Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik

Menjadi Gigolo & Dikelilingi Wanita Cantik
Chapter 38 - Ternyata Anak SMA


__ADS_3

Gusti berbalik menatap Alena. Dia mengerutkan dahi. "Kau seperti anak remaja yang labil," komentarnya.


"Aku memang remaja. Aku kelas tiga SMA," sahut Alena.


"Maka itu lebih gila!" Gusti tercengang. Dia tidak menyangka ada anak SMA yang ingin membayar jasanya.


"Aku mohon Kak Gusti. Aku depresi berat sekarang. Aku sendirian dan membutuhkan seorang teman," mohon Alena seraya menghapus air mata di wajah.


"Aku mau menemanimu. Tapi dengan satu syarat, singkirkan obat-obatan itu!" tegas Gusti.


Alena mengangguk patuh. Dia memasukkan kembali obat-obatan terlarang ke dalam tas. Membuat Gusti tidak jadi pergi meninggalkannya.


Kini Gusti dan Alena duduk di tepi ranjang. Alena memeluk Gusti dari samping sambil menangis.


"Kau sepertinya sangat terpukul. Aku tidak akan bertanya mengenai masalah pribadimu. Tapi aku bisa menemanimu sekarang," ucap Gusti.


Alena mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya. Cewek itu sepertinya benar-benar kesepian.


"Aku benci Papaku. Salah satu alasanku membayarmu karena aku ingin menghabiskan uangnya," ungkap Alena. Dia berhenti menangis dan menatap Gusti. "Hari ini aku juga baru mengetahui perselingkuhan pacarku. Aku melihatnya bercinta di mobil dengan cewek lain," sambungnya.

__ADS_1


"Apa kau merasa masalah akan selesai setelah membayar dan mendapat layananku?" tanya Gusti. Dia sebenarnya merasa kasihan pada Alena.


"Mungkin..." jawab Alena meragu.


"Aku sebenarnya juga penasaran ingin melakukannya. Pacarku tidak pernah sekali pun menyentuhku. Tapi dia melakukannya dengan mudah pada cewek lain!" ungkap Alena.


"Bukankah itu artinya kau masih perawan?" tanya Gusti yang langsung dijawab Alena dengan anggukan.


"Kau tidak harus melakukan semua ini. Kau masih muda, jangan rusak masa depanmu!" ujar Gusti.


"Kau juga masih muda. Lalu kenapa kau melakukan ini?" balas Alena. Membuat Gusti sontak tertohok.


"Ayolah, Kak. Aku mohon... Aku juga akan membayarmu. Biarkan aku menghabiskan uang Papaku," pinta Alena.


Gusti menatap Alena. "Kau yakin tidak akan menyesal?" tanyanya.


"Enggak!" Alena menggeleng tegas.


Gusti mendengus kasar. Dia memegangi wajah Alena dan perlahan memagut bibit cewek tersebut. Keduanya berciuman dalam beberapa menit.

__ADS_1


Gusti sengaja memberikan sentuhan lembut pada Alena. Ia membuka kancing baju cewek itu. Pupil matanya membesar ketika menyaksikan ada banyak memar di badan Alena. Hal tersebut membuat Gusti berhenti sejenak.


"Ini juga salah satu alasan kenapa aku sangat depresi..." lirih Alena memberitahu.


Gusti tersenyum dan melanjutkan cumbuannya lagi. Alena lantas mulai terangsang.


"Aku tidak tega mengambil keperawananmu. Tapi aku ingin kau merasakan kenikmatan agar bisa melupakan masalahmu," ujar Gusti.


"Tapi, Kak. Eumph--" Alena tak sempat bicara. Bibirnya dibekap Gusti dengan ciuman. Sambil melakukan itu, Gusti memainkan jari-jemarinya di alat vital Alena.


Semakin lama, Alena bisa merasakan gairah kian memuncak. Hingga akhirnya dia menggapai puncak kenikmatan. Erangan Alena nyaring sekali karena itu pertama kalinya dia merasakannya.


Tubuh Alena mengejang dalam beberapa saat. Dia berpegangan erat ke bahu Gusti. Setelah merasakannya, Alena tersenyum.


"Bagaimana? Apa kau lebih rileks?" tanya Gusti. Dia menghentikan pergerakannya dan telentang di sebelah Alena.


"Iya. Ternyata begini rasanya..." kata Alena. Dia menatap Gusti. "Apa melakukan hubungan intim rasanya akan lebih enak dari ini?" tanyanya.


Gusti membalas tatapan Alena. "Aku tidak tahu. Tapi yang kutahu, perempuan akan merasa sakit melakukannya saat pertama kali. Makanya aku tidak melakukan itu padamu," sahutnya.

__ADS_1


"Aku tahu rasanya sakit. Tapi aku tak peduli," tanggap Alena. Gusti sekali dibuat tercengang oleh cewek SMA itu.


__ADS_2