
Merasa kalau perlakuannya sukses merangsang Gusti, Alena segera berhenti. Entah sengaja atau tidak, dia berhasil membuat Gusti ingin lanjut.
"Kemari kau!" Gusti menarik Alena mendekat. Tatapannya sekarang sangat berubah. Seperti orang yang sudah tidak sabar untuk menaklukkan Alena.
Gusti memposisikan Alena berada di atas pangkuannya. Dia membimbing cewek itu melakukan penyatuan.
Alena dengan senang hati menerima. Dia mengalungkan tangannya ke leher Gusti. Cewek itu mulai melenguh ketika Gusti menggoyangkan pinggul.
Secara sengaja Alena menghimpit dirinya pada Gusti. Memancing lelaki itu dengan buah kembarnya yang menantang.
Gusti tak perlu berpikir panjang untuk melahap buah kembar Alena yang bergetar.
"Ahhh..." Alena sangat menikmati sentuhan Gusti. Dia mendongakkan kepala, sedangkan tangannya mengacak-acak rambut Gusti.
Suara tepukan daging yang menghentak itu menggema. Di iringi suara erangan Alena yang menggelora.
"Enak banget, Kak... Akh!" racau Alena.
Lenguhan Alena membuat Gusti bersemangat. Dia pun melajukan hujamannya lebih dalam. Hal itu membuat hasrat Alena memuncak dalam sekejap. Pinggul cewek tersebut terangkat. Tubuhnya menggelinjang hebat akibat kenikmatan yang tak bisa terjelaskan dengan kata-kata.
__ADS_1
Di sisi lain, Mawar baru saja keluar dari lift. Dia melangkah cepat mendatangi unit apartemen Gusti.
Sayangnya Mawar tak bisa masuk begitu saja. Mengingat pintu apartemen Gusti menggunakan password.
"Mungkin aku bisa menebaknya," gumam Mawar. Rasa penasaran benar-benar mengganggunya. Dia bahkan rela terlambat di hari pertama bekerja karena Gusti.
"Pasti tanggal lahirnya," duga Mawar yang segera memasukkan kode tanggal lahir Gusti ke papan password.
Awalnya percobaan Mawar salah. Tetapi karena begitu bertekad, dia terus mencoba. Mawar mencoba membolak-balik angka tanggal lahir Gusti. Ia berhasil dalam percobaan ketiga.
"Akhirnya!" seru Mawar senang. Perlahan dia masuk ke unit apartemen Gusti. Suara lenguhan Gusti dan Alena langsung menyambut pendengarannya.
'Gusti tidak mungkin melakukan itu kan?' batin Mawar. Dia masih berusaha mempercayai Gusti.
Meski ragu, Mawar akhirnya memberanikan diri melangkah maju. Hingga dia bisa melihat apa yang terjadi di sofa.
Mata Mawar terbelalak tak percaya. Dia jelas melihat Gusti bersenggama dengan Alena. Semuanya jadi tak terbantahkan ketika mereka dalam keadaan tanpa busana.
Mawar membekap mulutnya sendiri. Saat melihat kenyataan, ia merasa sulit mengendalikan diri. Mawar akhirnya memutuskan untuk pergi. Namun karena ceroboh, dia tersandung dan jatuh ke lantai. Hal yang menimpanya itu tentu menimbulkan suara.
__ADS_1
Gusti dan Alena buru-buru menghentikan aktifitas intim yang terjadi. Mereka sukses memergoki Mawar ada di sana.
"Mawar!" seru Gusti sembari bergegas mengenakan celana.
Hal serupa juga dilakukan Alena, tetapi dia merasa kesal dengan kehadiran Mawar. Baginya gadis itu mengganggu sekali. Terlebih Gusti terkesan sangat memperdulikannya.
"Maaf! Aku tidak bermaksud mengganggu. Aku akan pergi." Mawar berdiri dan berjalan menuju pintu dalam keadaan linglung. Akibatnya, dia tak sengaja menabrak nakas. Lalu menjatuhkan vas bunga dari sana.
"Mawar!" Gusti menghampiri Mawar sambil mengenakan bajunya. Dia memegangi pundak dan memutar gadis itu menghadap ke arahnya.
"Tenanglah..." ujar Gusti. Dia bisa melihat kepanikan Mawar dengan jelas. Mengingat Gusti sudah mengenalnya semenjak kecil.
Mata Mawar berkaca-kaca. Dia mencoba menahan tangis. Akan tetapi lama-kelamaan tangisannya tak bisa ditahan. Hingga air mata berjatuhan di wajahnya.
"Maafkan aku... Aku tidak tahu kenapa aku menangis..." isak Mawar.
"Tidak apa-apa. Aku tak akan memarahimu," tanggap Gusti sambil mengelus pundak Mawar.
Alena yang menyaksikan, memutar bola mata kesal. Dia duduk menghempas dan berceletuk, "Bukan kah sudah jelas alasan kau menangis karena cemburu?"
__ADS_1