
Elang menarik tangannya dari Widy. Dia perlahan menepikan mobil ke pinggir jalan. Kebetulan Elang memang sudah sampai di apartemen Widy.
"Pulanglah dan bersihkan dirimu. Kita bisa bicara lagi setelah kau lebih tenang," saran Elang tanpa menatap Widy.
Widy tidak mengatakan apapun. Dia sibuk mengurus air matanya yang berjatuhan. Widy pun memilih keluar dari mobil seperti yang di inginkan Elang. Dalam sekejap, mobil Elang melaju dengan cepat.
Widy mematung di tempat sambil memandangi kepergian Elang. Dia masih berusaha berhenti menangis.
Di sisi lain, Gusti tiba di apartemennya. Mawar langsung menyambut kedatangan lelaki tersebut.
"Kau kemana saja?! Kenapa baru pulang..." Mawar tidak melanjutkan kalimatnya saat mencium bau badan Gusti. Dia bisa mencium aroma alkohol dan keringat dari sana.
"Aku mandi dulu. Setelah itu baru kita bicara," kata Gusti yang buru-buru masuk ke kamar mandi.
Mawar hanya bisa diam sembari melayangkan tatapan bingung. Dia lantas duduk dan akan sabar menunggu.
Selang sekian menit, Gusti selesai membersihkan diri. Dia segera duduk ke sebelah Mawar.
__ADS_1
"Maaf aku telat pulang. Aku ketiduran di rumah Elang. Kebetulan ada tugas kuliah yang harus diselesaikan," tutur Gusti. Dia terpaksa berbohong karena tak mau membicarakan perihal obat terlarang. Apalagi obat itu juga sudah membuatnya meniduri kekasih temannya sendiri.
"Tapi kenapa badanmu baunya aneh?" tanya Mawar. Mengingat dia tidak pernah sekali pun mencium bau miras yang sebenarnya.
"Maaf. Bau keringat kan ya? Aku terpaksa pulang jalan kaki tadi." Gusti kembali berkilah.
"Kenapa tidak naik bus atau taksi? Elang kenapa tidak mengantarmu?" cecar Mawar yang merasa cemas. "Kau pasti lelah..." sambungnya seraya memijit bahu Gusti. Namun dia salah tingkah karena keadaan lelaki itu sedang bertelanjang dada.
"Iya. Lumayan capek, Sayang. Pijitin sebelahnya juga deh," balas Gusti menggoda. Dia sengaja bersikap begitu agar kebohongannya tidak berlanjut.
"Kan kita sudah pacaran?" goda Gusti lagi.
Mawar menggelengkan kepala. Meskipun begitu, dia tetap memberi pijitan pada bahu Gusti. Mawar melakukannya dengan cara menghadap cowok itu.
Gusti mendongakkan kepala sembari memejamkan mata. Dia menikmati pijitan Mawar.
Berbeda dengan Mawar yang terpaku menatap Gusti. Sambil memijit, dia memperhatikan lelaki tersebut. Jantung Mawar selalu berdegup kencang saat melihat paras tampan Gusti. Terlebih rambut lelaki itu masih agak basah karena baru selesai mandi.
__ADS_1
Mawar menggigit bibir bawahnya. Terutama saat mengingat bagaimana Gusti mengambil keperawanannya tempo hari. Meski sakit, Mawar masih bisa mengingat rasa nikmatnya. Dia jadi tergoda ingin melakukannya lagi.
Alhasil Mawar berhenti memijit. Ia pegang dagu Gusti, lalu dipagutnya bibir lelaki tersebut.
Mata Gusti yang tadinya terpejam, langsung terbuka lebar. Dia cukup kaget dengan ciuman Mawar. Mengingat cewek itu tidak pernah bersikap begitu sebelumnya.
"War..." Gusti mendorong pelan Mawar hingga tautan bibirnya terlepas dari cewek tersebut.
"Kenapa? Apa pacarmu ini dilarang menyentuhmu?" tanya Mawar.
Gusti tercengang. Dia agak kaget melihat Mawar yang mulai berubah. Akhirnya Gusti membiarkan cewek itu melanjutkan sesi ciuman. Mawar bahkan melanjutkan ke tahap lebih intim, yang menandakan kalau dirinya ingin bermain dengan Gusti lagi.
'Sial!' Gusti merutuk dalam hati. Dia ingin menolak Mawar karena merasa sudah lelah melakukannya dengan Widy tadi malam. Tetapi Gusti terpaksa menahannya agar Mawar tidak curiga atau kecewa.
Selesai bercinta, Mawar langsung masuk ke kamar mandi. Sementara Gusti terkulai lemah di sofa. Dia beberapa kali meremas pinggangnya yang terasa pegal sekali.
"Ugh, pegal sekali. Rasanya pinggangku hampir patah," keluh Gusti.
__ADS_1