Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik

Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik
Chapter 53 - Masih Melarikan Diri


__ADS_3

Meski sudah keluar dari klub malam, Gusti dan kawan-kawan tetap harus berlari. Itu karena ada polisi yang mengejar mereka.


Widy berusaha berlari sekuat mungkin. Jujur saja, dia kesulitan mengimbangi kecepatan Gusti dan Elang.


"Kalian bisa pelan-pelan nggak? Aku capek!" keluh Widy.


"Kau tidak boleh capek sekarang!" sahut Elang yang masih menyeret Widy agar terus ikut berlari.


"Kita sebaiknya cari tempat aman untuk sembunyi!" usul Gusti dalam keadaan nafas yang ngos-ngosan.


"Gusti benar, El! Itu lebih baik dari pada terus berlari." Widy sependapat dengan Gusti.


Elang tidak menjawab. Dia justru menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya Elang tatkala menyaksikan jumlah polisi yang mengejar bertambah.


"Aku rasa tidak bisa! Lari kita terlalu lambat! Dan ada tiga polisi yang mengejar kita!" seru Elang.


Mendengar ucapan Elang, Gusti dan Widy menoleh ke belakang. Ternyata benar yang dikatakan cowok berambut cepak itu. Mereka lantas berusaha berlari lebih cepat.


Gusti menjadi orang yang berlari lebih dulu. Tanpa sadar dia menuntun kedua temannya ke jalan buntu.


"Sial!" Elang mengumpat saat melihat jalan buntu.


"Ke sini!" Gusti dengan cepat menuntun Elang dan Widy bersembunyi. Kebetulan di jalan tersebut terdapat bak sampah besar.

__ADS_1


Akibat merasa terdesak, Gusti dan kawan-kawan tak punya pilihan selain bersembunyi ke dalam bak sampah. Mereka menutupi tubuh satu sama lain serapat mungkin.


Baru selesai bersembunyi, polisi berdatangan. Meraka tentu bingung melihat orang yang dikejar tiba-tiba hilang.


"Mereka bisa saja bersembunyi di sekitar sini!" imbuh seorang polisi dengan kumis tebal. Dia ditemani oleh kedua rekannya. Mereka lantas menyisir tempat untuk melakukan pencarian.


Deg!


Jantung Gusti dan kawan-kawan rasanya mau copot. Polisi memang tidak bisa dibodohi semudah itu.


"Sialan! Mereka mencari kita!" bisik Widy yang cemas.


"Kita sepertinya tidak bisa terus diam begini," ujar Elang.


"Kalau begitu, begini saja. Aku akan menarik perhatian mereka. Kau dan Widy bisa pergi lebih dulu. Pergilah ke sebelah utara. Setahuku di sana terdapat rel kereta. Kita bertemu di sana!" Elang mengusulkan rencananya.


"Lalu kau?" tanya Widy. Tak mau berpisah dengan Elang.


"Percayalah padaku. Ini bukan pertama kalinya aku berada di situasi begini," ungkap Elang.


Entah kenapa Gusti dan Widy reflek bertukar pandang. Keduanya sama-sama merasa ada sesuatu yang mencurigakan dari sosok Elang. Meski mereka sudah sepenuhnya mengenal Elang, namun lelaki tersebut masih terasa misterius.


"Baiklah kalau begitu. Lagi pula aku sudah tidak tahan dengan bau busuk ini," kata Gusti.

__ADS_1


Elang mengangguk. Dia menutupi wajah untuk berjaga-jaga. Dirinya terpaksa menggunakan plastik bekas yang ada di antara sampah.


Pegangan tangan Widy kini berpindah ke Gusti. Di waktu yang tepat, Elang keluar dari persembunyian sambil batuk.


"Itu dia!" pekik polisi.


Elang pun berlari laju. Semua polisi yang ada langsung mengejarnya. Saat itulah Gusti dan Widy keluar dari tempat persembunyian. Pelarian keduanya berjalan mulus hingga tiba di dekat rel kereta.


Gusti dan Widy yang kelelahan, tumbang ke tanah. Mereka telentang di rerumputan yang sudah mengering.


"Apa Elang berhasil?" tanya Widy. Dia dan Gusti sibuk mengontrol nafas.


"Aku harap begitu. Dia sepertinya sangat berpengalaman," tanggap Gusti.


"Kau benar. Bukankah itu aneh? Kau tadi ingat kan dengan yang dikatakannya?"


"Iya. Ini bukan pertama kalinya dia menghadapi situasi begini."


"Apa menurutmu dia penjahat profesional?" Widy sangat penasaran dengan siapa sebenarnya Elang.


Bersamaan dengan itu, terdengar suara kereta dari kejauhan. Gusti dan Widy segera merubah posisi menjadi duduk.


"Kawan-kawan!" terdengar teriakan Elang dari arah belakang. Gusti dan Widy sontak menoleh. Elang terlihat berlari ke arah mereka. Namun di belakang lelaki tersebut ada dua polisi yang mengejar.

__ADS_1


__ADS_2