Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik

Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik
Chapter 64 - Kebetulan


__ADS_3

Setelah Gusti pergi, Widy dan Elang memutuskan untuk pulang. Kebetulan saat di perjalanan Widy meminta untuk singgah sebentar ke mini market.


Elang pun memarkirkan mobilnya. Saat dia dan Widy keluar dari mobil, terdengar suara keributan dari sebelah kanan.


Widy yang penasaran, lantas memeriksa sumber suara. Pupil matanya membesar tatkala menyaksikan ada seorang gadis yang dikeroyok tiga lelaki sekaligus.


"Elang!" panggil Widy.


"Kenapa?" Elang lantas menghampiri. Atensinya segera tertuju ke arah gadis yang tidak lain adalah Mawar.


Tanpa pikir panjang, Elang langsung menolong Mawar. Widy yang tak mau kalah, juga ikut bergabung.


Mudah bagi Elang melawan tiga pria yang sedang dalam kendali mabuk. Dia melayangkan jurus taekwondo yang dirinya kuasai.


Sementara Widy, dia buru-buru membawa Mawar pergi dari lokasi kejadian. Dia yakin Elang pasti bisa menghadapi tiga lelaki mabuk tersebut.


Buk!


Dhuak!


Elang hanya mendapatkan sekitar dua atau tiga perlawanan. Dia berhasil menumbangkan tiga lelaki mabuk itu dalam hitungan menit.


Merasa sudah selesai melakukan tugasnya, Elang segera menyusul Widy. Dia melihat Mawar menangis ketakutan.


"Aku akan belikan air!" imbuh Elang yang langsung berlari ke dalam mini market.


Widy berusaha keras menenangkan Mawar. Dia mengelus pundak gadis itu dengan lembut.

__ADS_1


"Mereka tidak sempat melakukan apapun padamu kan?" tanya Widy.


"Tidak. Tapi aku ketakutan..." jawab Mawar sambil terisak.


"Tenanglah. Mereka tidak akan mengganggumu lagi," tutur Widy.


Tak lama kemudian Elang muncul. Dia memberikan sebotol air mineral untuk Mawar.


"Minumlah agar kau bisa lebih tenang," kata Elang.


"Makasih..." Mawar menerima minuman pemberian Elang. Dia segera meminumnya.


Elang memperhatikan penampilan Mawar dengan seksama. Dari pakaian yang terlihat lusuh dan begitu sederhana, dia yakin Mawar bukan orang asli kota.


"Apa kau pendatang?" tanya Elang.


Widy lantas menanyakan asal kampung Mawar. Ketika sudah disebutkan, Elang dan Widy langsung mengaitkannya dengan Gusti. Mengingat kampung yang disebutkan Mawar adalah tempat sama dengan nama kampung Gusti.


"Kami kebetulan punya teman yang juga berasal dari kampungmu. Mungkinkah kau mengenalnya? Namanya Gusti," ungkap Widy.


"Gusti?" Mawar membulatkan mata. Dia menghentikan tangisnya.


"Iya. Kau mengenalnya?" Widy bertanya sekali lagi.


"Apa namanya Gusti Pratama?" Mawar memastikan.


Widy dan Elang mengiyakan sambil mengangguk bersamaan.

__ADS_1


"Dia juga temanku..." ujar Mawar. Dia merasa tak percaya.


"Kebetulan sekali! Aku akan meneleponnya!" cetus Elang. Dia segera menghubungi Gusti.


Untuk sementara, Widy dan Elang mengajak Mawar ke apartemen. Di sana mereka akan menunggu Gusti.


...***...


Saat mendengar Elang membicarakan Mawar, Gusti sangat kaget. Dia pun bergegas pergi ke apartemen Widy. Gusti semakin cemas saat mendengar gadis itu hampir dilecehkan oleh tiga orang pria mabuk


Setibanya di tempat tujuan, dia melihat Mawar yang dikenalnya benar-benar bersama Elang dan Widy.


"Mawar!" seru Gusti.


"Gusti!" Mawar yang tadinya duduk, langsung berdiri. Gusti menghampiri dan memperhatikan badannya dari kaki sampai kepala. Lelaki itu takut Mawar terluka.


"Kau baik-baik saja kan?" tanya Gusti.


"Iya... Untung saja Widy dan Elang datang tepat waktu," jawab Mawar.


Gusti tiba-tiba memeluk Mawar. Dia begitu mengkhawatirkan gadis tersebut.


"Inilah yang aku takutkan kalau kau tinggal di sini," ujar Gusti. Perlahan dia melepas pelukan dan berkata, "Kau harus kembali."


Mendengar Gusti mengucapkan itu, Mawar seketika cemberut.


"Kau menyuruhku pergi karena ingin bersenang-senang dengan leluasa di sini tanpaku kan?" tukas Mawar.

__ADS_1


__ADS_2