
"Apaan deh kalian. Emang aku nenek kalian? Ayo! Kita sebaiknya bersiap untuk turun. Keretanya mulai melambat." Elang sengaja merubah topik pembicaraan. Dia melihat ke arah depan. Dari sana dirinya bisa melihat stasiun.
"Di depan ada stasiun! Pantas keretanya melambat," imbuh Elang.
Gusti dan Widy lantas ikut memeriksa. Apa yang dikatakan Elang ternyata benar. Mereka pun segera melompat dari kereta. Mereka bisa melakukannya dengan baik karena kereta berjalan melambat.
Kini Gusti dan kawan-kawan hanya perlu mencari taksi untuk pulang.
"El, bukankah kau sebaiknya pakai baju? Kau bisa dikira orang gila tahu nggak," kata Gusti.
"Ah! Aku nggak mikirin omongan orang!" sahut Elang.
"Yang penting kita nggak ada yang tertangkap polisi," ujar Widy seraya menepuk pundak Gusti.
Gusti pun berpisah dari Elang dan Widy. Mengingat arah jalan pulang mereka berbeda.
Gusti menghela nafas panjang karena teringat nasib motornya. Dia harus merelakan motor tersebut karena tak mau berurusan dengan orang seperti Luna.
__ADS_1
Dengan langkah gontai Gusti berjalan keluar dari lift. Pupil matanya membesar saat melihat Mawar duduk di lantai. Gadis itu duduk di depan unit apartemen Gusti.
"Mawar!" panggil Gusti sembari mendekat.
Mawar langsung berdiri. Matanya terbuka lebar penuh semangat.
"Akhirnya kau datang!" seru Mawar.
"Apa kau menungguku?" tanya Gusti.
Mawar mengangguk. Dia menutup hidungnya saat Gusti mendekat. "Kau dari mana? Kenapa baumu seperti sampah?" tanyanya.
"Apa yang terjadi padamu? Kau terlihat berantakan," tukas Mawar.
"Aku jatuh dari motor. Sekarang aku terpaksa harus merelakan motorku," imbuh Gusti. Dia terpaksa berbohong pada Mawar. Tidak mungkin Gusti menceritakan semuanya pada gadis tersebut. Apalagi tentang kegilaan yang dirinya lakukan bersama tiga wanita tadi malam.
"Apa? Kenapa begitu? Kau tidak terluka parah kan?" Mawar menghampiri Gusti. Dia memeriksa badan lelaki tersebut. Saat itulah atensinya tertuju ke baju Gusti. Ada banyak noda lipstik di sana. Bahkan ada noda yang bentuknya seperti bibir di bagian dada Gusti.
__ADS_1
Wajah Mawar memucat. Bagaimana tidak? Noda lipstik itu menunjukkan kalau Gusti menghabiskan waktu bersama wanita.
"Kau tenang saja. Aku baik-baik saja." Gusti menjauhkan diri dari Mawar. Dia sadar Mawar melihat dadanya. Buru-buru Gusti menutupinya dengan baju.
"Oh iya. Kau ada perlu apa datang ke sini?" Gusti segera merubah topik pembicaraan.
"Aku membuatkanmu sarapan. Tapi sepertinya sudah dingin. Aku akan memanaskannya untukmu," ucap Mawar dengan senyuman kecut.
"Ya sudah. Terima kasih. Pas sekali aku sedang lapar. Aku mandi dulu." Gusti beranjak sambil menyentuh pundak Mawar. Dia segera menghilang ditelan pintu kamar mandi.
Sementara itu, Mawar pergi ke dapur. Sambil menunggu makanan dipanaskan, dia memikirkan tentang apa yang dirinya lihat tadi.
'Apa Gusti punya pacar? Apa hubungannya sedekat itu sampai noda lipstiknya ada di leher?' benak Mawar bertanya-tanya. Memikirkan Gusti dekat dengan wanita lain sudah membuat matanya berkaca-kaca.
"Nggak! Gusti nggak mungkin begitu?" gumam Mawar yang telah merasa sangat mengenal Gusti.
Di sisi lain, Elang memutuskan ikut Widy ke apartemen. Mengingat keduanya sudah resmi kembali berpacaran. Sekarang mereka sedang berduaan di kamar mandi.
__ADS_1
Suara kecup mengecup memecah keheningan di kamar mandi. Elang dan Widy tengah dimabuk cinta. Ciuman bibir yang mereka lakukan terasa sulit di akhiri. Keduanya sudah berciuman lebih dari sepuluh menit. Bibir Elang dan Widy bahkan sudah memerah.
"Jika kau mencintaiku, kakan siapa kau sebenarnya, El?" Widy melepas tautan bibirnya. Dia bertanya dengan serius.