
Sehabis pulang dari kediaman Elsen , Fey langsung datang ke rumah ibunya. Di sana ia melihat ibu, Geri dan juga sang adik tengah duduk di teras rumah, sudah dapat di tebak bahwa mereka bertiga menunggu kepulangannya. Geri tersenyum senang tatkala ia melihat kehadiran Fey, ia sudah sangat percaya diri dapat menjadikan Fey sebagai istrinya.
"Hallo cantik, bagaimana? apa kau sudah siap menikah denganku? Hahaha.. " ucap Geri tertawa gembira.
"Ini cek senilai 200 juta, hutang keluargaku lunas, jangan mengganggu keluargaku lagi" Perasaan Kesal Fey menggebu dalam hati, ia langsung meletakkan cek itu di atas meja.
Sontak hal tersebut membuat tiga orang itu terkejut keheranan, mereka tak menyangka bahwa Fey sanggup melunasi hutang² tersebut.
'kok bisa? dari mana si udik ini mendapatkan uang?.. menyebalkan! padahal aku ingin melihatnya menderita' Geram Laura dalam hati.
Geri dengan kesal mengambil cek tersebut.
"Dan ini cincin yang pernah bapak berikan pada saya, saya kembalikan. Tolong jangan mengganggu hidup saya lagi. Silahkan, anda boleh pergi sekarang" Fey juga meletakkan cincin berlian itu di atas meja, ia sama sekali tak ingin berurusan dengan orang seperti Geri lagi, ia berharap kedepannya ia dapat hidup dengan tenang.
Geri begitu marah mendengar kata² pengusiran dari Fey, siapa sangka niat baiknya bakal di tolak mentah² begini, lantas dengan emosi Geri membawa cincin dan juga uangnya pergi sambil mengucapkan sumpah serapah di dalam hati.
__ADS_1
"Katakan pada ibu, kamu dapat uang sebanyak itu dari mana? " Ketus Sonia mengintrogasi.
"Itu uang dari hasil pinjaman. Beruntung Fey dapat majikan yang baik, jadi Fey boleh meminjam uangnya dulu".
" Sebenarnya kamu kerja di mana? Jujur sama ibu" Sonia lantas mendesak Fey untuk mengatakan yang sejujurnya.
Namun Fey malah menjawab "Di pusat kota. Ibu jangan khawatir, Fey betah kok kerja di sana. Jadi untuk kedepannya Fey nggak akan pulang, ibu dan Laura jaga diri baik², nanti kalau Fey udah gajian, Fey bakal kasih uang ke ibu. Sekarang Fey harus kembali, sampai jumpa" Pungkasnya lalu mengambil sepedanya di gudang.
Sonia dan Laura sama² menatap ke arah Fey yang telah pergi membawa sepeda buntutnya.
"Bu, ibu merasa curiga nggak sih kalo Fey sedang menyembunyikan sesuatu dari kita? bahkan di tanya soal tempat kerjanya pun dia nggak mau ngaku. Jaman sekarang mana ada yang mau minjemin uang sebanyak itu, terlebih lagi dia baru kerja sebentar, mana mungkin di kasih pinjam" ucap Laura.
" Gimana kalo sekarang kita buntuti dia dari belakang. Dia kan pakai sepeda, pasti belum jauh dari sini" ujar Laura memberi ide.
"Kalo begitu ayo, cepat! keburu jauh".
__ADS_1
Sonia Dan Laura pun langsung buru² mengikuti Fey. Mereka berdua naik ojek, Laura di tengah dan Sonia di belakang.
" Hati² pak. Jangan sampe ketahuan kalo kita sedang membuntuti dia, pelan² aja" Ucap Laura yang merasa pengap terhimpit di tengah.
"Aduh pak... pelan² dong naik motornya, saya hampir jatuh lho" ujar Sonia.
karena di duduki bertiga, motor yang mereka naiki sampai tidak kelihatan.
" Iya buk, saya udah pelan² ini. Ibu sama mbaknya jangan goyang² dong. saya jadi nggak stabil nih nyetirnya".
Di pertengahan jalan tiba² saja ada emak² yang naik motor menerobos begitu saja di depan mereka, membuat si ojol itu terpaksa memutar stang motornya ke arah kiri agar tidak terjadi kecelakaan.
"Lho...lho... pak, kok malah berhenti di depan warteg, kan saya nyuruh bapak ikutin pengendara sepeda tadi? kenapa malah belok ke sini? " ujar Sonia.
"Saya menghindari kecelakaan bu, soalnya tadi ada emak² yang mau nabrak motor saya" ucap si ojol menjelaskan.
__ADS_1
"Alah gara² bapak nih kita kehilangan jejak" kata Laura menyalahkan.
" Jalan kaki aja lah kalian berdua" Karena merasa kesal di salahkan terus, akhirnya si bapak memutuskan untuk pergi meninggalkan Sonia dan Laura di depan warteg.