
Malam pesta besar telah tiba. Kini Gusti baru saja masuk ke dalam mobil Elang. Gusti kaget saat melihat Widy juga ikut. Mereka segera berangkat ke tempat tujuan.
"Kau ternyata juga ikut, Wid?" tukas Gusti.
"Iya. Biar lebih mudah," sahut Widy.
"Padahal aku sudah menyuruhnya untuk tidak ikut, Gus. Tapi dia kepalanya keras kayak batu," imbuh Elang.
"Eh! Aku ikut ini buat bantuin kau tahu nggak! Harusnya kau senang," timpal Widy sambil berkacak pinggang.
"Ish! Bilang aja kau mau jagain Elang, Wid. Biar nggak bisa dekat sama cewek lain," goda Gusti seraya terkekeh.
"Sepertinya niat utamanya begitu, Gus!" Elang sependapat dengan Gusti.
Widy lantas hanya bisa memutar bola mata jengah. Tak lama kemudian dia, Gusti, dan Elang tiba di tempat tujuan.
Elang buru-buru membuka bagasi mobil. Dia tak lupa meminta Gusti dan Widy untuk ikut melihat.
Saat bagasi terbuka, pupil mata Gusti membesar. Sebuah kardus besar mencurigakan ada di sana.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Gusti dengan dahi yang berkerut dalam.
"Barang berharga yang harus kita bawa ke pesta," jawab Elang ambigu.
"Barang berharga? Apaan? Yang spesifik dong. Aku nggak mau ikut campur kalau barang ini adalah--" Ucapan Gusti terhenti karena jari telunjuk Elang.
"Udah, Gus. Percaya saja sama aku. Bantu saja aku membawanya sampai ke lantai atas," kata Elang yang masih enggan memberitahu Gusti.
Gusti memicing penuh selidik. "Kau sangat mencurigakan! Cepat beritahu aku barang apa yang ada di dalam kardus?" tanyanya serius.
"Gus! Itu hanya minuman beralkohol. Iyakan, El?" Widy angkat suara untuk melindungi Elang.
"Kalau terjadi hal buruk, sumpah! Aku tidak mau terlibat!" tegas Gusti.
"Iya. Kau tenang saja. Aku akan melindungimu. Jadi kau mau membantuku atau tidak?" tanggap Elang yang telah siap mengangkat kardus berisi barang terlarang. Dia juga sudah mengenakan masker dan topi untuk menutupi wajah.
Gusti mendengus kasar. Meskipun begitu, dia tetap membantu Elang. Dirinya merasa harus membantu karena lelaki itu sudah beberapa kali menolongnya. Terutama saat Gusti terjebak dengan banci di villa beberapa waktu lalu.
"Aku akan memimpin jalan untuk kalian!" cetus Widy. Ia juga telah menutupi wajah dengan masker dan topi.
__ADS_1
Gusti dan kawan-kawan segera masuk ke area hotel. Di sana mereka bertemu seorang petugas keamanan.
"Kalian mau kemana?" tanya petugas keamanan tersebut penuh curiga.
Widy sontak panik. Begitu pun Gusti. Entah kenapa dia merasa seperti melakukan hal yang salah. Terlebih dia dan teman-temannya dalam keadaan menutupi wajah.
Berbeda dengan Widy dan Gusti, Elang terkesan santai. Dia menyuruh sang petugas keamanan mendekat dan membisikkan sesuatu.
Setelah mendengar bisikan Elang, petugas keamanan itu langsung mengangguk. Kini dia tidak terlihat sangar lagi. Dia malah memberitahukan Gusti dan kawan-kawan harus kemana.
Kini Gusti dan yang lain berada di dalam lift. Mereka menuju ke lantai paling atas. Tempat dimana pesta besar dilakukan.
"Kau mengatakan apa pada petugas keamanan tadi?" tanya Gusti.
"Iya. Aku juga penasaran." Widy yang tak tahu juga menuntut jawaban dari Elang.
"Untuk sekarang aku tidak bisa beritahu. Pokoknya kalau apa yang kita lakukan sekarang berhasil, aku akan menceritakan semuanya," ujar Elang.
Tak lama pintu lift terbuka. Gusti dan kawan-kawan segera keluar. Mereka berjalan ke arah pintu besar tempat dimana pesta dilaksanakan.
__ADS_1