan di sini bagus banget, berbeda sekali dari tempat tinggal ku. Dulu setiap membuka jendela selepas bangun tidur, aku selalu di suguhi kain jemuran yang tergantung di atas tali yang berada di depan teras rumahku. Di tambah lagi kicauan suara tetangga yang terdengar sedang memarahi suaminya karena sering pergi memancing. Huh...'.
"Heh gadis bodoh! Siapa yang menyuruhmu membuka gorden? Aku silau" Ucapnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Menatap lelaki yang kini menjadi suaminya dengan wajah terkejut.
'Ya Tuhan... Tampan sekali, bahkan setelah tidur pun auranya tetap bersinar' batin Fey mengagumi.
"Kenapa melihatku begitu" Ketus Dev.
"Sudah pagi tuan... Em, maaf akan saya tutup kembali" Ucap Fey canggung kemudian kembali menarik gorden tersebut.
"Siapa yang menyuruhmu menutupnya lagi? Dasar bodoh!...".
__ADS_1
'Tadi katanya silau??... Maumu apa sih?! '.
Fey kembali membuka gorden tersebut.
" Cepat siapkan air hangat! , aku ingin mandi".
"Baik tuan".
____________
Setelah beberapa menit, Dev akhirnya selesai mandi dan berganti baju. Saat Fey sedang membantu memakaikan sepatu untuk suaminya, tiba² Dev berkata " Setelah ini kau ikut sarapan bersamaku. Di depan nenek nanti pura² saja kalo kita saling mencintai. Kalau nenek bertanya tentang keluargamu, katakan saja bahwa kau tidak punya keluarga, kau di besarkan di panti asuhan. Mengerti? " Jelasnya.
"Berbohong itu tidak baik tuan".
"Kalau kau tidak ingin ayahmu sembuh ya sudah, tidak apa², toh aku tidak peduli" Ancam nya kemudian.
'Dasar kaparat! Beraninya mengancam'.
"Iya² aku setuju" Jawabnya dengan terpaksa.
Setelah menali sepatu tersebut, Fey kembali berdiri, menatap Dev yang masih terduduk di atas sofa.
"Ayo" Dev beranjak dari sofa sembari menggandeng tangan Fey, ia bermaksud mengajaknya jalan bersama menuju ruang makan.
"Tu-tunggu tuan".
__ADS_1
Keempat kaki itu langsung berhenti di tempat.
" Saya tidak bisa keluar dengan baju seperti ini" Lanjut Fey.