
Elang tersenyum tipis mendengar pertanyaan Widy. Dia memegangi wajah cewek itu.
"Jika aku mengatakannya, apa kau tetap mencintaiku seperti sekarang?" tanya Elang.
"Aku rasa begitu. Perasaanku tidak akan berubah," jawab Widy.
Elang lantas memberitahu Widy mengenai pekerjaannya sebagai gigolo. Dengan pekerjaan itu pula dia mengaku bisa membangun usaha cafe.
"Karena itulah aku sempat ragu menjalin hubungan denganmu. Terlebih aku berusaha ingin membangun hubungan yang serius dengan seseorang," ungkap Elang.
Widy melebarkan kelopak matanya. Dia merasa tak percaya Elang ternyata memiliki pekerjaan yang mirip dengannya.
"Ini benar-benar takdir yang aneh," ucap Widy.
"Aku juga berpikir begitu. Tapi kau tidak pernah menyerah padaku. Apa kau akan menyerah setelah mengetahui kebenaran ini?" Elang bertanya sambil memancarkan tatapan lekat.
"Kau tidak akan melakukan pekerjaan itu selamanya kan?" Widy memastikan.
"Tentu saja tidak. Sekarang aku berupaya meninggalkannya secara perlahan. Apalagi bisnis cafeku sedang berkembang baik," tanggap Elang tenang.
"Kalau begitu, itu sama sekali bukan masalah bagiku." Widy mengalungkan tangannya ke leher Elang. Dia segera mencium bibir lelaki itu. Mereka lanjut bercumbu di kamar mandi.
Ketika merasa sudah saling terpuaskan, Elang dan Widy membersihkan diri. Keduanya saling membilas sabun ke badan satu sama lain. Sesekali mereka akan tertawa karena bercanda.
__ADS_1
Puas mandi bersama, Elang dan Widy saling mengenakan handuk. Widy tampak berdiri di depan wastafel. Sebagai perempuan, dia mengurus wajahnya dengan krim pencerah.
"Kau bilang tubuh atletismu adalah bukti tentang banyaknya masalah berat dalam hidupmu. Seberat apa itu? Aku penasaran," cetus Widy.
"Itu cerita yang sulit dan menyakitkan untuk diceritakan. Kalau bisa, aku ingin menghapusnya dari ingatanku," sahut Elang.
"Seburuk itu kah?" Widy menatap Elang melalui cermin. Cowok tersebut mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Sangat buruk. Aku pria yang sangat buruk, Wid..." kata Elang seraya meletakkan dagu ke pundak Widy. Ekspresinya terlihat sendu. Seolah ingatan tentang masa lalu tersebut begitu mengganggu.
"Ya sudah. Aku tidak akan bertanya lagi." Widy memegang tangan besar Elang. Dia memutuskan akan fokus pada hubungannya dan lelaki itu sekarang.
...***...
Gusti sudah selesai mandi. Dia langsung mendatangi dapur dalam keadaan hanya melilitkan handuk ke pinggul.
"Aku tidak telanjang! Kau berlebihan sekali," tanggap Gusti.
"Bisa-bisanya kau bilang begitu! Apa kau tidak malu? Cepat pakai bajumu!" suruh Mawar.
"Ayolah, War. Lagi pula kita hanya teman. Kau harus terbiasa dengan ini." Gusti malah duduk untuk menikmati sarapan. Mengingat perutnya sudah sangat lapar.
Mawar memberanikan diri membuka mata. Dia melakukannya dengan perlahan. Sampai akhirnya bisa melihat Gusti bertelanjang dada.
__ADS_1
Wajah Mawar seketika memerah. Ia berusaha menyembunyikan perasaan malunya dengan menundukkan wajah.
"Aku sebaiknya pulang sekarang," kata Mawar sembari mengambil tas. Dia lebih baik pergi dari pada tersiksa akibat salah tingkah.
"Bukan kah kita akan sarapan bersama?" tanya Gusti heran.
"Aku sudah sarapan!" sahut Mawar yang bergegas ingin pergi. Saat berucap begitu, terdengar suara keroncongan dari perutnya. Perut Mawar sepertinya tidak setuju dengan apa yang di ucapkan gadis tersebut.
"Kau yakin? Aku bisa dengar cacing dalam perutmu berdemo barusan." Gusti terkekeh. Dia berdiri dan menghampiri Mawar. Menyuruh gadis itu untuk duduk.
"Makanlah! Aku akan memakai baju dulu kalau itu membuatmu lebih nyaman," tutur Gusti sembari beranjak ke kamar.
Usai mengenakan pakaian, Gusti kembali ke meja makan. Dia sarapan bersama Mawar.
Kala itu Mawar tidak bisa menahan diri untuk terus melirik Gusti. Jantungnya selalu berdebar kencang saat bersama lelaki tersebut.
"Boleh aku bertanya tentang sesuatu?" imbuh Mawar.
"Tentang apa?" tanggap Gusti.
"Apa kau punya pacar selama tinggal di sini?" tanya Mawar. Jujur saja, noda lipstik yang dia lihat di baju Gusti sangat mengganggu.
..._____...
__ADS_1
Catatan Author :
Guys, ada yang tertarik sama cerita masa lalu Elang? Kalau ada, mungkin nanti author tuliskan di novel terpisah. Ceritanya lebih gelap dan liar. Kemungkinan settingnya menceritakan Elang di masa SMA.