
"Kau benar! Ayo kita pergi ke cafe Elang. Dia pasti di sana." Widy berdiri. Dia sudah menghabiskan jajanan yang dirinya makan.
"Sekarang?" Gusti memastikan.
"Tahun depan. Ya iyalah sekarang! Ayo!" Widy menarik tangan Gusti. Keduanya berkendara menuju cafe elang.
Setibanya di tempat tujuan, Widy langsung melangkah masuk lebih dulu ke cafe. Ia menanyakan keberadaan Elang pada pelayan.
Sementara Gusti hanya melihat dari kejauhan. Sampai sosok yang dicari Widy akhirnya muncul. Elang dan Widy segera bicara empat mata.
Gusti mendengus kasar. Dia sebenarnya ingin pulang, namun di sisi lain dirinya tidak tega meninggalkan Widy. Takut kalau Elang akan bersikap kurang ajar pada cewek itu.
Di saat Gusti merasa cemas, Elang dan Widy bicara berdua. Mereka sedang berada di balkon cafe yang sepi.
"Aku bisa menebak apa yang ingin kau bicarakan. Jadi aku akan menjawab langsung saja. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Aku tidak tertarik padamu lagi," ucap Elang.
"Apa semua ini karena kau sudah tahu kalau aku sugar baby?" tanggap Widy yang merasa kecewa.
"Menurutmu? Di dunia ini lelaki mana yang mau pacarnya bekerja seperti itu," balas Elang.
"Kalau kau mau, aku akan berhenti untukmu. Tapi setelah aku mengumpulkan uang yang cukup untuk kuliah dan masa depanku," ujar Widy.
__ADS_1
"Apa kau begitu menyukaiku?" tanya Elang.
"Bukankah harusnya kau tahu? Aku tidak pernah memacari lelaki sepertimu sebelumnya. Kau benar-benar tipeku," ungkap Widy.
"Apa yang kau suka dariku? Permainan ranjangku?" Elang menebak seraya menarik sudut bibirnya ke atas.
"Bukan itu saja. Tapi--"
"Kau sama saja. Aku rasa hubungan ini tidak bisa berjalan baik kalau kita begini," potong Elang. Dia berjalan mendekati Widy. "Kalau kau mau, kita bisa menjalani hubungan sebagai teman ranjang saja. Kau bisa datang padaku kalau sedang butuh--"
Plak!
"Kau tahu apa yang membuatku frustasi? Jatuh cinta pada lelaki bajingan sepertimu!" timpal Widy. Dia ingin bergegas pergi dari hadapan Elang. Akan tetapi tangan sigap memegangi tangannya.
"Apa kau tahu?! Biasanya para wanita memang selalu jatuh cinta pada lelaki sepertiku!" kata Elang sembari memegangi dagu Widy. Dia menarik perempuan itu lebih dekat, kemudian mellumat bibirnya dengan ganas.
"Mmmph!" Widy memberontak. Namun ciuman menggebu dari Elang membuatnya harus terbuai.
Perlahan Elang memojokkan Widy ke dinding. Ia memegangi kedua tangan cewek itu ke atas.
Di pertengahan, Elang melepas ciumannya sejenak. Dia membuat Widy bernafas tersengal-sengal.
__ADS_1
"Apa kau tidak punya jadwal bersama Om-Om hari ini?" tanya Elang.
"Kalau ada, kenapa?!" sahut Widy dengan wajah menantang.
"Tidak apa-apa," ucap Elang sambil tersenyum miring. Satu tangannya perlahan masuk ke dalam rok Widy. Ia menyentuh bagian tubuh paling sensitif Widy dan bermain jari di sana.
Widy lantas mendongak seraya menggigit bibir bawahnya. Dia ingin menghentikan Elang, tetapi lagi-lagi terbuai dengan kenikmatannya.
Di sisi lain, Gusti merasa bosan menunggu. Dia juga ingat kalau dirinya harus menemui Karin dua jam lagi.
Karena ingin pulang, Gusti mencari Widy dan Elang untuk pamit. Dengan pemberitahuan dari pelayan cafe, dia berjalan menaiki tangga menuju balkon.
"Akh! Aakhh!"
Pupil mata Gusti membesar ketika mendengar teriakan itu. Dia yakin yang berteriak adalah Widy. Dirinya mengira Elang menyakiti cewek tersebut.
Gusti pun berlari ke arah sumber suara. Tetapi langkahnya harus terhenti tatkala menyaksikan pemandangan tak terduga. Teriakan Widy tadi ternyata bukan karena kesakitan, melainkan karena cewek itu merasakan orgas-me. Semuanya terjadi karena layanan jari-jemari Elang.
Buru-buru Gusti bersembunyi ke balik dinding. Dari sana dia bisa mendengar Widy terus melenguh. Tak berapa lama, erangannya kembali menjadi-jadi saat mencapai puncak untuk yang kesekian kali.
'Begitukah cara permainan Elang?' batin Gusti. Karena penasaran, dia memberanikan diri untuk mengintip.
__ADS_1