
Gusti duduk tidak berlangsung lama, sebab dia kembali telentang ke ranjang. Matanya bahkan masih dalam keadaan terpejam rapat.
Widy dan Elang merasa lega ketika melihat Gusti tidak bangun. Keduanya bahkan merasa lucu dengan kejadian tersebut. Mereka tergelak pelan.
Merasa keadaan sudah aman, Elang segera menuntun Widy untuk telentang miring membelakanginya. Dia memegang salah satu kaki Widy dan kembali melakukan penyatuan. Ya, mereka melanjutkan kegiatan intim.
Suara lenguhan Widy sontak kembali terdengar. Ia berusaha keras untuk meredam suaranya agar tak menggangu Gusti.
Sampai tibalah Elang dan Widy mencapai puncak secara bersamaan. Keduanya kini tumbang dan sibuk mengatur nafas masing-masing.
Widy menoleh ke belakang dan mencium bibir Elang. Permainan Elang selalu membuatnya terbuai. Mungkin karena itulah dia merasa lebih tertarik pada Elang dibanding Gusti. Elang adalah tipe bad boy yang sulit untuk dilepas. Jika sudah terikat, maka akan sangat sulit mengakhirinya.
Sambil berciuman, tangan Elang mengambil kesempatan menyentuh tubuh Widy. Ia mengelus bahkan meremas anggota badan yang dirinya suka dari cewek tersebut.
"Ternyata kau masih doyan sama aku!" timpal Widy.
__ADS_1
Elang menarik sudut bibirnya ke atas. "Sebaiknya kita tidur. Aku sudah ngantuk," ujarnya sembari menarik selimut untuk menutupi badannya dan Widy.
Widy yang merasa lemas, memilih menuruti perkataan Elang. Dia bahkan mencoba memeluk cowok itu. Namun Elang menolak dan memaksa Widy dalam posisi membelakanginya.
"Biarkan aku saja yang memelukmu," kata Elang.
Widy lantas tersenyum. Dia termakan perkataan manis Elang. Mereka perlahan tertidur.
Saat tengah malam, Elang tak sengaja terbangun. Dia mendengar ponselnya berdering.
Elang mendapat panggilan penting dari rekannya. Ia pun beranjak dari ranjang dan mengenakan pakaian. Elang langsung pergi tanpa mengajak Widy ikut. Mengingat dirinya sedang tergesa-gesa.
Ketika pagi menyapa, Gusti menjadi orang yang pertama kali bangun. Dia merasa seluruh badannya sakit semua. Apalagi bagian kepala. Gusti menekan-nekan kepalanya sambil membuka mata lebih lebar.
"Hufh..." Gusti menghembuskan nafas dari mulut. Sambil meregangkan leher, dia menoleh ke samping. Saat itulah Gusti melihat Widy telentang di ranjang yang sama dengannya.
__ADS_1
"Astaga!" Gusti kaget bukan kepalang. Terlebih keadaan Widy masih tanpa busana. Gusti bisa menyaksikan pakaian Widy yang berhamburan di lantai.
"Sial! Sial! Apa yang kulakukan!" Gusti tambah panik tatkala menyadari dirinya tak memakai celana. Kancing bajunya juga terbuka semua. Padahal orang yang bertanggung jawab terhadap keadaan Gusti itu adalah Ana.
Akibat mabuk, Gusti lupa apa yang terjadi tadi malam. Dia menduga dirinya dan Widy sudah melakukan one night stand.
Gusti bergegas turun dari ranjang dan segera memasang celana. Bersamaan dengan itu, Widy terbangun. Atensi cewek tersebut langsung tertuju ke arah Gusti.
"Kau sudah baikan?" tanya Widy seraya merubah posisi menjadi duduk.
"Widy! Aku benar-benar minta maaf! Tapi aku bersumpah! Aku tidak ingat sama sekali dengan apa yang terjadi tadi malam!" kata Gusti.
"Kau kenapa panik begitu?" Widy mengerutkan dahi. Lalu mengedarkan pandangan ke sekitar. Saat itulah dia sadar kalau Elang tidak ada. "Elang mana?" tanyanya sambil menutupi selimut sampai dada.
"Apa kau tadi malam mabuk juga?" tukas Gusti dalam keadaan mata yang membelalak. "Aku benar-benar minta maaf dengan apa yang sudah terjadi. Aku pastikan ini tidak akan terjadi lagi. Aku juga akan merahasiakannya sampai mati!" ungkapnya.
__ADS_1
Pupil mata Widy membesar. Mendengar Gusti berucap begitu, sekarang dirinya tahu bahwa cowok tersebut salah paham.
"Tidak! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" bantah Widy.