Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik

Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik
Chapter 74 - Efeknya [1]


__ADS_3

Mendengar harga yang ditawarkan Bagus, Elang membulatkan mata. 3 milyar tentu adalah jumlah yang sangat besar baginya. Widy yang mendengar juga tampak tertarik.


Namun berbeda dengan Gusti yang merasa takut. Berurusan dengan barang terlarang tentu bukan hal biasa baginya.


"Kau yakin akan memberi kami 3 milyar?" tanya Elang memastikan.


"El!" Gusti memegangi tangan Elang. Dia takut temannya itu akan melakukan keinginan Bagus.


"Sebentar," kata Elang pada Bagus. Dia ingin bicara pada Gusti dahulu.


"Gus, hanya sedikit tidak apa-apa. Aku akan membayarmu nanti," bisik Elang.


"Kau pikir yang akan kita makan itu pecel lele? Itu narkoba, El! Kalau ketahuan, kita bisa di penjara!" sahut Gusti.


"Kalau ketahuan, tapi kalau tidak? Aku pastikan kita aman!" ujar Elang yang terkesan meyakinkan. "Lagi pula jika Bagus membayar kita sebanyak itu, kita bisa berhenti meninggalkan dunia gelap ini secepatnya. Kau berencana berhenti menjadi gigolo karena Mawar kan?" sambungnya. Kembali meyakinkan.


"Elang benar, Gus. Kami berniat ingin memulai hidup baru jika sudah mendapatkan uang yang banyak." Widy yang sejak tadi mendengarkan, segera angkat bicara.


"Kalian gila!" cibir Gusti tak percaya.


"1 milyar! Aku akan memberimu sebesar itu jika kau berani mencobanya!" tantang Elang. "Tidak masalah kan melakukannya sekali dalam seumur hidup?" tambahnya.

__ADS_1


Gusti mulai goyah. Dia terdiam seribu bahasa. Sementara Elang terlihat mengambil salah satu barang terlarang yang ada di kardus. Lelaki itu mencobanya tanpa ragu.


"Bagus! Sekarang teman-temanmu juga," suruh Bagus sambil menyeringai.


Elang memberikan serbuk terlarang kepada Widy terlebih dahulu. Dia menyuruh cewek itu merasakannya sedikit saja.


Kini yang terakhir hanya tinggal Gusti. Dia masih ragu untuk mengikuti jejak Elang dan Widy.


"Ternyata cowok yang paling tampan ini adalah yang paling pengecut," komentar Bagus. Sengaja memanas-manasi Gusti.


Saat itulah Gusti cemberut. Perkataan Bagus berhasil membuatnya bergerak dan mencicipi sedikit barang terlarang yang disodorkan Elang.


"Barang ini dipastikan asli. Kalau begitu kita mulai pestanya. Bagikan ini pada semua orang!" seru Bagus bersemangat. Dia dan semua orang keluar dari ruangan. Meninggalkan Gusti, Elang, dan Widy yang telah tumbang ke sofa.


Entah apa yang terjadi di luar, namun Gusti hanya bisa mendengar suara erangan, musik, dan terkadang sorakan. Dia tenggelam dalam sensasi mabuk yang diberikan obat terlarang.


"Bukankah rasanya sedikit enak?" tanya Elang meracau. Dia merasa sedikit pusing juga. Mengingat Elang adalah orang yang mencoba obat terlarang dengan dosis tinggi dibanding Gusti dan Widy.


"Iya. Sedikit enak..." jawab Gusti.


Bukannya diam, Elang justru mengambil sebotol alkohol. Dia meminumnya setengah botol lebih. Rasa mabuk Elang justru bertambah. Ia seperti menuang bensin ke dalam api.

__ADS_1


"Aku merasa seperti terbang..." ungkap Widy sambil merentangkan tangan dan kakinya. Roknya otomatis menyingkap dan memperlihatkan pangkal paha. Rentangan tangan Widy bahkan mengenai wajah Gusti dan Elang. Kebetulan posisinya berada di pojok kiri, sedangkan orang yang di tengah adalah Elang.


"Kau benar, Wid." Gusti tergelak sembari menggenggam tangan Widy yang ada di depan wajahnya.


Widy balas menggenggam tangan Gusti. Dia mengira orang yang melakukannya adalah Elang. Oleh karena itu, Widy cium bibir Elang. Namun kekasihnya tersebut tidak merespon sama sekali.


"Ayolah! Kau kenapa, El?..." racau Widy sambil memukul pipi Elang.


"Ugh..." Elang yang sudah dalam kendali alkohol sekaligus obat, tak bisa berkata-kata.


"Bisakah kau tidak melakukannya saat ada aku? Entah sudah berapa kali kalian melakukannya. Apa aku selalu tak terlihat dimatamu?" cetus Gusti yang sejak tadi memperhatikan Widy dan Elang.


Widy menoleh ke arah Gusti. Dia baru sadar kalau lelaki itulah yang sejak tadi menggenggam tangannya. Dirinya dan Gusti saling bertukar pandang dalam sepersekian detik.


Entah kenapa selain merasa melayang, Gusti juga merasa gairahnya memuncak. Apalagi ketika melihat Widy mencium Elang tadi.


Obat mungkin sudah merasuki Gusti. Dia menciumi tangan Widy yang dirinya genggam. Nama Mawar seketika terlupa karena pengaruh obat yang Gusti konsumsi.


Widy merasakan tubuhnya meremang. Dia bahkan reflek menggigit bibir bawahnya. Widy sepertinya merasakan sensasi hal yang sama seperti Gusti. Sayangnya kondisi sang pacar dalam keadaan tidak mendukung.


Karena terbuai, Widy duduk ke pangkuan Gusti. Dia sampai melewati Elang terlebih dahulu untuk melakukannya. Setelah itu, bibir Widy dan Gusti memadu jadi satu.

__ADS_1


__ADS_2