Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik

Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik
Chapter 62 - Kenyataan Tentang Gusti


__ADS_3

"Alena!" Gusti kaget sekali melihat Alena muncul. Apalagi cewek itu terlihat masih mengenakan seragam SMA.


Elang dan Widy lantas bertukar pandang. Keduanya tentu penasaran mengenai siapa Alena.


"Siapa dia, Gus?" tukas Elang.


"Aku nanti akan cerita. Biar aku urus dia dulu." Gusti memisah dari Elang dan Widy. Dia menyeret Alena ikut bersamanya.


Di sisi lain, Mawar sedang duduk di depan sebuah mini market. Dia tak bisa bekerja karena terlambat. Alhasil hari itu Mawar langsung dipecat. Mengingat dirinya terlambat di hari pertama bekerja.


Gagal bekerja justru bukanlah hal yang mengganggu Mawar. Hal yang paling mengganggunya sekarang adalah kenyataan tentang Gusti.


"Aku tidak percaya Gusti begitu," gumam Mawar. Dia merasa tidak mengenal lagi sahabat kecilnya itu.


Mawar jadi terpikir ingin pulang kampung. Namun di sisi lain dia tak mau meninggalkan Gusti. Apalagi setelah Mawar menyadari kalau interaksi Gusti terhadap Alena terkesan aneh. Keduanya jelas tidak terlihat seperti orang yang berpacaran.


"Aku harus menemui Aman! Mungkin dia tahu," ucap Mawar. Dia segera pergi ke kostan Aman.


Mawar mendengus kasar saat melihat uang dalam dompetnya mulai menipis. Dia terpaksa harus menaiki bus karena biayanya yang lebih murah.


Sesampainya di tempat tujuan, Mawar langsung mengetuk pintu kamar Aman. Dia cukup lama mengetuk, sampai pemilik kamar akhirnya membuka.


Mata Mawar terbelalak ketika melihat Aman tidak sendiri. Ada seorang perempuan di dalam kamar lelaki tersebut.


"Mawar..." Aman melayangkan tatapan malas. Mengingat Mawar tidak ada menyapanya saat pertama kali datang. Baru sekarang gadis itu mendatanginya.

__ADS_1


"Akhirnya kau menyapaku juga. Aku pikir kau sudah tak menganggapku teman seperti Gusti," imbuh Aman.


"Apa? Gusti tak menganggapmu teman?" Mawar sontak kaget.


"Iya. Akhir-akhir ini kami tak pernah bicara lagi. Gusti sepertinya sibuk dengan sesuatu," jelas Aman. "Apa kau mau masuk dan bicara di dalam?" tawarnya.


"Tidak usah. Kita bicara di depan saja." Mawar menolak secara halus. Dia lebih dulu duduk ke bangku panjang.


Sedangkan Aman tampak bicara pada wanita di kamarnya. Dia meminta izin pada wanita yang sepertinya adalah pacarnya itu. Selanjutnya, Aman duduk ke sebelah Mawar.


"Jadi ada apa kau menemuiku? Jangan bilang ini berkaitan dengan Gusti," tebak Aman.


"Ini memang berkaitan dengannya. Maaf... Tidak masalah kan?" tanggap Mawar.


"Kenapa? Apa dia menyakitimu? Gusti punya pacar?" Aman kembali menerka.


Aman mendengus kasar. "Ya iyalah. Aku tahu kau itu udah lama suka sama Gusti," ungkapnya.


"Apa sejelas itu?" Mawar sontak merasa malu.


"Nggak jelas sih. Tapi sebagai teman, aku bisa melihat gerak-gerikmu. Melihat dari matamu misalnya," terang Aman.


Mawar menundukkan kepala. Dia tak bisa membantah karena apa yang dikatakan Aman itu benar.


"Katakan saja apa yang mengganggumu," ujar Aman.

__ADS_1


Mawar menghembuskan nafas dari mulut. Dia pun menceritakan mengenai apa yang dilakukan Gusti bersama Alena.


Di waktu yang sama, Gusti membawa Alena pergi ke belakang kampus. Di sana terdapat jalanan berupa lorong yang sepi senyap. Hanya ada mereka berdua di sana.


"Apa kau mengikutiku?!" timpal Gusti.


"Sebenarnya enggak sih, Kak. Sejak pergi dari apartemenmu, aku memang pergi ke sini. Aku cari info mengenai kampus ini. Soalnya aku mau kuliah di sini kalau lulus nanti," kata Alena cengengesan.


"Kau melakukan itu karena sangat menyukaiku?" selidik Gusti.


"Iya! Kalau bisa, aku pengen jadi pacar Kakak!" ungkap Alena. Dia memancarkan tatapan penuh harap.


Gusti berdecak kesal. Dia benar-benar muak mendengar pernyataan Alena. "Kau sebaiknya pergi!" usirnya.


"Aku nggak mau pergi sebelum keinginanku terpenuhi!" tegas Alena. Tanpa takut, dia meraba organ intim Gusti. Meremasnya secara halus.


Gusti reflek berjengit. Dia menarik sudut bibirnya dan langsung memegangi kedua tangan Alena. Gusti menyudutkan cewek itu ke dinding.


"Kau sepertinya gatal sekali," pungkas Gusti.


"Harusnya Kakak kemarin nggak mengambil keperawananku. Kalau tidak, aku nggak akan segininya," balas Alena.


"Berjanjilah kau akan pergi setelah kita melakukannya!" Gusti berkata dengan serius.


"Tentu saja." Alena lekas mengangguk.

__ADS_1


Saat itulah Gusti mulai memagut bibir Alena. Dia melakukannya dengan intens. Alena yang mengharapkan itu, tentu tidak menolak.


__ADS_2