
Mata Gusti membulat sempurna saat mendengar pengakuan Alena. Seingatnya dia hanya pernah bercinta dengan cewek itu dua kali saja.
"Jangan bercanda! Apa kau sudah memastikannya?" tanya Gusti seraya mendekati Alena. Dia bicara dengan nada pelan.
Alena membuka tas ranselnya. Dari sana di mengambil testpack, lalu memperlihatkannya pada Gusti. Memang alat tersebut menampakkan garis dua merah yang jelas.
"Apa kau sudah periksa ke dokter?" tanya Gusti.
"Belum." Alena menggelengkan kepala. "Aku takut..." lirihnya seraya menundukkan kepala.
Gusti mendengus kasar. Karena keadaannya mendesak, dia terpaksa mengurus Alena terlebih dahulu. Gusti tidak lupa memberitahu Mawar kalau dirinya akan terlambat pulang.
Kini Gusti dan Alena dalam perjalanan menuju klinik dokter kandungan terdekat. Bukannya gelisah, Alena justru menikmati momen tersebut.
__ADS_1
"Jujur ya, Kak. Aku sebenarnya nggak masalah sama keadaanku sekarang. Aku yakin anak kita dijamin memiliki wajah rupawan sepertimu," celetuk Alena sambil mengeratkan pelukan dari belakang.
"Kau cewek tergila yang pernah kutemui!" cibir Gusti yang merasa tidak habis pikir. Jujur saja, dia masih berharap kalau testpack milik Alena melakukan kesalahan besar.
Sesampainya di klinik, atensi Gusti tertuju pada Alena. Dia baru sadar dengan seragam sekolah cewek itu.
"Apa kau bawa baju ganti?" tanya Gusti.
Alena menggeleng. "Memangnya kenapa?"
Setelah memakai pakaian normal, Alena dan Gusti masuk ke klinik. Mereka harus menunggu karena terdapat cukup banyak antrian.
Selama menunggu, Gusti merasa sangat gelisah. Dia memikirkan apa yang harus dirinya lakukan jika Alena benar-benar hamil? Bukan itu saja, Gusti juga memikirkan para wanita yang sudah ditidurinya selama ini. Mereka tidak akan bernasib sama seperti Alena kan?
__ADS_1
'Tunggu, aku sangat ingat kalau aku selalu memakai pengaman,' batin Gusti. Dia segera melirik curiga Alena. Ada kemungkinan anak dalam perut Alena bukan darah dagingnya. Terlebih cewek itu juga pernah mengaku telah bercinta dengan teman SMA-nya.
"Al! Seingatku saat kita melakukannya, aku menggunakan pengaman. Aku--"
"Yang pas pertama kali Kak Gusti memang memakainya. Tapi pas yang kedua dan ketiga enggak kan?" Alena memotong bisikan Gusti. Lelaki itu sontak tertohok.
Gusti lupa kalau dia dan Alena pernah bercinta lagi saat di apartemen dan kampus. Gusti mengacak-acak rambut frustasi. Meskipun begitu dia masih tidak menyerah untuk menyangkal semuanya.
"Beritahu aku! Kau ada bercinta dengan lelaki selain aku juga kan?" Gusti kembali bertanya dengan berbisik.
"Iya. Itu setelah kita melakukannya pertama kali. Tapi setelah itu aku haid kok!" sahut Alena. Dia menatap Gusti sembari mencebikkan bibirnya. "Kau pasti sangat khawatir. Kakak tenang saja, aku siap kok menghadapi keluargaku terkait masalah ini. Apalagi kalau kau memilih untuk bertanggung jawab," ujarnya yang perlahan menggenggam tangan Gusti.
Gusti hanya mendengus kasar. Dia tidak tahu bagaimana respon keluarganya di kampung jika mengetahui masalah ini.
__ADS_1
Di waktu yang sama, Mawar sedang telentang di ranjang. Ia sejak tadi bolak-balik ke kamar mandi karena merasa terus mual.
"Kayaknya ini gara-gara nasi uduk tadi pagi," gumam Mawar sambil mengelus perutnya. Dia segera menghirup minyak kayu putih untuk mengurangi rasa mual.