Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik

Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik
Chapter 65 - Pernyataan Mawar


__ADS_3

Pupil mata Gusti membesar. Ia yakin Mawar menyinggung perihal apa yang sudah dilakukannya bersama Alena.


"Mawar! Kita bicarakan itu nanti saja. Kau baru saja mendapat musibah, sebaiknya tenang dahulu," ujar Gusti.


"Aku sudah tenang sejak tadi!" sahut Mawar.


"Gus, dia Mawar yang kau ceritakan itu kan?" celetuk Elang. Dia ingat dengan curhatan Gusti saat di taman kampus tadi.


"Iya." Gusti mengiyakan.


"Kenapa? Kau menceritakan tentang apa pada mereka?" Mawar sontak penasaran.


"Bukan apa-apa, War. Gusti hanya bercerita karena dia sangat mengkhawatirkanmu," ucap Widy.


"Aku rasa sebaiknya kalian berdua bicara empat mata. Selesaikan masalah kalian. Aku dan Widy akan memberi waktu," kata Elang sembari menarik Widy ikut bersamanya.


"Kalian kemana?" tanya Gusti.


"Tidak kemana-mana. Hanya ke balkon," sahut Elang. Dia dan Widy segera beranjak. Meninggalkan Gusti dan Mawar agar bisa bicara berdua.

__ADS_1


Gusti menarik nafasnya dalam-dalam, lalu segera angkat suara. "War, tentang apa yang kau lihat sebelumnya, aku harap kau bisa melupakan itu. Jangan katakan pada siapa-siapa ya," bujuknya.


Mawar tercengang. "Mudah sekali kau mengatakan itu! Beri tahu aku, apa kau sudah sering begitu? Lalu apakah cewek SMA itu pacarmu?" cecarnya.


Gusti menggeleng. "Alena bukan pacarku. Tapi dia hanya sangat menyukaiku. Dia menggodaku hingga bisa membuatku berbuat begitu. Aku khilaf, War. Aku ini juga lelaki normal yang sulit menahan diri. Apalagi cara Alena menggodaku dengan telanjang bulat," jelasnya panjang lebar. Gusti berusaha keras menyembunyikan pekerjaannya sebagai gigolo.


"Tapi itu menyakiti hatiku tahu nggak!" timpal Mawar. Matanya seketika berkaca-kaca.


Gusti kaget mendengar Mawar berucap begitu. Mengingat dia tak tahu kalau gadis tersebut memiliki perasaan khusus terhadapnya.


"Menyakiti hatimu? Kenapa?" Gusti menuntut jawaban.


"Aku menyukaimu, Gus! Tadinya aku kira kau juga menyukaiku karena hubungan kita yang sangat akrab," ungkap Mawar. Dia akhirnya menangis.


"Sebenarnya tujuan utamaku datang ke kota itu bukan karena bekerja. Tapi karena kau..." sambung Mawar yang masih terisak.


"Maafkan aku..." ungkap Gusti sambil memeluk erat Mawar. Dia jadi merasa bersalah karena sudah menyakiti hati gadis itu.


...***...

__ADS_1


Di balkon, Elang dan Widy asyik berciuman bibir. Mereka melakukannya dengan bersandar ke dinding, sehingga Gusti maupun Mawar tidak bisa melihat dari dalam.


Tangan nakal tak hentinya menjamah dada Widy. Ulahnya sukses membuat Widy melenguh dalam keadaan mulut tertutup.


Ponsel Elang mendadak bergetar. Buru-buru dia melepas tautan bibirnya dari Widy. Dia memeriksa ponselnya.


"Tunggu sebentar." Elang hendak menjauh dari posisi Widy. Seolah dia tak mau pembicaraannya di dengar oleh perempuan itu.


Namun Widy sigap mencegat. "Bicara di sini saja!" suruhnya.


"Wid!" Elang melepas cengkeraman tangan Widy. Akan tetap cewek tersebut menolak dan berusaha keras menahannya.


"Bisa lepasin nggak?" ujar Elang.


"Bukankah sudah tidak ada rahasia lagi di antara kita?" timpal Widy serius.


Elang mendengus kasar. Melihat tatapan Widy yang begitu bertekad, akhirnya dia mengalah dan terpaksa bicara di hadapan cewek itu.


"Iya, Jay. Ada apa?" Elang mengangkat teleponnya.

__ADS_1


"Ada pesta besar lusa malam nanti di hotel X. Kita mendapatkan pesanan banyak! Apa kau ikut?" ujar rekan Elang bernama Jay dari seberang telepon.


"Seberapa banyak pesanan itu?" tanya Elang. Widy yang mendengar, otomatis mengerutkan dahi. Cewek tersebut tak mengerti dengan apa yang dibicarakan Elang.


__ADS_2