
Gusti kembali ke apartemennya. Alena yang sudah menunggu, langsung berdiri.
"Dari mana kau tahu kalau aku tinggal di sini?" tukas Gusti.
"Kau tahu aku punya uang yang banyak. Aku bisa membayar seseorang untuk mencari tahu tentangmu," jelas Alena. Dia berjalan sambil melihat-lihat sudut ruangan. Dalam keadaan dua tangan yang bertautan di balik punggung.
Gusti mengikuti langkah Alena. "Aku tidak bisa terus berurusan denganmu. Kau anak di bawah umur!" ucapnya.
"Tapi tahun depan aku 17 tahun!" sahut Alena santai. Dia membuka kulkas Gusti. Mengambil sebungkus camilan keripik kentang dari sana.
"Dan sekarang? Belum kan?" Gusti berusaha meyakinkan Alena.
"Memang benar. Tapi aku sudah terlanjur merasakan wikwik dari Kak Gusti, dan aku ingin mencobanya lagi." Alena berdiri ke hadapan Gusti, mencebikkan mulut agar terkesan menggemaskan.
"Itu hanya kesalahan. Oke? Lagi pula kemarin kau terlihat putus asa sekali. Sekarang kau tampak lebih baik. Aku tak perlu melakukannya lagi untuk menghiburmu," balas Gusti.
"Kenapa begitu? Aku akan bayar Kak Gusti seperti sebelumnya kok," ujar Alena.
"Nggak! Kau sebaiknya pulang! Bukan kah harusnya sekarang kau di sekolah?"
"Hari ini aku meliburkan diri. Semuanya gara-gara Kakak!"
__ADS_1
"Aku?" Gusti sontak tak mengerti.
"Iya. Gimana aku mau fokus belajar kalau terus kepikiran Kak Gusti," ungkap Alena. Dia yang tadinya hendak makan keripik kentang, mengurungkan niat. Alena meletakkan camilan itu ke atas meja dan berlari mengambil tas ranselnya.
Gusti memutar bola mata jengah. Dia memperhatikan apa yang dilakukan Alena selanjutnya. Cewek itu mengeluarkan segepok uang dari dalam tas.
"Aku bahkan menarik uang tunai khusus untukmu," ucap Alena. Dia mengeluarkan beberapa gepok uang lagi dalam tas.
Mata Gusti terbelalak. "Apa ini uang ayahmu lagi?" selidiknya.
Alena terkekeh. "Iya. Ternyata susah banget habisin uang dia. Projek terbarunya kebetulan sukses besar. Jadi dia memberi uang jajan lebih banyak dari biasanya."
"Iya!" Alena mengangguk dengan antusias. Dia menghampiri Gusti dan menyentuh dada lelaki tersebut. "Ngomong-ngomong aku sudah banyak belajar tentang itu," bisiknya.
"Tentang apa?" Gusti tak mengerti.
"Tentang wikwik," kata Alena. Dia menggigit bibir bawahnya. Tangan Alena perlahan menyentuh bagian tubuh Gusti yang berada di balik resleting celana.
"Jangan coba-coba!" Gusti memperingatkan. Dia mencegah pergerakan tangan nakal Alena.
"Aku mohon, Kak... Apa kau tahu? Setelah kita bercinta, aku mencoba melakukannya lagi dengan temanku. Tapi rasanya tidak seperti saat bersamamu," imbuh Alena.
__ADS_1
"Kau benar-benar rusak, Al!" timpal Gusti seraya mengusap kasar wajahnya. Dia tak habis pikir dengan pemikiran Alena. Apakah semua remaja yang tinggal di kota memang begitu?
Gusti berbalik badan sejenak karena berusaha tenang dalam menghadapi Alena. Tanpa sepengetahuannya, Alena justru memanfaatkan waktu itu untuk melepas seluruh pakaian.
"Kak!" panggil Alena ketika sudah siap.
Gusti lantas menoleh. Pupil matanya membesar tatkala menyaksikan tampilan bugil Alena.
"Kau--" belum sempat berkata apa-apa, Alena meraup bibir Gusti begitu saja. Cewek nakal itu lantas mengambil peluang untuk melepas baju Gusti.
"Eumph!" Gusti tak kuasa menolak. Apalagi saat dia tak sengaja memeluk tubuh Alena yang tanpa busana.
Suara decapan lidah yang bergulat memecah kesunyian. Gusti bahkan membiarkan Alena melepas bajunya.
"Lihat! Kau juga menyukainya," ucap Alena saat tautan bibirnya dan Gusti terlepas.
Gusti menenggak salivanya sendiri. Dia menarik Alena mendekat karena ingin melanjutkan sesi ciuman. Tetapi cewek itu malah mendorongnya sampai terduduk ke sofa.
Sambil tersenyum nakal, Alena melepas celana Gusti. Dia memanjakan junior lelaki itu seperti menikmati es krim.
Gusti reflek mengangakan mulut. Suasana panas mulai menghujaminya.
__ADS_1