
Kening Gusti mengernyit. Sebab ini pertama kalinya Elang membutuhkan bantuannya.
"Masuklah!" Gusti membuka pintu lebih lebar, membiarkan Elang masuk ke kediamannya. Keduanya segera duduk ke sofa.
Atensi Elang tertuju ke tas perempuan yang tergeletak di lantai. Dia ingat kalau sebelumnya Mawar mengenakan tas tersebut.
"Apa Mawar bersamamu?" tanya Elang.
"Iya. Dari mana kau tahu?" Gusti merasa heran.
"Itu tasnya. Sepatu kalian juga tampak berserakan," ujar Elang sambil menyeringai.
"Tadi dia sangat ingin ke kamar mandi. Makanya tergesa-gesa sekali," sahut Gusti tenang.
"Tergesa-gesa ke kamar mandi atau ke ranjang?" goda Elang. Dia curiga Gusti dan Mawar melakukan sesuatu tak biasa.
Wajah Gusti langsung memerah. "Dasar! Kenapa kau berpikir begitu?!" balasnya seraya memungut tas Mawar dari lantai, lalu meletakkannya ke sofa.
"Hanya menebak," tanggap Elang.
"Sudahlah. Sekarang beritahu aku mengenai kedatanganmu ke sini. Tidak biasanya kau ingin minta bantuanku," ujar Gusti yang sengaja merubah topik pembicaraan.
__ADS_1
Elang segera mengingat maksud tujuannya. Dia sebenarnya merasa tidak enak mengajak Gusti, akan tetapi dirinya tak punya pilihan lain. Terlebih Elang sudah mempercayai Gusti sebagai teman dekatnya.
"Ada pesta besar di hotel X lusa malam. Aku ingin kau menemaniku datang ke sana!" ungkap Elang.
Gusti memicing penuh curiga. "Kenapa kau ingin aku pergi bersamamu? Terakhir kali aku ikut menemanimu, aku terjebak bersama tiga wanita sekaligus!" tukas Gusti.
"Kali ini berbeda. Kita tidak akan menemui wanita. Kita hanya akan berkunjung sebentar," kata Elang.
"Berkunjung saja?" Gusti penasaran.
"Mungkin sedikit bersantai. Kau mau kan?" Elang memutuskan tidak memberitahu Gusti alasan utamanya. Dia takut temannya itu menolak.
"Baiklah kalau begitu. Tapi hanya menemani kan? Awas saja kalau kejadian terakhir kali terulang!" Gusti mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah.
Tak lama kemudian Mawar muncul. Rambutnya tampak basah. Dia agak kaget menyaksikan kehadiran Elang.
"Hei, War!" sapa Elang. Mawar pun membalas sapaannya dengan senyuman.
"Bagaimana tadi? Apa Gusti melakukannya dengan baik?" pungkas Elang. Membuat wajah Mawar dan Gusti sontak memerah padam bersamaan.
"El!" tegur Gusti yang merasa malu.
__ADS_1
Sementara Mawar tampak langsung menundukkan kepala. Ia melirik ke arah Gusti, mengira lelaki itu sudah menceritakan semuanya pada Elang.
"Gus! Kau menceritakan apa yang kita lakukan tadi pada Elang?" tanya Mawar gamblang. Sehingga Elang dapat mendengarnya dengan jelas.
"Enggak!" Gusti langsung menggeleng.
Melihat tingkah gugup Gusti dan Mawar, Elang tergelak lepas. Menurutnya dua sejoli itu sangat menggemaskan.
"Kalian santai aja kali. Aku sudah biasa sama hal begituan," ungkap Elang. "Oh iya, War. Gusti nggak bilang apa-apa kok. Aku cuman menebak. Soalnya gelagat kalian jelas sekali seperti pasangan yang baru saja selesai bercinta," tambahnya.
"Kau menyebalkan! Cepat pulang sana!" Gusti mendorong Elang ke arah pintu. Dia sudah bingung menanggapi ejekan lelaki tersebut.
Elang lantas pergi dari unit apartemen Gusti. Setidaknya dia bisa tenang dengan tugasnya lusa nanti. Elang segera menelepon Jay dan memberitahu bahwa dirinya mampu menjadi kurir gelap untuk pesta lusa malam.
Gusti yang tak tahu menahu, setuju begitu saja menemani Elang nanti. Kini Gusti dan Mawar saling bicara.
"Apa itu jelas sekali?" tanya Mawar. Wajahnya masih bersemu merah karena malu.
"Jangan hiraukan Elang. Dia memang selalu sok tahu," ujar Gusti. Tanpa diduga, dia memeluk pinggul Mawar. Wajah keduanya pun berhadapan dengan sangat dekat.
Mata Mawar membulat. "Gus!" serunya.
__ADS_1
"Kenapa? Bukan kah kita sudah pacaran? Kau tidak usah malu-malu lagi padaku. Aku sudah melihat semuanya," ucap Gusti. Ia mengecup singkat bibir Mawar beberapa kali.