Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik

Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik
Chapter 67 - Memberitahu Mawar


__ADS_3

Kelopak mata Mawar terbuka lebar. Jantungnya semakin dibuat tidak karuan akibat pengakuan Gusti. Mawar lantas memutar tubuhnya menghadap lelaki itu. Kini mereka saling berhadapan.


"Kau tidak bercanda kan?" tanya Mawar. Dia memang sempat terbuai akan pengakuan Gusti. Namun bayangan bagaimana lelaki tersebut bercinta dengan gadis lain tiba-tiba terlintas. Wajah Mawar langsung cemberut.


Gusti mengangguk dan tersenyum tipis untuk menjawab pertanyaan Mawar.


"Kalau kau menyukaiku, kenapa kau melakukan itu pada wanita lain?" tukas Mawar dengan kening yang mengernyit samar.


Terpikir dalam benak Gusti untuk memberitahu Mawar semuanya. Mengingat gadis tersebut sudah mengakui perasaannya.


Gusti merasa bisa memberitahu Mawar mengenai pekerjaan kotornya walau itu sangat beresiko. Tetapi di sisi lain, dia tidak mau lagi Mawar tahu dengan sendirinya atau dari orang lain.


"Aku punya alasan. Kita bicarakan semuanya di tempatku. Ada sesuatu hal lain yang harus kau tahu," ujar Gusti.


Selang beberapa menit, Gusti dan Mawar tiba di tempat tujuan. Mawar ikut saja karena penasaran dengan apa yang akan dikatakan Gusti.


Sesampainya di apartemen, Mawar langsung menyuruh Gusti bicara.

__ADS_1


"Sekarang kau bisa katakan apa yang ingin kau katakan!" pinta Mawar. Dia bahkan belum duduk ke sofa.


"Duduklah dulu!" suruh Gusti sambil menunjuk sofa.


"Aku tidak mau duduk di sana," sahut Mawar yang ingat dengan perbuatan Gusti dan Alena di sana.


Gusti seketika tertunduk. Dia menghampiri Mawar. "Sebenarnya alasan aku melakukan itu karena uang," ungkapnya.


"Maksudmu?" Mawar menuntut penjelasan lebih lanjut.


"Maksudnya kau mela-cur?" potong Mawar menebak.


"Aku terpaksa melakukannya karena tak bisa mendapatkan uang." Gusti langsung memberikan alasan.


"Aku tidak percaya kau melakukan itu. Kenapa, Gus?" Mawar mundur satu langkah untuk menghindari Gusti.


"Aku tak punya pilihan. Membayar biaya kuliah tidak semudah yang aku pikirkan selama ini. Aku juga tidak mau terus merepotkan orang tua di kampung. Aku tak mau mereka menjual semua tanah hanya untukku di sini." Gusti memberikan penjelasan panjang lebar agar Mawar bisa memahaminya.

__ADS_1


"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" Mawar menatap kecewa.


"Aku terpikir ingin mengatakannya setelah kau mengakui perasaanmu. Aku tak mau kau mengetahui ini dari orang lain. Maafkan aku..." ucap Gusti. "Tapi aku berniat akan berhenti jika kau mau menerimaku yang sudah sangat kotor ini," sambungnya.


Mawar mengerjap pelan. Jujur saja, siapa yang tidak kecewa saat mendengar fakta tersebut. Terlebih dari orang yang disuka dan dipercaya sejak lama.


"Apa seberat itu untuk mendapatkan uang dengan pekerjaan bagus?" tanya Mawar.


"Sebenarnya tidak berat. Tapi aku harus mendapatkannya dengan cepat karena tenggat waktu. Aku bisa dikeluarkan dari kampus kalau terlambat bayar uang semester. Belum lagi bayar uang sewa," terang Gusti. "Kau bisa membenciku sepuasnya. Aku akan terima. Aku berubah jadi lelaki yang sangat buruk sekarang," tambahnya. Merutuki diri sendiri.


Mawar menatap Gusti. Dia mencoba memahami lelaki tersebut. Entah kenapa keinginan untuk tetap bersama Gusti, terasa lebih kuat dibanding harus kembali pulang. Apalagi di kampung Mawar sudah tidak memiliki siapa-siapa. Neneknya baru meninggal sebelum Gusti pergi ke kota. Mungkin itulah alasan lain kenapa Mawar menyusul Gusti ke kota.


Mawar mendekat satu langkah ke hadapan Gusti. "Gus, aku selalu memimpikan masa depan bersamamu. Karena aku merasa, kau satu-satunya yang bisa kupercaya. Terutama semenjak nenekku meninggal..." katanya.


"Apa ini berarti kau mau menerimaku?" Gusti memastikan.


Mawar menggigit bibir bawahnya. "Berjanjilah kau akan berhenti dari pekerjaan itu," balasnya.

__ADS_1


__ADS_2